JAKARTA – Dampak perang Iran mulai lebih dulu menghantam ekonomi Asia-Pasifik. Kawasan ini kini menghadapi pukulan ganda yakni harga minyak melonjak dan mata uang terus melemah. Bagi banyak pemerintah di Asia, situasinya rumit. Pilihan kebijakannya sempit, tetapi tekanan datang lebih dulu.
The Straits Times dikutip Senin, 30 Maret melaporkan, Asia membeli sekitar 80 persen minyak yang dikirim melalui Selat Hormuz. Menurut analis komoditas J.P. Morgan, kawasan ini terancam kekurangan pasokan yang bisa memburuk hingga April dan Mei. Artinya, otoritas di banyak negara harus bergerak cepat.
Tekanannya sudah terasa di lapangan. Di Manila, pengemudi jeepney menghadapi harga solar yang sudah melonjak tiga kali lipat. Di Vietnam, ancaman kekurangan bahan bakar pesawat mulai membayangi. Di Korea Selatan, perusahaan kosmetik besar sibuk mencari resin plastik untuk kemasan produk perawatan kulit mereka.
Seperti kawasan lain, Asia juga menghadapi ancaman inflasi yang naik dan pertumbuhan yang terganggu. Namun, dampaknya di Asia lebih tajam karena ketergantungan kawasan ini pada energi impor sangat besar.
BACA JUGA:
The Straits Times menyebut, mata uang Asia yang sebelumnya sudah rapuh kini terseret lebih dalam. Rupee India, rupiah Indonesia, dan peso Filipina pada Maret menyentuh rekor terendah terhadap dolar AS. Yen Jepang dan won Korea Selatan juga jatuh ke titik rendah.
“Masalah utamanya adalah mata uang Asia memang sudah terlalu lemah sejak awal,” kata Alicia Garcia Herrero, kepala ekonom Asia-Pasifik Natixis di Hong Kong kepada The Strait Times. Menurut Alicia, bank sentral juga tak punya banyak ruang karena tekanan inflasi membuat pemangkasan suku bunga makin sulit.
Dolar AS, yang kembali menjadi aset aman, menguat tajam di Asia. Kenaikannya bahkan lebih dari 4 persen terhadap won, peso, dan baht Thailand, jauh di atas penguatan terhadap euro.
Masalahnya, tak ada jalan keluar yang mudah. Menaikkan suku bunga berisiko menekan ekonomi saat dukungan justru dibutuhkan. Subsidi bahan bakar mahal dan bisa memukul anggaran. Intervensi di pasar valuta asing juga berisiko dan menguras cadangan devisa.
“Saya kira inti persoalannya adalah tidak ada pilihan kebijakan yang mudah pada tahap ini,” kata Sonal Varma, kepala ekonom Nomura untuk Asia di luar Jepang.
The Straits Times menyebut, Australia sudah menaikkan suku bunga sejak perang pecah pada akhir Februari. Korea Selatan memakai dana pensiun nasionalnya untuk membantu melindungi won. India dan Indonesia juga membela mata uang masing-masing sambil mengubah mekanisme pasar. Jepang kembali memberi sinyal intervensi, sedangkan Filipina menetapkan keadaan darurat dan menggelar rapat kebijakan mendadak.
Ekonom Asia HSBC, Fred Neumann, kepada The Straits Times mengatakan tidak ada cetak biru yang jelas untuk menghadapi krisis seperti ini. Menurut Neumann, negara-negara Asia pada dasarnya hanya bisa menahan laju pelemahan, bukan mengubah arah pasar sepenuhnya.