Inflasi Sumbar Tembus 8,01 Persen, Tertinggi Kedua Nasional
Ilustrasi (Foto: Dok. Antara)

Bagikan:

PADANG - Kepala Bank Indonesia (BI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar), Wahyu Purnama menyebutkan, inflasi umum tahun berjalan di Sumbar telah mencapai 8,01 persen dan secara tahunan sebesar 7,11 persen.

"Realisasi inflasi tersebut menjadikan Sumatera Barat menjadi provinsi dengan peringkat inflasi ke-2 tertinggi secara Nasional," kata Wahyu dikutip dari ANTARA, Selasa, 20 September.

Dia menilai, inflasi yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi sehingga perlu upaya bersama mewujudkan inflasi yang stabil dan terkendali.

"Pemulihan ekonomi di ujung pandemi COVID-19 telah meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa, termasuk komoditas pangan sehingga terjadi gangguan pasokan yang memicu kenaikan harga berujung pada inflasi, oleh sebab itu perlu aksi nyata mengatasinya," kata Wahyu.

Menurut dia, akibat curah hujan yang tinggi di beberapa daerah termasuk di Sumatera Barat serta tingginya permintaan terhadap komoditas pangan pada Mei sampai dengan Juli menyebabkan indeks harga konsumen mengalami inflasi.

Ia menyebutkan inflasi umum tahun berjalan di Sumatera Barat telah mencapai 8,01 persen dan secara tahunan sebesar 7,11 persen.

"Realisasi inflasi tersebut menjadikan Sumatera Barat menjadi provinsi dengan peringkat inflasi ke-2 tertinggi secara Nasional," kata dia.

Wahyu melihat tantangan pengendalian inflasi 2022 semakin meningkat dengan adanya penyesuaian harga BBM bersubsidi pada awal September 2022.

Oleh karena semakin tingginya risiko inflasi tersebut, kata dia, perlu dilakukan upaya pengendalian inflasi yang lebih intensif dan usaha ekstra dari seluruh anggota Tim Pengendali Inflasi Daerah untuk menjaga inflasi dapat lebih terkendali.

Ia menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan arahan agar semua anggota TPID meningkatkan sinergi dan komitmen dalam menjaga inflasi komoditas pangan dan memperkuat ketahanan pangan dengan mencanangkan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di seluruh wilayah Indonesia.

GNPIP merupakan bentuk aksi nyata untuk merespon tingginya tekanan inflasi komoditas pangan bergejolak, melalui upaya mendorong peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pangan sehingga harga pangan dapat dijaga stabil.

Di Sumatera Barat ditandai dengan pencanangan Gerakan Menanam Cabai di pekarangan dan polybag, pasar murah, penandatanganan komitmen bersama untuk mendukung Gerakan GNPIP, pemberian bibit cabai kepada Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani, pencanangan gerakan memproduksi dan menggunakan pupuk organik, pembukaan klaster cabai baru dan program pendampingan digital farming serta pemberian bantuan alsintan dan saprodi.

Ia berharap, melalui GNPIP ini dapat memitigasi kenaikan harga pangan sehingga terjaga stabil, memperkuat ketahanan pangan, mendorong pertumbuhan ekonomi dan mendukung terwujudnya Sumatera Barat Madani, Unggul dan Berkelanjutan.