JAKARTA - Ada tiga pemain yang dibuatkan film dalam judul “The Three Musketeers”. Adalah bagian serial “History of Football”, yang digarap sponsor Hyundai dan FIFA. Ronaldo (Brasil), David Beckham (Inggris) dan Zinedine Zidane (Prancis).
Cerita dari potongan-potongan peristiwa FIFA World Cup 1998 itu sangat cantik, melodrama dan legendaris. Cerita berdurasi dua jam itu sangat fenomenal, yang diakhiri statement, sang komentator, bahwa mereka adalah “The Kings of Planet Football”.
Ronaldo Nazario
Ronaldo, adalah pemain yang ikut mengantarkan Brasil, meraih gelar ke-4 tahun 1994. Namun, sepanjang 7 partai Brasil sampai di final, Ronaldo tak pernah diturunkan oleh Carlos Alberto Parreira sebagai pelatihnya. Karena saat itu, Ronaldo usianya baru 17 tahun. Namun, empat tahun kemudian, Ronaldo, adalah pemain termahal di dunia, saat berusia 21 tahun.
Entah itu namanya konspirasi? Entah karena sudah ancang-ancang, agar Prancis menjadi juara dunia, sebagai negara ke-7, yang pernah bisa meraih Piala Dunia, setelah Uruguay, Italia, Argentina, Brasil, Jerman dan Inggris? Entah, karena gosip yang tersebar, bahwa manajemen timnas Brasil menjual Piala Dunia kepada Prancis. Nyatanya, Brasil gagal menjadi juara dunia untuk ke-5 kalinya.
Ronaldo saat itu, dalam kondisi kejang-kejang perutnya. Bahkan, saat di rumah sakit saat diantar Roberto Carlos, teman satu kamarnya di the Chateau de Grande Romaine, markas Brasil menjelang partai final. Sempat didatangi oleh Edmundo, striker pengganti Ronaldo, “Saya menarik lidah Ronaldo yang nyaris ketelen,” demikian kata Edmundo.
Menurut cerita “History of Football”, tahun 1998 itu ,adalah tahun yang sangat kontras dengan tahun-tahun sebelumnya. Yaitu, sebagai tahun, yang memasuki sepak bola modern, di mana televisi dan sponsor, ikut andil dalam membangun skuad negara yang dipilih, untuk siap menjadi kampium dari kejuaraan antarnegara – Piala Dunia (World Cup) dan Piala Eropa (EURO).

Sampai disitu, nongol – atraksi Ronaldo Nazario, dengan kostum Nike – biru – hijau dan kuning, meliuk-liuk diantara kumpulan banyak orang, serta melewati pesawat yang sedang take-off, serta atraksi Ronaldo yang super jenius.
Bahkan sampai hari ini Nike tak akan pernah bisa, dalam jajaran sponsor ofisial FIFA, selama Adidas tetap menjadi pilihan utama, untuk kontrak jangka panjang, setiap dua puluh lima tahun sekali diperpanjang. Artinya, jika saat itu Nike memaksa timnas Brasil, tidak bisa juara, karena Adidas yang digunakan timnas Prancis mau juara, maka kesimpulannya sangat wajar, dalam sebuah konspirasi” yang caimik saat dibangun oleh FIFA.
Ada peristiwa penting, menjelang partai final Prancis vs Brasil. Bahwa, ada sekitar 30 menit Brasil belum juga latihan dan keluar dari kamar ganti. Youri Djorkaeff , gelandang Prancis, memberanikan keluar dari lapangaan, menuju ruang ganti Brasil, sambil ketuk pintu. “Ronnie, apa kamu baik-baik saja,” teriak Djofkaeff, sahabat Ronaldo di Inter Milan saat itu. “Saya okey,” jawab Ronaldo singkat.
Gary Lineker, mantan striker timnas Inggris, sekaligus topskor World Cup 1986, saat sebagai sebagai komentator ITV, salah pemilik hak siar World Cup, dalam celetukannya, juga sempat bertanya-tanya,
“Ada apa dengan Ronaldo?” Karena isu dan gosip yang berkembang, menjelang final, sangat simpang siur. Dan, 1.7 miliar pasang mata, yang sudah siap-siap nonton siaran langsung, deg-degaan dan buta informasi yang berkembang di sekitar timnas Brasil.
