Bagikan:

JAKARTA - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengakui, Indonesia belum optimal dalam memanfaatkan peluang pasar di Asia Tenggara (ASEAN).

Padahal, jumlah penduduk ASEAN yang cukup besar sangat memungkinkan RI untuk mendulang perekonomian Indonesia jika pasarnya bisa dimanfaatkan dengan baik.

Menurut Faisol, Indonesia seharusnya bisa menggarap potensi pasar di ASEAN tersebut untuk kemajuan industri nasional.

"Kami melihat pasar ASEAN ini belum kami garap optimal. Pekerjaan besar kami untuk mencari pasar yang juga di luar komoditas tradisional kami," ujar Faisol dalam Acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran di Jakarta, Kamis, 16 Oktober.

Faisol mencontohkan, gerai Alfamart yang didirikan orang Indonesia bernama Djoko Susanto, kini sudah tersebar hingga membuka 2.000 gerai di Filipina.

Dia bilang, potensi perdagangan akan semakin diuntungkan dengan berdirinya gerai besutan lokal di luar negeri, sebab produk asal RI bisa dikenal lebih luas oleh konsumen mancanegara.

Kemudian, kata dia, kehadiran gerai asing yang beroperasi di Indonesia dengan perusahaan dalam negeri, turut membawa peluang pembukaan pasar perdagangan lebih optimal. Misalnya dengan kehadiran Circle K, Family Mart dan Lawson.

"Kami berharap, outlet-outlet itu bisa menjadi duta perdagangan kami untuk awal mula kami membuka pasar lebih luas, supaya ekspor kami lebih banyak," terang Faisol.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai, pembukaan pasar bukan hanya menjadi tanggung jawab dari pelaku usaha.

Pemerintah, lanjut Faisol, wajib turut serta membantu para pengusaha untuk mendapatkan lebih banyak pelanggan supaya menciptakan multiplier effect demi perekonomian dan kemajuan industri dalam negeri.

"Jadi, ini yang harus kami lakukan bersama-sama dengan para pelaku usaha supaya pasar-pasar baru ini makin terbuka," jelas Faisol.

"Dengan satu juta tenaga kerja baru, maka kira-kira uang berputar Rp65 triliun. Rp65 triliun kalau ini multiplier effect, maka kira-kira bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru itu 1,5 sampai 2,5 kali dari jumlah tenaga kerja," pungkasnya.