Bagikan:

JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, 14 Mei. 

 Ariston mengungkapkan bahwa kabar baik dari hasil negosiasi tarif antara Amerika Serikat dan China masih memberikan sentimen positif terhadap pasar keuangan.  

"Optimisme untuk negosiasi tarif dengan negara lainnya," ujarnya kepada VOI, Rabu, 14 Mei.  

Namun di sisi lain, ia menambahkan bahwa tingginya tarif impor di Indonesia masih menjadi beban bagi perekonomian nasional.

Ariston menyampaikan bahwa data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk bulan April yang dirilis semalam menunjukkan hasil di bawah ekspektasi dan turut menekan penguatan dolar AS yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. 

Selain itu, ia menyampaikan inflasi yang masih sesuai dengan ekspektasi pasar diperkirakan tidak akan mendorong The Fed untuk menaikkan suku bunga acuannya. 

Ia menyampaikan pergerakan rupiah pada Rabu, 14 Mei berpotensi menguat menuju ke level Rp16.450 per dolar AS, dengan potensi pelemahan di kisaran Rp16.550 per dolar AS. 

Mengutip Bloomberg, pada hari Selasa, 13 Mei, Kurs rupiah spot di tutup turun 0,14 persen ke level Rp16.604 per dolar AS. Sementara itu, pada hari Jumat 9 Mei, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup melemah 0,20 persen ke level harga Rp16.532 per dolar AS.