Bagikan:

JAKARTA – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan, hingga pertengahan Agustus 2025 sebanyak 6.137 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di seluruh Indonesia. Angka tersebut melampaui target awal tahun 2025 yang hanya 5.000 SPPG.

Hal itu ia sampaikan saat menghadiri peresmian Pilot Project Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia di Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 22 Agustus.

"Pak Presiden waktu itu dalam pidato kenegaraan menyebut 5.800, dan hari ini sudah 6.137 SPPG beroperasional. Sudah melayani lebih dari 20 juta penerima manfaat. Jadi, dalam waktu singkat, kita sudah berhasil mencapai itu," kata Dadan dalam keterangan resmi.

Meski demikian, Dadan menilai capaian tersebut baru mencakup sekitar 25 persen dari total penerima manfaat program MBG, atau sekitar 5 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Menurutnya, meskipun secara persentase terhadap populasi masih relatif kecil, namun pencapaian 20 juta penerima manfaat ini justru mencakup 4 negara yang ada di Eropa.

"Untuk Indonesia, itu baru 25 persen dari penerima manfaat atau baru 5 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Tetapi kalau berada di Eropa, 20 juta itu sudah memberi makan empat negara, di Skandivania, Finlandia, ada Norwegia, ada Denmark, dan sebagian Swedenia," ujarnya.

Selain itu, Dadan menyebut keberhasilan program ini tidak lepas dari dukungan model kemitraan publik-swasta. Ribuan SPPG yang telah berdiri seluruhnya dibangun dengan dana kemitraan tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Perlu diketahui, 6.137 SPPG dan 19.000 calon SPPG yang sedang diverifikasi 100 persen murni kemitraan. Belum serupiah pun dari APBN. BGN baru menyerap Rp 10,3 triliun untuk intervensi gizi, tetapi mampu memicu dana masyarakat hingga Rp 50 triliun. Dari jumlah itu, Rp 500 miliar disumbangkan oleh Kadin, setara 10 persen dari total dana masyarakat yang berputar," katanya.

Ke depan, BGN menargetkan pembangunan minimal 6.000 SPPG tambahan hingga Oktober 2025. Dengan begitu, pada November nanti program MBG diharapkan bisa menjangkau 82,9 juta penerima manfaat, mulai dari ibu hamil, balita, siswa PAUD hingga SMA, termasuk santri dan guru sekolah keagamaan.

Dadan berharap Kadin dapat mengalokasikan sebagian besar dukungannya untuk membangun SPPG di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

"Tadi saya dengar Kadin akan membangun seribu SPPG. Kami harap lebih besar dialokasikan ke daerah 3T. Target kami akhir Oktober seluruh bangunan SPPG rampung, sehingga pada November sudah bisa melayani 82,9 juta penerima manfaat," ujarnya.