Bagikan:

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mulai merehabilitasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Rantau dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) di Aceh Tamiang pascabanjir bandang akhir November 2025 lalu.

Saat ini, Kementerian PU tengah menyiapkan penanganan TPA Rantau di Kabupaten Aceh Tamiang meliputi perbaikan sel landfill eksisting, pembangunan sel landfill baru, perbaikan jalan akses serta pengadaan alat berat.

Hingga 27 Desember 2025, progres yang telah dilakukan antara lain pengangkutan sampah dan lumpur dari rumah sakit, pasar serta kawasan permukiman ke area disposal, pembersihan jalan akses menuju TPA hingga pemesanan geotekstil untuk perkuatan sel landfill.

Di samping itu, Kementerian PU pun merencanakan pemulihan infrastruktur sanitasi sekaligus meningkatkan infrastruktur pengelolaan sanitasi agar sistem pengelolaan sampah dan air limbah domestik kembali berfungsi secara normal dan berkelanjutan.

Langkah tersebut mencakup pengadaan truk tinja, tangki septik beserta bioaktivator serta pendampingan tata kelola dan penyusunan studi teknis apabila diperlukan.

Di sektor air limbah, Kementerian PU juga melakukan penanganan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja Kabupaten Aceh Tamiang mencakup perbaikan jalan akses, pembersihan IPLT eksisting serta rehabilitasi unit bak pengolahan, termasuk bak anaerobik, fakultatif, maturasi hingga wetland.

Adapun progres per 27 Desember 2025, telah dilaksanakan pembersihan jalan akses menuju IPLT dan pembersihan lumpur pada bak pengolahan sebagai langkah awal pemulihan fungsi layanan.

Tak hanya itu, Kementerian PU juga mengusulkan penerapan teknologi sanitasi ramah lingkungan melalui pengadaan Net-Zero Toilet 5.0 sebagai bagian dari inovasi peningkatan layanan sanitasi ke depan.

Sementara pada fase tanggap darurat, Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh Ditjen Cipta Karya Kementerian PU memfokuskan upaya pada penyelesaian sisa volume sampah dan material pascabencana yang menghambat akses serta berpotensi menimbulkan masalah kesehatan lingkungan.

Selain itu, dilakukan penyediaan layanan air limbah domestik dan limbah tinja dengan memobilisasi toilet portable, toilet mobile serta toilet knock down untuk mendukung kebutuhan sanitasi darurat masyarakat terdampak.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, infrastruktur air dan sanitasi layak dan merata sangat penting dalam kondisi bencana seperti di Sumatera.

"Karena dalam kondisi bencana tidak hanya sebatas pemenuhan pangan saja, ketersediaan air dan infrastruktur juga sangat penting," ucap dia dalam keterangan tertulis, Senin, 29 Desember.