JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat capaian positif pada layanan angkutan barang. Sepanjang periode Januari hingga September, KAI mengangkut 51.182.139 ton barang. Angkutan barang ini didominasi oleh komoditas batu bara.
Vice President Public Relations KAI Anne Purba menjelaskan angka tersebut naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 50.959.825 ton. Angka ini menegaskan peran KAI sebagai tulang punggung logistik nasional yang andal, efisien, dan berkelanjutan.
Dari jumlah tersebut, Anne bilang komoditas batu bara masih menjadi mayoritas dengan volume 42.398.070 ton atau 82,84 persen dari total angkutan.
“Sebagian besar digunakan untuk memasok Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Jawa dan Bali, yang mengalirkan energi bagi sekitar 158 juta penduduk,” katanya dalam keterangan resmi, Kamis, 2 Oktober.
Anne mengatakan setiap rangkaian kereta batu bara membawa lebih dari sekadar muatan, tetapi energi yang menyalakan lampu di rumah-rumah, menghidupkan mesin produksi UMKM, memastikan kelas belajar tetap terang, dan menjaga peralatan medis di rumah sakit tetap berfungsi.
Namun, Anne menegaskan bahwa peran KAI tidak berhenti di angkutan energi. Sejumlah komoditas strategis lain juga diangkut setiap hari, mulai dari semen dan klinker untuk pembangunan infrastruktur, petikemas berisi barang konsumsi, bahan bakar minyak (BBM) untuk transportasi dan industri, hingga hasil perkebunan, produk retail, dan pupuk untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Semua ini menjadikan KAI sebagai simpul vital dalam rantai logistik yang menopang berbagai sektor kehidupan,” tuturnya.
Selain menghadirkan manfaat, sambung Anne, kereta api juga menjadi solusi transportasi barang yang lebih ramah lingkungan. Dengan kemampuan angkut besar sekaligus jejak emisi lebih rendah, KAI ikut memperkuat komitmen pemerintah dalam agenda transisi energi dan pembangunan berkelanjutan.
BACA JUGA:
Ke depan, KAI terus bertransformasi melalui penguatan infrastruktur, pengembangan digitalisasi layanan logistik, dan peningkatan kapasitas sarana.
“Langkah ini akan membuat distribusi barang semakin efisien, tepat waktu, serta berdaya saing tinggi untuk mendukung ekonomi nasional,” jelasnya.