JAKARTA - CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani menyebut Indonesia saat ini telah memasuki masa darurat sampah.
Bukan tanpa sebab, Rosan bilang, setiap tahun Indonesia menghasilkan 35 juta ton sampah atau setara dengan 16.500 lapangan bola.
"Kita melihat darurat. Tidak hanya di Jakarta, tetapi banyak di kota-kota besar lainnya," ujar Rosan dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengolah Sampah Menjadi Energi (Waste to Energy), Selasa, 30 September.
Dikatakan Rosan, jumlah yang sama disebut mampu menutupi semua wilayah Jakarta dengan lapisan sampah setebal 27 meter.
"Jadi bisa dibayangkan begitu banyak sampah yang kita hasilkan setiap tahunnya di Indonesia ini," jelas Rosan,
Sementara itu, lanjut Rosan, sebanyak 61 persen sampah tidak bisa dikelola dengan baik, dibuang sembarangan dan masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan tidak sesuai prosedur. Sampah yang tidak terkelola ini kemudian menimbulkan berbagai masalah mulai dari kesehatan hingga lingkungan.
"Tempat pembuangan sampah ini kurang lebih sekarang menyumbang kurang lebih 2-3 persen emisi gas rumah kaca nasional," jelas dia.
Sementara dari sisi kesehatan, masyarakat yang tinggal di dekat TPA cenderung mud terpapar penyakit.
BACA JUGA:
Berdasarkan catatannya, Rosan merinci, penyakit yang ditimbulkan meliputi asma naik hingga 40 persen, diare naik 72 persen, demam berdarah berisiko naik 7 kali lipat lebih tinggi, hingga risiko cacat lahir meningkat 33 persen, potensi cacat kepala dan leher naik hingga 70 persen.
"Di beberapa TPA itu terjadi kebakaran beberapa kali, termasuk juga longsor yang pernah terjadi juga di TPA lainnya yang mengakibatkan 157 korban jiwa yang terjadi," tandas Rosan.