JAKARTA – Selain Lionel Messi, ada Teddy Sheringham, Andrea Pirlo, hingga Xavi Hernandez yang disebut-sebut memiliki kecerdasan sepak bola.
Bicara soal kecerdasan sepak bola, sebagian besar penggemar akan menyebut Teddy Sheringham, Paul Scholes, Andrea Pirlo, dan Xavi Hernandez. Para pemain ini dinilai mampu menghentikan sejenak permainan untuk mengamati aksi dari sudut pandang kamera 360 derajat.
Namun atribut ini sulit didefinisikan. Tidak seperti kekuatan tradisional, kecerdasan tidak memiliki metrik yang terukur. Otak sepak bola sering disebut-sebut oleh penggemar dan pengamat, tapi apa sebenarnya otak sepak bola?
Bagaimana kecerdasan sepak bola terwujud di lapangan? Bagaiamana otak mengoordinasikan tindakan luar biasa dari pemain kelas atas? Dan, apakah otak pesepak bola elite memiliki kekuatan lebih unggul dibandingkan pemain amatir yang bermain sepak bola hanya sebagai hobi?
Pengambilan Keputusan
Saat masih remaja, Teddy Sheringham diberitahu bahwa ia terlalu lambat untuk mencapai level tertinggi dalam permainan. Namun pemuda dari London timur ini menunjukkan kepada para pengkritiknya bahwa kurangnya kecepatan dapat diatasi dengan kecerdasan.
Ia membungkam peragu dengan sukses menyabet serangkaian trofi selama 32 tahun berkarier, di antaranya tiga Liga Inggis, Piala FA, dan Liga Champions.
"Orang meragukan karier saya, bahkan mengatakan saya tidak cukup cepat untuk tim junior Millwall," kata Sheringham, yang gantung sepatu di usia 42 dengan 51caps.
"Namun ada satu hal yang dianugerahkan dalam hidup saya: kecerdasan dalam sepak bola," imbuhnya.

Sebelum menelisik lebih dalam cara kerja otak pesepak bola - serta 55 hingga 70 miliar neuron yang menggerakkan aksi pemain selama 90 menit pertandingan - kita perlu memahami seperti apa bentuk kecerdasan dalam permainan menurut pandangan mereka yang berkiprah di level tertinggi.
"Wah, itu hal yang sulit dijelaskan. Intinya terletak pada kualitas pengambilan keputusan serta ribuan keputusan yang harus dibuat pemain setiap detiknya selama pertandingan berlangsung," kata mantan penyerang Tottenham Hotspur dan Norwich City, Paul McVeigh.
"Semakin baik pemahaman mereka terhadap permainan, semakin baik pula kemampuan mereka dalam mengambil keputusan," imbuhnya.
Sebuah studi bertajukJournal of Sports Sciencesmenunjukkan, seorang pesepak bola elite melakukan antara 150 hingga 250 aksi intens selama satu pertandingan. Untuk setap aksi tersebut, terdapat begitu banyak informasi yang harus dicerna, mulai dari isyarat visual, instruksi pelatih, perhitungan kekuatan dan sudut, hingga kesadaran spasial terhadap area lapangan yang luas.
Semua informasi ini harus diproses pemain secarareal time,demi menghasilkan keputusan cepat yang berpotensi mengubah jalannya pertandingan. Chris Ramsey, Direktur Teknis QPR pada 2020, mengatakan untuk memahami situasi yang dinamis ini, pesepak bola perlu menguasai empat aspek.
Pertama adalah kesadaran. "Jika Anda seorag penyerang, seberapa besar kesadaran Anda terhadap pemain yang sedang menguasai bola? Anda bertanya pada diri sendiri, 'Apakah dia punya cukup waktu? Apakah ia akan melepaskan umpan silang?' atau yang lainnya," jelas Ramsey.
"Lalu saat melihat umpan datang, kuncinya ada pada penentuan waktu, apakah Anda bergerak lambat atau cepat? Dan terakhir eksekusi, bagaimana akan menutaskan peluang, bagian kaki mana yang digunakan untuk menendang, apakah perlu mengontrol bola lebih dulu atau menyundulnya?" imbuh Ramsey.
Kemampuan Memindai
Memindai memungkinkan pemain membuat peta 3D dari lingkungan sekitarnya, lalu memadukannya dengan materi latihan, rencana taktis, dan pengetahuan mengenai lawan.
Tidak ada pemain yang mampu memproses seluruh informasi tersebut secara bersamaan, sehingga otak mengalihkannya ke alam bawah sadar yang kemudian memicu pengambilan keputusan.
"Scanningbukanlah tindakan sadar, melainkan proses dasar," ujar Dr. John Sullivan, seorang ilmuwan olahraga dan psikolog olahraga klinis yang pernah bekerja sama dengan sejumlah klub Liga Inggris.
"Setiap mildetik, pemain memindai sekitar sembilan bit informasi penting, ini disebut ‘pelacakan banyak objek’ dan mereka mengambil cuplikan untuk disimulasikan oleh otak tentang apa yang mungkin terjadi,” Sullivan menambahkan.
BACA JUGA:
Dengan mempelajari hasil pemindaian otak, para peneliti Universitas Brunel menemukan bahwa pemain sepak bola yang sangat terampil mampu mengaktifkan lebih banyak area otak mereka daripada pemain pemula, ketika mereka melihat lawan bergerak ke arah mereka, sehingga mereka lebih mampu mengantisipasi gerakan lawan.
Penelitian yang diterbitkan dalamJournal of Sport and Exercise Psychologyini menemukan bahwa pemain berpengalaman tampaknya telah mengembangkan sistem 'pemeriksaan' yang menekan keinginan untuk bereaksi secara naluriah, sehingga mereka cenderung tidak tertipu oleh tipuan yang menyesatkan.
“Bola adalah isyarat, tapi gerakan pemainlah yang perlu Anda perhatikan,” tegas Sullivan.
Kecerdasan Emosional
Para pemain butuh lebih dari sekadar prosesor berkecepatan tinggi untuk membuat pilihan cerdas di lapangan. Emosi, dorongan yang seringkali disarankan untuk ditekan oleh para pemain, pada kenyataannya berperan penting dalam pengambilan keputusan.
Pengendalian diri ditekankan dalam permainan dan oleh karena itu, meluapkan emosi dianggap sebagai tanda kelemahan.
Lionel Messi mungkin tidak akan mampu berulang kali menghancurkan lawan jika ia tidak bisa mengendalikan emosinya di bawah gempuran tendangan dan sikutan. Andrea Pirlo tidak akan mencetak golpanenkake gawang Joe Hart saat adu penalti antara Italia dan Inggris di Euro 2012 tanpa keyakinan yang tak tegoyahkan.

Tanpa kecerdasan emosional, teknik dan kemampuan atletik menjadi sia-sia.
“Jika atlet tidak mampu mengelola emosi mereka pada saat itu, tidak peduli apa yang mampu mereka lakukan secara fisik atau kognitif, emosilah yang mengendalikan segalanya,” kata Sullivan.
Kecerdasan sepak bola bukan semata-mata tentang berpikir, melainkan tentang melewati proses berpikir dan langsung bertindak. “Dalam olahraga, jika Anda terlalu banyak berpikir, Anda akan gagal. Dalam permainan, sebenarnya tidak ada waktu untuk berpikir,” sambungnya.
Mengutip ucapan legenda Belanda Johan Cruyff, “Anda bermain sepak bola dengan kepala, dan kaki-kaki Anda membantunya.”