JAKARTA - Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir menyebut bahwa proyek Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WTE) tidak akan mengganggu kebutuhan batu bara dalam negeri.
Pandu bilang pembelian batu bara yang telah dikontrak akan terus terjalin. Terutama untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
“Batu bara kan selalu base load. Jadi, enggak ada perubahan dari batu bara yang sudah di-contracted,” kata Pandu dalam media briefing di Jakarta, Senin, 3 November.
Pandu bilang pemerintah juga sudah menetapkan domestic market obligation (DMO) atau kewajiban pemenuhan batubara dalam negeri sebesar 30 persen. Karena itu, dia yakin proyek PSEL ini tidak akan mengubah permintaan terhadap suplai batu bara.
Sekadar informasi, listrik yang dihasilkan dari proyek PSEL ini akan dijadikan sumber atau penggerak pembangkit listrik milik PT PLN (Persero).
Di sisi lain, Pandu bilang, proyek PSEL ini sekaligus untuk memenuhi target pembangkit listrik energi terbarukan sebesar 69,5 gigawatt (GW) dalam sepuluh tahun ke depan.
“Jangan lupa juga ini juga untuk memenuhi yang tadi 69 renewable energy yang ingin dilakukan oleh PLN ke depan,” ujar Pandu.
Sementara, Managing Director Investment Dananta, Stefanus Ade Hadiwidjaja bilang kehadiran proyek PSEL ini bukan untuk mencari keuntungan, tapi untuk menangani masalah penumpukan sampah di kota-kota besar.
BACA JUGA:
Contoh, sambung Stefanus, sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bantar Gebang yang diyakini bisa diolah untuk proyek PSEL.
“Jadi total sampah yang terkumpul di Bantar Gebang per hari itu 55 juta ton. Jadi sama tadi, kalau 55 juta ton itu dari Bantar Gebang ditarik balik ke Jakarta, itu hampir seluruh Jakarta ketutup,” kata Stefanus.