JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan hingga saat ini baru PT Freeport Indonesia yang mengajukan izin ekspor tembaga ke pemerintah. Bahlil juga mengonfirmasi jika PT Amman Mineral Internasional belum melakukan pengajuan secara resmi kepada pemerintah.
"Sampai dengan sekarang yang mengajukan Freeport. (Amman) Belum," ujar Bahlil kepada awak media di Gedung Kementerian ESDM, Jumat, 21 Februari.
Padahal sebelumnya di hadapan Komisi XII DPR RI, Presiden Direktur PT Amman Mineral Internasional Tbk Rachmat Makkasau mengatakan, permintaan ekspor konsentrat tembaga ini dikarenakan proses commissioning yang berjalan lebih lambat dari rencana.
"Proses commissioning berjalan lambat karena kami melakukan berbagai upaya untuk memastikan tidak terjadi hal yang kita tidak inginkan. Karena ini adalah teknologi yang baru yang memang sangat berbeda dengan kemampuan kami sebagai penambang," ujar Rachmat dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu, 18 Februari.
BACA JUGA:
Rachmat menjelaskan, smelter ini memiliki kapasitas produksi 900.000 ton dan akan menghasilkan 220.000 ton katoda tembaga. Adapun produk sampingan yang bisa dihasilkan antara lain 801.000 ton asam sulfat, 18 ton emas, 55 ton perak dan 77 ton selenium.
Sementara itu PTFI telah mendapat lampu hijau dari pemerintah untuk melakukan ekspor konsentrat tembaga hingga Juni 2025. Hal ini bertepatan dengan rampungnya proses perbaikan smelter PTFI yang sempat terbakar beberapa waktu lalu.