Bagikan:

JAKARTA - PT Hutama Karya (Persero) memulai pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bima sebagai bagian dari upaya peningkatan kelas rumah sakit untuk mendukung layanan kanker, jantung, stroke dan uronefrologi (KJSU) di wilayah tersebut.

Proyek senilai Rp130,3 miliar tersebut ditargetkan rampung pada Desember mendatang.

Pembangunan RSUD Kota Bima didanai APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Kota Bima dan merupakan bagian turunan dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Proyek ini selaras dengan prioritas nasional untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas rumah sakit di 66 kabupaten/kota terpencil, dari Tipe D menjadi Tipe C.

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya Adjib Al Hakim menyatakan, pembangunan RSUD Kota Bima adalah langkah nyata Hutama Karya bersama pemerintah untuk mempercepat peningkatan kualitas layanan rumah sakit daerah, khususnya di wilayah terpencil.

"Kami berharap, kehadiran fasilitas ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Kota Bima dan sekitarnya," ujar Adjib seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 4 Juni.

Nantinya, RSUD Kota Bima berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare dengan luas bangunan 7.557 meter persegi, terdiri dari gedung utama dengan 3 lantai dan 1 atap tanpa basement serta bangunan utilitas 1 lantai.

Rumah sakit itu akan dilengkapi 20 jenis ruangan, seperti IGD, ruang operasi, radiologi, cytotoxic, farmasi dan lainnya.

Sebagai rumah sakit Tipe C, RSUD Kota Bima diwajibkan menyediakan layanan dokter spesialis dasar, seperti penyakit dalam, bedah, kebidanan dan anak.

Fasilitas modern seperti ruang operasi, ICU, NICU, laboratorium lengkap dan peralatan radiologi canggih juga akan tersedia.

Rencananya, gedung A akan menampung 20 bed intensive, sedangkan gedung perawatan akan menyediakan sekitar 80 bed. Sehingga total kapasitas mencapai minimal 100 bed sesuai standar RS Tipe C.

Hutama Karya menargetkan pembangunan RSUD Kota Bima dapat rampung pada Desember mendatang dengan melibatkan 10-20 persen tenaga kerja lokal untuk mendukung ekonomi masyarakat sekitar.

"Tidak terdapat perbedaan desain konstruksi maupun fungsi sistem dibandingkan proyek rumah sakit lain yang dikerjakan Hutama Karya," pungkas Adjib.