JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara yang berada dalam zona akumulasi sampah laut terbesar di dunia (Great Pacific Garbage Patch) dan menempati peringkat ke-5 penghasil sampah terbesar secara global, setelah Tiongkok, Amerika Serikat, India dan Brasil.
Sementara berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah nasional diperkirakan mencapai 50.062.054 ton pada tahun ini, dengan potensi sekitar 20.024.821 ton sampah masuk ke laut melalui aliran sungai, pesisir, pulau-pulau kecil, pelabuhan dan aktivitas laut.
"Kami tentunya merasakan bahwa sampah laut masih merupakan salah satu masalah di Indonesia dan ini menjadi permasalahan utama," ujar Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Didit Herdiawan dalam Kick-off Program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut Sebasah) dan Groundbreaking Pengembangan Kawasan Mangrove Nasional Kamal Muara di GOR Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara, Rabu, 6 Agustus.
Sampah yang masuk ke laut diyakini berdampak negatif terhadap ekosistem pesisir dan biota laut.
Salah satu dampaknya adalah eutrofikasi, yaitu kondisi perairan tertutup alga akibat kelebihan nutrien yang menyebabkan penurunan kadar oksigen dan mengancam kelangsungan hidup biota laut.
Selain itu, sampah plastik tidak terurai akan menjadi mikroplastik yang mudah dikonsumsi ikan dan organisme laut lainnya.
Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh biota dapat menyebabkan kematian dan secara tidak langsung membahayakan kesehatan manusia.
Ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun dan terumbu karang juga terdampak serius jika persoalan sampah tidak segera ditangani.
Menurut Didit, pelaksanaan Kick-off Program Laut Sebasah pada hari ini merupakan salah satu bagian dari penyelamatan ekosistem.
"Kami ketahui bersama kegiatan pelaksanaan kick-off pada pagi hari ini merupakan salah satu bagian dari penyelamatan ekosistem. Tentunya kalau ditarik nanti ada pesisir, pulau-pulau terpencil dan sungai serta muara dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kegiatan laut," ucapnya.
Didit menilai, pihaknya terus berupaya untuk mengurangi sampah laut.
Pada 2022–2024, KKP telah menginisiasi Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut bertujuan membangun kesadaran nelayan dan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan laut.
BACA JUGA:
Seiring waktu, komitmen itu diperkuat melalui peluncuran program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut Sebasah) yang mengedepankan kolaborasi multipihak untuk pengelolaan sampah laut secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
"Kami harus kolaborasi bersama-sama kementerian/lembaga sampai dengan tingkat daerah dan perorangan untuk saling mendukung Program Sebasah yang kami laksanakan pada pagi hari ini," terang Didit.
"Penyelesaian isu sampah terutama di laut ini wajib kami teruskan dan lestarikan bersama," pungkasnya.