JAKARTA - Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat, 11 Juli diperkirakan akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk diketahui mengutip Bloomberg, pada hari Kamis, 10 Juli, Kurs rupiah spot di tutup turun 0,32 persen ke level Rp16.258 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,10 persen ke level harga Rp16.254 per dolar AS.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa dinamika perdagangan global terus menjadi faktor penentu arah pasar.
Ia menambahkan risalah rapat The Fed bulan Juni menunjukkan sebagian besar pejabat memperkirakan penurunan suku bunga akan terjadi pada akhir tahun ini, dengan mempertimbangkan meredanya tekanan inflasi serta potensi pelemahan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Selain itu, Ibrahim menyampaikan beberapa anggota The Fed mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan selanjutnya, sementara yang lain menilai belum diperlukan perubahan kebijakan hingga 2025.
"Para pembuat kebijakan umumnya memandang inflasi terkait tarif cenderung bersifat sementara atau terbatas dan mencatat bahwa ekspektasi inflasi tetap terjaga dengan baik," ujarnya dalam keterangannya, dikutip Jumat, 11 Juli.
Sementara itu, Presiden Trump pada hari Rabu mengumumkan tarif 50 persen untuk impor tembaga, efektif 1 Agustus, dengan klaim bahwa langkah tersebut bertujuan untuk mendorong industri tembaga dalam negeri dan tarif timbal balik untuk Brasil akan naik menjadi 50 persen dari 10 persen.
Trump memperingatkan bahwa setiap tarif baru akan dibalas dengan tindakan balasan dan telah mulai mengirimkan surat tarif kepada mitra dagang utama minggu ini, dan telah mengumumkan bea masuk 25 persen untuk barang-barang dari Korea Selatan dan Jepang, di antara negara-negara lainnya.
Ibrahim menambahkan meskipun ancaman tarif baru-baru ini berdampak terbatas pada pasar yang lebih luas, para pedagang tetap waspada terhadap potensi eskalasi perdagangan di masa mendatang.
Ia menyampaikan fokus pasar hari ini hanyalah angka klaim pengangguran di AS mingguan dan Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30-tahun serta data CPI German (mtm).
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan pasar merespon positif terhadap pemerintah, meski belum mendapat kesepakatan baru, pemerintah memastikan proses negosiasi dengan Amerika Serikat terkait tarif dagang sebesar 32 persen masih terus berjalan.bahkan komunikasi kedua belah pihak terus dibangun agar mendapatkan win-win solusion.
Sejak tarif dasar 32 persen diberlakukan atas sejumlah produk ekspor Indonesia pasca keanggotaan di BRICS, pemerintah aktif menyusun skema untuk meredam dampaknya, termasuk dengan opsi deregulasi hingga peningkatan impor dari AS. Namun, hingga kini belum ada sinyal perubahan dari Washington.
Sebelumnya, Donald Trump mengumumkan bahwa Indonesia akan tetap dikenakan tarif resiprokal sebesar 32 persen dan akan berlaku mulai 1 Agustus 2025. Alasan Trump tidak menurunkan besaran tarif ke Indonesia, karena AS dan Indonesia tidak memiliki hubungan timbal balik perdagangan yang baik selama Ini.
BACA JUGA:
Terkait dengan isu persyaratan pendirian pabrik Indonesia di AS sebagai imbal balik penghapusan tarif, hal tersebut belum menjadi pokok pembahasan resmi. Pemerintah sampai saat ini belum menindak lanjuti keinginan dari pemerintah AS.
Pemerintah berharap negosiasi lanjutan dalam beberapa pekan ke depan bisa menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan, tanpa harus mengorbankan posisi strategis Indonesia dalam kemitraan BRICS dan hubungan dagang bilateral dengan AS.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 11 Juli 2025 dalam rentang harga Rp16.220 - Rp16.270 per dolar AS.