JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengakui bahwa upaya memberantas mafia pangan bukanlah tugas mudah. Namun, ia menegaskan pemerintah tidak akan menyerah dalam menjaga kestabilan harga pangan nasional, khususnya beras.
"Iya memang berat (hadapi mafia pangan), tapi tidak boleh lelah," ujarnya dalam tayangan kanal Youtube Mahfud MD Official, membahas tema Ganyang Mafia Pangan, Selasa, 22 Juli.
Amran menjelaskan, persoalan beras bermula dari ketidaksesuaian antara harga di tingkat petani dan konsumen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras di tingkat petani turun, namun justru mengalami kenaikan di tingkat konsumen.
“Ini awal mula masalah beras muncul. Data BPS, bukan data saya, menyebutkan harga turun di tingkat petani, tetapi naik di tingkat konsumen. Itu anomali," ungkapnya.
Amran menyebutkan bahwa produksi beras nasional saat ini berada pada titik tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Bahkan, beberapa lembaga internasional turut mengonfirmasi peningkatan tersebut.
"Kemudian data FAO, lebih tinggi lagi, mengatakan ini produksi kita yang tahun lalu 30 juta ton, sekarang diprediksi naik 35 juta ton. Dan kenaikannya tertinggi nomor dua di dunia setelah Brasil," jelasnya.
Hal senada juga disampaikan oleh United States Department of Agriculture (USDA) yang memprediksi produksi beras Indonesia mencapai 34,6 juta ton pada tahun ini.
"Target kita 32 (2025), produksi tahun lalu 30 (juta ton). Artinya, ada lompatan 4 juta ton. Ada keinginan saya data ini benar dan itu independen," ucap Amran.
Temuan Anomali di Pasar Induk Cipinang
Kementan menyoroti adanya ketidakwajaran dalam distribusi beras yang terindikasi terjadi di Pasar Induk Cipinang. Salah satu pengamat menyebut suplai beras di Cipinang kurang, yang memperkuat dugaan bahwa lonjakan harga bukan disebabkan oleh minimnya pasokan.
Amran menyatakan, data historis selama lima tahun menunjukkan bahwa volume beras yang keluar dari Cipinang tidak pernah melebihi 3.000 ton per hari. Namun, dalam laporan terbaru ditemukan angka 11.000 ton per hari, yang secara logistik dinilai tidak masuk akal.
SEE ALSO:
"Melihat harga di penggilingan turun sekitar 2 bulan, 3 bulan lalu. Kemudian, harga konsumen naik. Berarti anomali. Anomali ini aku cari di mana. Yang pertama, ada statement seorang pengamat mengatakan bahwa suplai (beras) Cipinang kurang. Jadi ini membenarkan bahwa harga (beras) ini naik," kata dia.
"Kami cek data mulai dari sana, 5 tahun data. Itu ada anomali juga aku dapat. Beras keluar 11.000 ton satu hari, itu tidak mungkin. Kalau itu keluar, mobil itu, truk itu menumpuk, tidak ada orang bisa masuk (pasar Induk Cipinang). Maksimal 3.000 ton selama 5 tahun. Ada anomali, Satgas turun, ngaku," sambung Amran.
Mentan menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan investigasi terhadap potensi penyimpangan dalam rantai pasok pangan, termasuk distribusi beras. Ia menyatakan tidak segan menindak tegas jika ditemukan pelanggaran yang merugikan petani dan masyarakat.