Bagikan:

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak dunia melonjak. Di tengah harga Brent yang disebut sudah menyentuh 116 dolar AS per barel, ia menegaskan APBN masih sanggup menahan guncangan.

Di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 19 Maret, Purbaya mengatakan kondisi anggaran masih aman. Salah satu langkah yang disiapkan adalah penghematan belanja. Menurut Menkeu, pemangkasan 10 persen masih bisa dilakukan tanpa masalah.

“10 persen pangkas nggak ada masalah,” kata Purbaya.

Ia menambahkan, rincian langkah yang akan ditempuh pemerintah segera diumumkan. Yang pasti, defisit APBN tidak akan dibiarkan menembus 3 persen dari produk domestik bruto.

“Aman itu, saya nggak akan tembus 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Saat ditanya apakah perjalanan dinas pejabat akan kembali dipangkas, Purbaya mengakui hal itu sudah dibahas dalam rapat sebelumnya. Namun, keputusan final belum diambil.

Purbaya juga membeberkan hitungan kasar pemerintah bila harga minyak rata-rata naik ke 100 dolar AS per barel. Menurutnya, jika pemerintah diam saja, belanja tetap dan pendapatan tidak dinaikkan, defisit bisa melebar hingga 3,6 persen. Karena itu, pemerintah menyiapkan serangkaian langkah agar batas 3 persen tetap terjaga.

Selain penghematan, pemerintah juga akan mengandalkan tambahan penerimaan, termasuk windfall profit. Dengan kombinasi itu, Purbaya yakin tekanan harga minyak masih bisa ditahan.

Yang paling tegas, ia memastikan beban itu tidak akan dilempar ke masyarakat lewat kenaikan BBM subsidi.

“Tidak,” jawab Purbaya saat ditanya kemungkinan harga BBM subsidi naik.