Bagikan:

JAKARTA - Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) kembali memfasilitasi mobilisasi cabai dari Provinsi Aceh ke Kota Medan, Sumatera Utara. Total volume cabai yang dimobilisasi mencapai 3,5 ton.

Deputi Ketersediaan dan Stabilitas Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pengiriman cabai dari Aceh ke Medan merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan stabilitas pasar, khususnya menjelang momentum Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

"Pengiriman cabai dari Aceh ke Medan dilakukan seiring dengan upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga cabai juga membantu para petani di wilayah Aceh agar produksi mereka terserap dengan baik," ujar Ketut dalam keterangannya, Jumat, 26 Desember 2025.

Cabai hasil panen petani di Kabupaten Bener Meriah tersebut diangkut menggunakan pesawat Airbus CN-295M milik Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) dan mendarat di Pangkalan Udara Soewondo Medan sekitar pukul 15.00 WIB, Kamis, 25 Desember 2025. Setibanya di bandara, cabai langsung dibongkar dan ditangani offtaker untuk selanjutnya disalurkan ke pasar.

Menurut Ketut, 3,5 ton cabai yang diangkut tersebut terdiri atas cabai merah keriting (CMK) sebanyak 2,5 ton dan cabai rawit merah (CRM) sebanyak 1 ton. Seluruh komoditas tersebut diserap offtaker di wilayah Medan dengan harga pembelian CMK sebesar Rp18.000 per kilogram dan CRM Rp25.000 per kilogram.

"Peran offtaker yang menyerap produksi cabai petani Aceh dengan harga yang wajar ini sangat penting sehingga keseimbangan antara kepentingan petani dan stabilitas pasar dapat terjaga."

"Apalagi pada momentum Natal dan Tahun Baru di Sumut perlu kami pastikan pasokan pangan aman dan harga stabil," kata Ketut.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada TNI Angkatan Udara yang telah mendukung distribusi cabai dari Aceh ke Medan.

"Terima kasih dan apresiasi kami sampaikan kepada TNI Angkatan Udara dengan pesawat Airbus CN-295M yang telah mengangkut serta mendistribusikan cabai dari petani Aceh ini ke Medan," tutur.

Sebelumnya, Bapanas dan Kementan juga memfasilitasi pengangkutan cabai dari Aceh ke Jakarta menggunakan pesawat Hercules sebanyak 40 ton.

Langkah tersebut dilakukan setelah Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, merespons laporan kepala daerah di Aceh terkait melimpahnya produksi cabai yang sulit dipasarkan pascabencana.

"Petani kita, termasuk cabai, tidak boleh rugi. Mereka harus kita bantu. Hasil jerih payah mereka harus terdistribusikan dengan baik ke daerah konsumen yang membutuhkan pasokan, seperti Jakarta. Ini telah kami lakukan," kata Amran saat meninjau kedatangan 40 ton cabai di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Rabu, 17 Desember 2025.

Adapun secara nasional, neraca ketersediaan dan kebutuhan cabai dipastikan aman dan cukup. Mengacu pada Proyeksi Neraca Pangan, cabai besar produksi bulanannya diestimasikan meningkat 22,3 persen pada Desember dibandingkan November. Cabai besar pada Desember dapat mencapai produksi 127.800 ton, sementara November mencapai 104.500 ton.

Sementara produksi cabai rawit pada Desember 2025 ini diperkirakan dapat mencapai 108.600 ton. Dari itu, kebutuhan konsumsi cabai rawit bulanan secara nasional untuk cabai besar dan cabai rawit merah berada di kisaran 76.000 sampai 78.000 ton. Dengan begitu, produksi bulanan masih cukup memenuhi kebutuhan konsumsi.

Selain itu, stok cabai besar dan cabai rawit secara nasional sampai akhir tahun 2025 ini juga masih dalam level yang mencukupi. Untuk cabai besar diestimasikan stok sampai akhir tahun di 63.400 ton. Sementara stok sampai akhir tahun cabai rawit berada di kisaran 49.300 ton.