Bagikan:

JAKARTA - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) optimistis dapat menyalurkan lebih banyak kuota FLPP di atas 220.000 unit pada 2025 ini.

Hal tersebut diungkapkan setelah Bank Indonesia (BI) menyatakan siap memberikan insentif likuiditas makroprudensial senilai Rp80 triliun kepada bank-bank yang menyalurkan KPR.

"Jadi, kami bisa buat itu (penyaluran FLPP) double Pak Gubernur (BI). Ini akan sepanjang sejarah Indonesia dengan apa yang Bapak (BI) lakukan. Kami bisa membuat rumah subsidi bagi rakyat kami di tahun ini meningkat luar biasa," ujar Ara dalam konferensi pers di kantor BI, Jakarta, Selasa malam, 11 Februari.

Dengan harga jual rumah subsidi sekitar Rp170 juta di Jabodetabek dan Rp166 juta di luar Jabodetabek, Ara memperkirakan insentif dari BI tersebut dapat membantu meningkatkan kuota rumah subsidi.

Dari yang semula hanya dapat menyalurkan sekitar 220.000 unit setahun, kini bisa naik dua kali lipat sekitar 440.000 unit setahun.

"Jadi, tadi kami sudah hitung kalau dari Rp80 juta itu, kami tahun ini membangun yang sudah tersedia dari APBN (75 persen) dan dari perbankan (25 persen) buat 220.000 rumah. Nah, kalau 220.000 rumah tadi, kami hitung dikali Rp170 juta berapa tadi Pak (Heru)? Rp38 triliun (nilai anggaran yang dibutuhkan) kurang lebih. Jadi, kami bisa buat itu (penyaluran FLPP) double Pak Gubernur (BI)," ucap Ara.

Pada kesempatan sama, Ara mengucapkan terima kasih kepada Gubernur (BI) Perry Warjiyo yang bersedia mendukung sektor perumahan, terutama terwujudnya program 3 juta rumah.

"Kami memandang bahwa sektor perumahan itu akan memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pencetakan lapangan kerja. Kalau perumahannya maju, tentu saja tidak hanya pertumbuhan ekonomi maju, tapi juga bisa mendorong dan menarik sektor-sektor lain," tutur Perry.

Perry menjelaskan, pihaknya saat ini telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial senilai Rp23,19 triliun. Setelah adanya pertemuan hari ini, Bank Indonesia setuju untuk menaikkan secara bertahap nilainya menjadi Rp80 triliun untuk mendukung program 3 juta rumah.

"Yang sekarang Rp23,2 triliun akan secara bertahap kami naikkan menjadi Rp80 triliun," imbuhnya.