JAKARTA - Komisi XI DPR RI resmi memulai rangkaian uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) terhadap calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Adapun Solikin M. Juhro menjadi kandidat pertama yang menjalani proses tersebut dan saat ini, dirinya menjabat sebagai Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI.
Dalam paparannya di hadapan Komisi XI, Solikin mengusung tema kebijakan bertajuk Memperkuat Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi, Berdaya Tahan dan Inklusif untuk Indonesia Maju.
Solikin menilai, tema tersebut strategis dan relevan karena selaras dengan arah kebijakan pemerintah serta mencerminkan aspirasi masyarakat Indonesia.
Menurutnya, visi tersebut penting untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) yang hingga kini masih menjadi tantangan.
"Tema ini kami pandang strategis dan relevan karena sejalan dengan arah kebijakan pemerintah, serta aspirasi seluruh masyarakat Indonesia guna mewujudkan Indonesia maju dan mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap yang hingga saat ini masih menjadi tantangan," ujarnya dalam rapat bersama Komisi XI, Jumat, 23 Januari.
Dia menegaskan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan, diperlukan penguatan stabilitas makroekonomi dan keuangan sebagai fondasi utama.
Menurutnya, stabilitas tersebut menjadi prasyarat agar proses transformasi ekonomi dapat berjalan secara sehat dan memberikan manfaat yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Solikin juga mengutip filosofi leluhur sangkan paraning dumadi, yang menekankan kesadaran akan asal-usul dan tujuan akhir kehidupan.
Menurutnya, filosofi ini mengajarkan bahwa keberadaan individu, lembaga, dan bangsa memiliki tujuan mulia, yakni mewujudkan kemaslahatan bersama melalui keseimbangan nilai, niat, dan tindakan.
Selain itu, Solikin turut merujuk pemikiran Prof. Sumitro Djojohadikusumo atau yang sering disebut Sumitronomics yang menekankan bahwa tantangan utama ekonomi Indonesia adalah membangun perekonomian nasional yang kuat dengan bertumpu pada kemampuan sendiri serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat.
"Pemikiran itu menegaskan pentingnya membangun fondasi ekonomi yang kokoh bertumbuh pada kekuatan domestik dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan Masyarakat," tuturnya.
Dia menjelaskan dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi tidak semata diukur dari besaran angka, tetapi juga dari kualitasnya dalam memperkuat struktur ekonomi nasional dan memperluas kemakmuran.
Menurutnya, untuk mewujudkan pertumbuhan yang tinggi, tangguh, dan inklusif diperlukan penguatan sektor domestik, stabilitas sistem keuangan, serta kebijakan yang adaptif terhadap dinamika global.
Sebagai informasi, Solikin memulai kariernya di Bank Indonesia sejak 1994.
BACA JUGA:
Dia pernah menjabat sebagai Kepala Institut BI pada periode 2017–2022, serta Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter pada 2022–2023.
Dari sisi pendidikan, Solikin memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang ekonomi.
Dia meraih gelar sarjana Ekonomi dan Studi Pembangunan dari Universitas Airlangga pada 1991, kemudian memperoleh gelar Master of Applied Economics dari University of Michigan pada 1998.
Selanjutnya, ia menyelesaikan pendidikan magister ekonomi di University of Maryland pada 2001 dan meraih gelar doktor di bidang Ekonomi Moneter dari Universitas Indonesia pada 2005.