JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 11 September diperkirakan akan bergerak menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahu,i mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 10 September, kurs rupiah spot ditutup menguat 0,07 persen ke level Rp16.470 per dolar AS.
Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup naik 0,03 persen ke level harga Rp16.457 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa statistik ketenagakerjaan AS mengungkapkan, perekonomian telah menciptakan 911.000 lebih sedikit lapangan kerja selama setahun terakhir dibandingkan perkiraan sebelumnya, sebuah tanda melemahnya pertumbuhan penggajian dan melemahnya pasar tenaga kerja.
"Hal ini semakin memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan kecil penurunan sebesar 50 basis poin," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kamis, 11 September.
Ibrahim menyampaikan namun, data inflasi utama AS untuk bulan Agustus akan menguji spekulasi pemangkasan suku bunga minggu ini dan inflasi PPI akan dirilis pada hari Rabu, sementara data inflasi IHK akan dirilis pada hari Kamis.
"Data inflasi bulan Agustus akan diawasi secara ketat untuk melihat tanda-tanda peningkatan tekanan harga, mengingat sebagian besar tarif perdagangan Trump mulai berlaku bulan lalu," tuturnya.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan pemerintah berkomitmen untuk menjaga rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 39 persen.
Sejauh ini rasio utang masih terjaga di level aman.
Namun, menurutnya, pemerintah bukan mengejar naik atau turunnya rasio utang, melainkan mengejar pertumbuhan ekonomi untuk tumbuh lebih cepat dan PDB bertambah besar, maka dengan sendirinya rasio utang akan turun.
Terkait dukungan dari sisi moneter, ia menyampaikan bahwa perlu ada sinergi kebijakan fiskal dan moneter agar tidak menekan sistem perbankan.
'Arah kebijakan ini diharapkan dapat memperkuat daya tahan perekonomian sekaligus menciptakan ruang fiskal yang lebih sehat dalam jangka menengah, agar tetap menjaga defisit APBN di rentang maksimal 3 persen," ujarnya.
Dia menyampaikan, untuk meningkatkan batas defisit APBN dari 3 persen, pemerintah akan melihat perkembangan ekonomi ke depan terlebih dahulu, apalagi sudah jelas di dalam Undang-undang ditetapkan batas maksimal defisit anggaran ada di 3 persen.
BACA JUGA:
Selain itu, ia menyampaikan, pemerintah tengah menyiapkan stimulus tambahan untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.
"Masalah utama terletak pada pelaksanaan program pemerintah yang masih berjalan lambat. Percepatan realissi belanja dan program prioritas diharapkan mampu memberikan dorongan signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional dalam waktu dekat," jelasnya.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup menguat pada perdagangan Kamis, 11 September 2025 dalam rentang harga Rp16.420 - Rp16.470 per dolar AS.