Bagikan:

JAKARTA – Di usia yang menuju 39 tahun, magis Lionel Messi di lapangan belum habis. La Pulga kembali membuat pecinta sepak bola terpukau dengan penampilannya.

Lionel Messi mengawali perjalanannya bersama Argentina di Piala Dunia 2026 dengan spektakuler. Pasukan Lionel Scaloni langsung membantai Aljazair 3-0 di laga Grup J di Kansas City Stadium, Rabu (17/6/2026) pagi WIB. Messi-lah yang menjadi bintang dengan mencetakhat-trickke gawang Luca Zidane, putra legenda Real Madrid dan Prancis, Zinedine Zidane.

Tambahan tiga golnya membawa La Pulga menyamai catatan Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah Piala Dunia, dengan total 16 gol. Messi mencapai angka tersebut setelah enam kali ikut serta di ajang sepak bola terbesar di dunia ini.

Namun, penampilan Messi di Kansas City lebih dari sekadar statistik. Penampilan eks penggawa Barcelona ini sukses membuat para pecinta sepak bola tersihir, termasuk Zlatan Ibrahimovic.

Lione Messi ditempatkan sebagai False Nine di era kepelatihan Pep Guardional di Barcelona. (AFP)

"Jangan percaya kita akan mendapatkan Messi lain, karena dia istimewa. Dia bakat alam. Seolah-olah permainan ini diciptakan untuknya. Segala sesuatu yang disentuhnya menjadi emas. Dia juga memiliki tim yang siap mati untuknya," ujar mantan penyerang AC Milan Ibrahimovic mengutipFOX Sports.

Berawal dari Sayap

Perdebatan soal tempat yang layak untuk Lionel Messi dalam sejarah sepak bola berakhir pada 2022, ketika ia memimpin Argentina meraih gelar Piala Dunia dalam final epik melawan Prancis.

Tak hanya mengakhiri penantian panjang rakyat Argentina meraih trofi Piala Dunia, ia juga menutup tahun tersebut sebagai pemain terbaik turnamen. Rentetan penghargaan Messi, baik secara individu maupun kolektif bersama klub dan timnas, serta gaya bermainnya yang magis, membuat La Pulga dipandang berbeda dari pemain lainnya. Ia disebut berada di level yang mungkin tidak akan terkejar oleh pemain lain.

Messi sukses menyabet sederet trofi mayor bersama Barcelona, Paris Saint-Germain (PSG), Inter Miami, dan Argentina. Tapi rasa laparnya tak kunjung berhenti. Messi masih menjadi pemain terbaik Argentina, dan meski usianya tak lagi muda, ia tetap menjadi ancaman terbesar bagi lawan.

Di luar jumlah gol danassist-nya yang luar biasa, evolusi Lionel Messi adalah hal yang paling menarik diperbincangkan akhir-akhir ini. Kemampuannya untuk tetap menjadi yang terdepan, dan kecerdasan sepakbolanya yang tidak tertandingi memungkinkannya untuk tetap dominan bahkan ketika olahraga ini berkembang menjadi permainan yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih atletis.

Lionel Messi tertunduk lesu usai kalah 0-1 dari Jerman di final Piala Dunia 2014. (Getty Images)

Messi dikelilingi oleh para pemain hebat, tapi ia tetap masih lebih baik karena tidak pernah menjadi pemain yang sama dalam waktu yang terlalu lama. Ketika usianya 16 tahun, La Pulga menjalani debut bersama Barcelona dalam partai persahabatan melawan Porto besutan Jose Mourinho. Ia adalah pemain sayap kanan yang eksplosif. Senjata utamanya adalah kemampuan memotong dengan kaki kirinya.

Kemampuannya ini langsung menarik perhatian Ronaldinho. Sang legenda Brasil, yang waktu itu menjadi pemain terbaik dunia, yakin pemain muda ini nanti akan melampaui dirinya. Dan pada 2005, setelah pertandingan kontra Juventus di Trofi Joan Gamper, Fabio Capello begitu terpesona sehingga ia dilaporkan ingin meminang La Pulga.

Namun seiring dengan semakin matangnya Messi, para pelatih sadar membiarkannya berada di sisi lapangan hanya akan menyia-nyiakan pengaruhnya yang makin besar. Frank Rijkaard, pelatih Barcelona saat itu, mengatakan bahwa semakin sering Messi menyentuh bola, semakin bagus buat tim.

False Nine Era Guardiola

Lalu ketika Pep Guardiola datang pada 2008, ia awalnya menempatkan Messi di sisi kanan tapi segera menyadari keterbatasan pertahanan dalam pengaturan taktiknya. “Pertama kali Guardiola memutuskan untuk memindahkan Messi dari posisi sayap adalah karena alasan pertahanan,” demikian catatan analisis ahli dariBBC Sport.

Bisa dibilang, ini adalah cikal bakal yang pada akhirnya mengubah sejarah olahraga ini.

Titik balik paling krusial dalam perjalanan taktik Messi terjadi pada 2 Mei 2009. Santiago Bernabeu menjadi saksi bagaimana magisLa Pulgasukses meluluhlantakkan Real Madrid 6-2. Waktu itu, Guardiola menggeser Samuel Eto’o ke ke sisi kanan, Thierry Henry ke kiri. Lionel Messi ditempatkan sebagai ujung tombak lini serang, tapi tugasnya bukan sebagai striker tradisional. Guardiola memberinya peran sebagai‘false nine’.La Pulgamendapat instruksi khusus, yaitu turun ke belakang, menjemput bola, dan mengambil keputusan.

