Bagikan:

JAKARTA — Dudy Purwagandhi memastikan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara penyesuaian tarif tiket pesawat dan perlindungan daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga energi global.

Dia mengatakan, kenaikan harga avtur yang dipicu lonjakan harga minyak mentah dunia akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah menekan biaya operasional maskapai.

Untuk meredam dampaknya terhadap tarif tiket pesawat, pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya dengan menyesuaikan komponen fuel surcharge (FS).

“Sejumlah strategi dilakukan agar kenaikan harga tiket pesawat dapat ditekan,” ujar Dudy dilansir ANTARA, Selasa, 7 April.

Dia menjelaskan, penyesuaian fuel surcharge ditetapkan menjadi 38 persen, dari sebelumnya 10 persen untuk pesawat jet dan 25 persen untuk pesawat propeller.

Menurut Dudy, kebijakan tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan industri penerbangan nasional yang menghadapi tekanan biaya operasional dan perlindungan terhadap konsumen.

Selain penyesuaian fuel surcharge, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal untuk menahan lonjakan tarif.

Salah satunya melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat domestik kelas ekonomi.

Dengan skema tersebut, pemerintah menyiapkan subsidi sekitar Rp1,3 triliun per bulan, atau Rp2,6 triliun untuk periode dua bulan.

Pemerintah juga menghapus bea masuk suku cadang pesawat (spare part) untuk menekan biaya perawatan dan operasional maskapai.

“Diharapkan kebijakan ini turut mengurangi beban maskapai penerbangan nasional,” kata Dudy.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut harga avtur memiliki kontribusi signifikan terhadap struktur biaya maskapai.

Menurutnya, avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional penerbangan.

Karena itu, pemerintah berupaya memastikan kenaikan tarif tiket tetap terkendali.

“Pemerintah menjaga agar kenaikan harga tiket hanya di kisaran 9 persen hingga 13 persen,” ujar Airlangga.