JAKARTA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan stok BBM menjelang Idulfitri dalam kondisi aman, namun ia sekaligus membuka masalah yang kerap luput yaitu daya tampung (storage) BBM Indonesia memang mentok di kisaran 21–25 hari. Karena itu, angka persediaan 22–23 hari yang ramai dipersoalkan belakangan, menurutnya, tidak boleh dibaca sebagai ketidakmampuan pemerintah menyiapkan stok.
“Jangan disalah persepsikan,” kata Bahlil saat ditemui di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 4 Maret. Ia menyebut rapat bersama Dewan Energi Nasional dan Pertamina menyimpulkan stok BBM jelang Lebaran “insya Allah semua aman,” termasuk LPG. Kondisi itu, kata dia, tetap dijaga meski ada dinamika global, termasuk eskalasi Iran dan Israel.
Bahlil juga memastikan harga BBM subsidi tidak naik sampai Hari Raya. “Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan apa-apa,” ujarnya. Sementara BBM non-subsidi, ia menekankan, mengikuti mekanisme pasar sesuai aturan (permen) yang ia sebut terbit tahun 2022.
Soal kapasitas, Bahlil memaparkan kemampuan storage nasional “tidak lebih dari 21 sampai 25 hari.” Standar minimal nasional, menurutnya, 20–21 hari, dengan batas atas 25 hari. Data yang ia terima dari Pertamina dan Dewan Energi Nasional, rata-rata stok berada di 22–23 hari.
BACA JUGA:
Pertanyaan berikutnya, kata Bahlil, sederhana secara terus terang. Jika mau menambah stok lebih dari 25 hari, mau disimpan di mana? “Storage-nya nggak cukup,” ujarnya. Karena itulah, ia menyebut Prabowo Subianto memerintahkan percepatan pembangunan storage agar ketahanan energi tidak terus bergantung pada “batas tangki”.
Targetnya, kata Bahlil, storage baru itu diupayakan mampu menopang cadangan sampai tiga bulan. Angka yang ia sebut sebagai standar minimum konsensus global.