JAKARTA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjamin, tidak ada penyalahgunaan anggaran alias praktik korupsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dadan menegaskan, sistem keuangan yang diterapkan sudah dirancang sedemikian rupa agar tidak dapat dimanipulasi.
"Enggak mungkin ada korupsi di Makan Bergizi Gratis (MBG) karena kami sudah bikin virtual account, harus ditandatangani berdua oleh mitra dan Badan Gizi. Kemudian, diletakkan bahan baku at cost, operational at cost. Insentif yang boleh dimakan," ucap Dadan dalam konferensi pers Penandatanganan MoU Bersama dengan Kementerian PU di Jakarta, Selasa, 5 Agustus.
Dia menjelaskan, belanja bahan baku juga wajib mengacu pada referensi harga pasar. Jika terjadi markup oleh mitra, hal itu bisa langsung terdeteksi dalam waktu singkat.
Beberapa mitra yang ketahuan melakukan praktik tersebut, kata Dadan, langsung diaudit oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan diminta mengembalikan uang negara.
"Jadi, untuk kasus-kasus penyalahgunaan anggaran kecil sekali kemungkinan terjadi pada Program MBG. Apalagi, uang itu tidak disimpan dengan rekening Badan Gizi, tapi dikirim dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) langsung ke virtual (account)," katanya.
Sarjana lulusan Institusi Pertanian Bogor (IPB) itu mengakui risiko penyalahgunaan anggaran tetap ada, namun dia mengaku justru lebih khawatir terhadap potensi keracunan makanan dalam program MBG. Menurut Dadan, keracunan lebih kompleks karena menyangkut banyak mata rantai.
"Kalau Anda semua tanya ke saya, ada dua risiko paling besar dalam (program) MBG. Satu penyalahgunaan anggaran, kedua adalah keracunan. Kalau jujur saya ditanya, saya lebih takut dengan kedua," tuturnya.
BACA JUGA:
Menurut dia, keracunan bisa terjadi dari banyak faktor. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penyajian, pengiriman hingga kondisi kesehatan anak saat mengonsumsi makanan.
Ia pun mencontohkan pernah ada satu siswa muntah karena sedang sakit, namun menyebabkan satu sekolah ikut panik karena dianggap makanan penyebabnya.
"Kami terus perketat, sehingga seluruh faktornya bisa kami identifikasi," jelas dia.