BACA JUGA:
Dari cerita dan rumor yang beredar, markas Brasil - the Chateau de Grande Romaine itu, punya cerita dihuni 100 hantu. Juga, ada cerita bahwa Ronaldo, kena guna-guna atau disantet dukun Prancis. Juga dikabarkan Ronaldo sehari sebelum tampil di final dibius orang tak dikenal.
Yang lebih gila lagi, ceritanya Ronaldo stres berat itu, akibat permintaan sponsor Nike, agar tidak menjadi striker utama, saat menghadapi final, lawan tuan rumah Prancis. Namun, ratusan media Brasil sudah menuding dengan tulisan besar-besar, bahwa “Tim Brasil Menjual Piala Dunia”.
David Beckham
Tahun 1998 namanya, adalah pemain sepak bola yang sangat sensasional. Ganteng, main di klub Manchester United, memiliki tendangan bebas kelas satu dunia, dan setiap gerakannya selalu menjadi sorotan semua media mainstream dunia. Intinya, David Beckham adalah “raja selebritas”, dan menjadi salah satu skuad timnas Inngris di World Cup 1998.
Saat mulai berkencan dengan Victoria Adams awal 1997, nama Beckham sudah menjadi buah bibir. Maklum, wanita yang dikencani, adalah volalis paling glamour, sebagai "Posh Spice" dari grup musik pop “Spice Girls”.
Saat dilamar Beckham, 24 Januari 1998 di sebuah restoran di Cheshunt, Inggris pun, dunia geger. Nyaris semua “paparazzi” dunia mencoba mencuri semua adegan kedua selebritas Inggris ini.
Namun, di FIFA World Cup 1998, David Beckham justru dianggap tidak dalam kondisi prima, sehingga Gleen Hoddle, pelatih Inggris tidak menurunkan Beckham dilaga pertama melawan Tunisia. Suasana pers di Prancis gundah dan binggung. Mengapa Hoddle tidak memberi tempat kepada Beckham?

Justru saat menghadapi Rumania, Beckham diturunkan menit 32, dan berikutnya Michael Owen. Dua pemain idola kelas dunia asal Inggris, saat itu. Dan, ketika menghadapi Kolombia di partai terakhir, Beckham persembahkan satu gol indah, spesialis miliknya, yaitu tendangan bebasnya.
Masuk babak “16 Besar”, menghadapi Argentina, 20 Juni 1998 malapetaka itu datang. Beckham, dijatuhkan Diego Simeone, menit ke 47. Dalam posisi terjatuh itu, Beckham menurut Kim Milton Nielsen, sang pengadil asal Denmark sengaja menjegal Simeone, sehingga langsung terjerembab. Wasit, langsung memberi kartu merah untuk Beckham. Dan, suporter “hooligans” sekaligus ofisial Inggris marah dan murka. Saat itu, kedudukan masih 2 – 2.
Kegagalan Inggris lolos ke “8 besar”, langsung ditulis besar-besar oleh semua media Inggris yang terbiasa galak-galak dan sadis. Bahwa, Beckham penyebab gugurnya Inggris melaju ke babak berikutnya, setelah kalah adu penalty lawan Argentina.
Beckham akan dibunuh, rumahnya akan dibakar, dan intinya Beckham adalah biang keladi gagalnya Inggris. Saat turun dari pesawat pun, Beckham dihina, diledek dan dicacimaki. Dan, Beckham benar-benar frustasi. Padahal, setahun sebelum Inggris gagal di Prancis, juga ada peristiwa tragis, meninggalkan Lady Diana di Paris.
Zinedine Zidane
Lain Ronaldo, lain Beckham, dan tentunya lain kondisi Zinedine Zidane, bersama tim nasional Prancis. Hanya saja kondisi negara Prancis saat itu tidak ada antusias warganya, semua cuek bebek sebagai tuan rumah.
Kerusuhan, demontrasi, dan kemiskinan melanda Prancis. Rasisme adalah masalah yang paling krusial dan sangat mengerikan di semua kawasan “suburban” kota-kota besar di Prancis.
Aimé Jacquet, sebagai pelatih timnas Prancis, digugat dan diminta petinggi-petinggi Prancis, agar tidak memanggil para pemain yang bukan asli orang Prancis. Pemimpin Partai Front Nasional, Jean-Marie Le Pen, menjadi biang keroknya, karena isu mengenai imigran muncul, lalu disambungkan dengan kondisi kemiskinan di Prancis. Bahkan, Le Pen tak ragu menyerang skuat Timnas Prancis saat itu.
