JAKARTA – Sukses Tim Nasional Spanyol tidak hanya berkat Rodri maupun Lamine Yamal, melainkan perkembangan budaya sepak bola selama bertahun-tahun.
Spanyol kembali menunjukkan kedigdayaan mereka di lapangan hijau dengan merengkuh gelar Piala Dunia 2026 seusai menekuk Argentina 1-0 di final di New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB.
Status juara dunia diraih La Roja hanya dua tahun berselang setelah mereka menjadi kampiun Eropa di Berlin. Pasukan Luis de La Fuente ini pernah mencatat prestasi serupa, mengawinkan gelar Eropa dan dunia, pada 2008 dan 2010.
Melihat skuad Spanyol yang dihuni para pemain muda, masa depan sepak bola La Roja tampak cerah. Banyak pihak meyakini dominasi mereka akan terus berlanjut, seperti hampir dua dekade silam ketika laju Spanyol seolah sulit dihentikan.
“Tidak ada yang mampu mengalahkan Spanyol. Hanya ada 10 tembakan tepat sasaran sepanjang turnamen ke gawang mereka. Spanyol memiliki gaya bermain yang belum pernah ditiru oleh siapa pun di dunia,” kata mantan penjaga gawang Inggris Joe Hart kepadaBBC.

Tiki-Taka
Sekitar dua dekade lalu, Spanyol bukan tim yang langganan masuk daftar unggulan di hampir setiap perhelatan akbar sepak bola. Tapi status itu mulai bergeser di bawah asuhan mendiang Luis Aragones menjelang Euro 2008.
Piala Dunia 2006 menjadi turnamen mayor pertama Aragones sebagai juru taktikLa Roja. Kala itu, Spanyol harus tersingkir di babak 16 besar usai kalah 1-3 dari Prancis, meski sukses memuncaki penyisihan grup.
Tapi sejak saat itu, Spanyol lebih diperhitungkan. Dengan darah-darah muda seperti Iker Casillas, Sergio Ramos, Cesc Fabregas, Xabi Alonso, Xavi Hernandez, dan Fernando Torres,La Rojamenjelma sebagai tim yang disegani.
Aragones berhasil membawa Spanyol juara Euro 2008, mengalahkan Jerman 1-0 di final berkat gol tunggal Fernando Torres. Ini menjadi gelar internasional pertama mereka sejak 1964.

