JAKARTA - Pengamat Pasar Keuangan dan Komoditas Ariston Tjendra menyampaikan pergerakan rupiah berpotensi melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 2 Mei.
Ariston mengungkapkan sentimen pasar keuangan pagi ini terlihat membaik dengan positifnya pergerakan indeks saham regional pagi ini.
"Terakhir, ada sinyal pemerintah China terbuka terhadap proses negosiasi tarif dengan AS. Ini tentunya kabar positif untuk pasar keuangan," ujarnya kepada VOI, Jumat, 2 Mei.
Menurutnya pergerakan rupiah berpeluang menguat lagi terhadap dolar AS dengan potensi penguatan ke area Rp16.550, dengan potensi resisten di kisaran Rp16.630.
Di sisi lain, proyeksi pelambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari Lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia, dan juga kontraksi indeks manufaktur Indonesia di bulan April 2025 menurut S&P bisa memberikan sentiment negatif ke rupiah.
BACA JUGA:
Ia menyampaikan jika tekanan terhadap pergerakan rupiah pada Jumat, 2 Mei belum hilang terkait kekhawatiran tarif, rupiah berpotensi melemah menuju ke level Rp16.700 per dolar AS.
Mengutip Bloomberg, pada hari Rabu, 30 April, Kurs rupiah spot di tutup naik 0,16 persen ke level Rp16.577 per dolar AS. Sementara itu, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup menguat 0,64 persen ke level harga Rp16.679 per dolar