Tak lama setelah itu, nama Messi kembali menarik atensi. Ia menjebol gawang Edvin van der Sar lewat sundulan usai menerima umpan Xavi Hernandez untuk mengunci kemenangan 2-0 atas Manchester United di final Liga Champions.

“Dulu saya tidak terlalu memperhatinkan taktik. Tapi bersama Guardiola, saya belajar banyak hal. Saya mulai memahami tentang ruang, penguasaan bola, dan bagaimana permainan sepak bola sebenarnya berjalan,” kata Messi kepada jurnalis Pablo Varsky pada 2024.

Dengan bermain sebagaifalse nine, ia memaksa bek tengah lawan mengambil keputusan mustahil: bertahan dan memberinya ruang, atau mengikutinya dan memberikan celah untuk pemain lainnya, seperti Thierry Henry.

Ini adalah periode di mana permainan ofensif murni mendominasi dan membawa Messi mengantar Barcelona mengangkat trofi Liga Champions dua kali dalam tiga tahun.

Messi versi yang ini menorehkan banyak rekor, di antanya mencetak 96 gol dalam 69 penampilan La Liga antara 2011 dan 2013. Ia menjadi sosok penting dari tim yang mengagungkan penguasaan bola, dan meraih empat Ballon d’Or secara beruntun.

Transisi PenyuplaiAssist

Ketika duo legenda Xavi dan Andres Iniesta meninggalkan Camp Nou, Messi dipaksa berevolusi. Ia tidak lagi berperan denganfinisher, tapi lebih ke mesin penggerak bagi keseluruhan tim.

Di tahun-tahun terakhirnya bersama Barcelona hingga akhirnya pindah ke Paris Saint-Germain, ia bertransisi sebagaiengancheatau penghubung.

Ia bermain dengan turun jauh lebih ke belakang, semakin memposisikan diri sebagai pengatur serangan utama, menyeimbangkan produktivitas mencetak gol dengan kemampuan menciptakan peluang di level elite.

Dan, ini tercermin dalam statistiknya di musim 2019-2020, ketika ia mengukir 22assistdan 25 gol.

Ketika di Prancis, catatanassist-nya menjadi luar biasa. Untuk pertama kali dalam karier klubnya, Messi mengukirassistlebih banyak dari gol dalam satu musim. Ia mengepak 11 gol dan 15 assist dalam 34 penampilan di semua kompetisi. Seorang analis Argentina menyebut Messi sebagai pencetak gol berubah menjadi Iniesta. Ia sukses bertransisi dari pemain yang menuntaskan serangan menjadi pemain yang mendikte seluruh ritme pertandingan.

Meski kecepatan fisiknya di masa muda mulai memudar, kemampuan berpikirnya dalam mengolah permainan telah mencapai level di mana ia selalu selangkah lebih maju dari lawan.

Gagal dan Bangkit

Sebelum akhirnya dipuja seperti sekarang ini, rakyat Argentina pernah mencemooh Messi. Tiga kali berturut-turut gagal di laga final turnamen mayor, Piala Dunia 2014 kalah dari Jerman, dan dua kali beruntun dibekuk Cile lewat adu penalti di Copa America 2015 dan 2016.

Tiga final dalam tiga tahun, dan semua berakhir dengan kekalahan. Messi menjadi sasaran kritik di negaranya sendiri. Nasionalismenya pada Argentina dipertanyakan. Setelah kekalahan terakhir, ia memutuskan pensiun dari pentas internasional.

Namun, Messi akhirnya kembali dan ia menjadi sosok yang berbeda. Ia tak lagi pendiam, bukan lagi pemain introvert. La Pulga lebih vokal, dan bahkan berani berkonfrontasi dengan ofisial ketika ada keputusan-keputusan yang dianggap merugikan timnya.

Di ajang Copa America 2021, tuntutan merebut gelar mayor bersama timnas akhirnya tercapai. Argentina mengakhiri puasa gelar selama 28 tahun dengan menekuk Brasil 1-0 di final di Maracana.

Hasil tersebut seolah menjadi pelepas beban yang selama ini ditanggung di pundak Messi. Hingga kemudian hadir momen yang paling ditunggu-tunggu, mengantarAlbicelestemengangkat Piala Dunia untuk ketiga kali sepanjang sejarah. Penantian panjang setelah mereka terakhir juara pada 1986 bersama Diego Maradona.

Argentina mengakhiri penantian panjang dengan meraih trofi Piala Dunia 2022. (Getty Images)

Di Qatar dua tahun lalu, publik melihat betul bagaimana Messi, yang saat itu usianya 34 tahun, menari-nari melewati Josko Gvardiol, bek muda Kroasia yang usianya baru 20 tahun, sebelum mengirim umpan cantik yang dituntaskan Julian Alvarez untuk mengantar Tim Tango ke final.

“Sepak bola telah banyak berubah,” kata Messi kepada Zinedine Zidane paa 2023.

“Cara bermain, sistem. Permainan sekarang lebih mengandalkan taktik dan fisik dibanding dulu. Dulu, Anda bisa menemukan lebih banyak ruang.”

Di Inter Miami dan Copa America 2024, Messi memang lebih banyak berjalan kaki daripada berlari. Tapi orang tak bisa mengkritik gaya bermainnya yang seperti ini. Gaya Messi justru dianggap sebagai sebuah kegeniusan, karena usianya tak lagi muda. Messi justru memanfaatkan ‘momen jalan kaki’ ini untuk melakukanscanning, membaca pergerakan kawan maupun lawan. Dan, itu terlihat jelas pada pertandingan kontra Aljazair di laga perdananya di Piala Dunia 2026.

Mungkin benar apa yang dibilang Pablo Aimar, idola Lionel Messi sejak kecil: “Messi versi terbaru selalu menjadi Messi versi terbaik.”

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+