Di masa itu, Aragones sadar dengan kelemahan fisik pemain Spanyol, sehingga ia menerapkan gayatiki-taka,sebuah sistem umpan pendek yang kemudian juga identik dengan gaya bermain Barcelona dan menjadi revolusi sepak bola terbesar dalam sejarah Spanyol.
Sementara Aragones sukses di Euro 2008, Pep Guardiola yang ditunjuk sebagai pelatih Barcelona pada musim panas yang sama menerapkan prinsi-prinsip Johan Cruyff kepada para pemainnya.
Dan, Barcelona dengan gayatiki-taka-nya berhasil mendominasi sepak bola Eropa, dibuktikan dengantreble winners– La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions - di musim pertama Guardiola sebagai pelatih.
Ketika posisi Aragones digantikan Vicente del Bosque, hegemoni Spanyol berlanjut di Piala Dunia 2010 dan Euro 2012. Periode ini berbarengan dengan masa-masa kejayaan Barcelona di bawah asuhan Guardiola.
Di Piala Dunia 2010, Spanyol mencatat empatclean sheetberuntun di babak gugur, dengan masing-masing kemenangan 1-0. Mereka begitu mendominasi permainan. Di final melawan Belanda, gol semata wayang Andres Iniesta pada menit ke-116 memastikanLa Rojamerengkuh gelar Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Dua tahun berselang, Del Bosque membawa Spanyol dalam evolusi ekstrem, lebih sering memainkan formasi 4-6-0 dengan Cesc Fabregas sebagaifalse ninedan tanpa striker murni. Hasilnya, Italia dilumat empat gol tanpa balas pada laga puncak Euro 2012 yang digelar Kiev.
Meski sepak bola kini menjadi lebih cepat, lebih vertikal, dan sangat bergantung pada model transisi berbasis data, prinsip-prinsip inti yang ditetapkan Spanyol antara 2008 dan 2012 tetap menjadi dasar fundamental sepak bola elite hingga saat ini.
Tak Ada Individu Menonjol
Ketika Luis de la Fuente didapuk sebagai pelatih kepala menggantikan Luis Enrique yang mundur pasca kegagalan Spanyol di babak 16 Besar Piala Dunia 2022, penunjukkannya menuai keraguan publik.
Namun De la Fuente membungkam peragu. Ia berhasil membawa Spanyol memenangi gelar dari semua turnamen yang diikuti, yaitu Nations League 2023, Piala Eropa 2024, dan sekarang Piala Dunia 2026.
Spanyol mungkin bukan tim paling sensasional sepanjang perhelatan Piala Dunia kemarin. Mereka datang tanpa ada pemain individu yang menonjol, seperti Lionel Messi di Argentina, Kylian Mbappe di Prancis, atau Erling Haaland di Norwegia. Tapi tidak bisa dimungkiri,La Rojasulit dihentikan. Sepanjang turnamen, Spanyol hanya kebobolan satu gol, ketika menang 2-1 atas Belgia di babak perempat-final.
Spanyol membuka perjalanan dengan meraih hasil imbang 0-0 melawan tim debutan, Tanjung Verde.La Rojakemudian menang telak 4-0 melawan Arab Saudi pada pertandingan kedua, sebelum akhirnya menundukkan Uruguay 1-0 yang memastikan mereka finis di posisi teratas Grup H.
Meski demikian, banyak pihak mangatakan penampilan Spanyol tidak seperti ketika mereka memenangkan Euro 2024. Ini mungkin terkait kondisi dua bintang mereka, Lamine Yamal dan Nico Williams, yang mengalami cedera hamstring sebelum Piala Dunia ini, sementara performa Pedri di bawah ekspektasi.

Namun, Pelatih Austria Ralf Rangnick memberikan pujian kepada Spanyol seusai timnya kalah 0-3 di babak 32 Besar.
“Tidak banyak ruang untuk mereka melakukan peningkatan,” kata eks pelatih Manchester United itu.
“Mereka seperti mesin jam yang sempurna. Saya tidak ingat ada kesalahan yang tidak disengaja yang mereka lakukan. Saya pikir Spanyol, hari ini, benar-benar menunjukkan penampilan terbak mereka. Saya berani mengatakan bahwa kita tidak hanya menghadapi juara Eropa, tapi juga calon juara dunia,” imbuh Rangnick.
Dan ia benar. Spanyol keluar sebagai kampiun dengan mengalahkan juara bertahan Argentina secara meyakinkan. Meski papan skor hanya menunjukkan kemenangan 1-0 berkat gol tunggal Ferran Torres, skuad De la Fuente tampil impresif dengan dominasi total sepanjang laga.
Dengan hasil tersebut, Spanyol tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir di semua kompetisi dan ini merupakan rekor terpanjang yang pernah dicatat tim dari Eropa maupun Amerika Selatan dalam sejarah sepak bola internasional.
BACA JUGA:
Melihat komposisi pemain saat ini, masa depan sepak bola Spanyol tampak cerah. Sebut saja Lamine Yamal dan Pau Cubarsi, duo andalan Barcelona, yang telah meraih medali emas Piala Dunia pertama pada usia yang baru 19 tahun. Banyak pihak yakinLa Rojaakan terus mendominasi hingga beberapa tahun ke depan, salah satunya mantan striker Prancis Thierry Henry.
“Saya ingin memberikan penghargaan kepada sistem dan fondasi yang mereka bangun. Dulu Spanyol tidak terbiasa menang seperti ini. Sekarang mereka menang di setiap level,” kata Henry.