Youri Djorkaeff, imigran Armenia yang menjadi gelandang serang timnas Prancis bilang, “Saya lebih Prancis ketimbang Jean-Marie Le Pen,” tegasnya dengan nada marah. Marcel Desailly, imigran asal Ghana, justru menghina balik Le Pen.
“Prancis ini bisa hebat, jika mengadopsi sebagian dari negeri multikultur,” katanya. Sebaliknya, Christian Karembeu yang berasal dari New Caledonia, Karibia itu mencibir Le Pen, sebagai manusia kerdil dan bloon.

Sementara itu, Zidane berdarah Aljazair, sepertinya ditakdirkan sebagai lelaki pendiam, tidak cerewet, dan selalu bertindak sangat “njawani”. Dua tahun sebelumnya, Ketika pembentukan skuad timnas, Zidana masih berusia 21 tahun, sehingga namanya hanya masuk dalam skuad cadangan, saat melakoni penyisihan EURO 1996, di Inggris, serta gagal ke putaran final.
Prancis, masih dihuni wajah-wajah asli Prancis, seperti Eric Cantona, Robert Pires, Laurent Blanc, David Ginola, Christophe Dugarry, Bixente Lizarazu dan Didier Deschamps.
Namun, saat Aimé Jacquet membangun tim Prancis “multikultur”, nyaris tidak ada warga Prancis dan para pemimpin politik Prancis menerima dan mendukung. Aimé Jacquet, dinilai “ndableg”, kokoh dan konsisten dengan pendiriannya, yaitu memilih non-Prancis, seperti Lilian Thuram, Marcel Desaily, Youry Djorkaeff, Christian Karembeu “young guns” David Trezeguet (Argentina). Dan, diaduk-aduk kombinasi dengan asli Prancis, seperti Fabien Barthez. Bixente Lizarazu, Laurent Blanc, Emmanuel Petit dan Thierry Henry.
Dalam pertandingan perdana menghadapi Afrika Selatan, Zidane justru tidak bermain maksimal, sehingga digantikan Alain Boghossian, menit 73. Dan, saat menghadapi Arab Saudi, partai kedua Grup C, Zinedine Zidane dapat kartu merah menit 71.
Otomatis, pada partai ke-3 menghadapi Denmark, tidak bisa main. Namun, Ketika menghadapi Paraguay di “16 Besar”, Aimé Jacquet tidak berani menurunkan Zidane, takut mentalnya masih tidak stabil, akibat terkena kartu merah.
Masuk ke babak “8 Besar”, menghadapi Italia dan kemudian menghadapi Kroasia di semifinal, Zidane masuk dalam skuad starter 90 menit. Hanya saja, Zidane sebatas menjadi seorang jendral lapangan tengah yang solid, distribusikan assist-assist-nya. Sehingga Prancis lolos ke final menghadapi Brasil.
Ada kata-kata Emmanuel Petit yang memberi spirit kepada Zidane, “Sepak bola bisa mengubah hidupkku selamanya, jika Prancis juara dunia, walaupun menghadapi Brasil, sebagai tim super favorit.”

Sedangkan, Djorkaeff juga buat statement menirukan Nelson Mandela, “Sepak bola bisa mengubah nasib bangsa.” Sedangkan, Christian Karembeu membuat komentar, “Walaupun saya bukan ras Prancis, tapi saya akan menjadi orang asli Prancis, setelah juara dunia,” tegasnya.
Puncaknya, 12 Juli 1998 – stadion Saint-Denis Prancis, memberi saksi bisa dan jejak sejarah, kepada Prancis, lewat dua gol spetakuler Zinidine Zidane dan Emmanuel Metit, disaat Prancis. Hanya bermain dengan 10 pemain, setelah Marcel Desailly dikartu merah oleh wasit asal Maroko, Belqola Said.
Puncaknya, untuk pertama kalinya, Prancis meraih gelar FIFA World Cup 1998, bersama enam negara pendulunya. Zinedine Zidane dijadikan “icon” sekaligus maskot tim “multikultur” Prancis.
“Saatnya kita bersatu,” demikian komentar Jacques Chirac, presiden Prancis menyambut kedatangan timnas Prancis di istana presiden. Dan, saat itu, seluruh ras, suku, budaya dan agama yang ada di semua kota-kota Prancis, seolah-olah menjadi warga kelas satu Prancis.
Betul kata Djorkaeff, bahwa sepak bola bisa merubah kondisi sosial budaya dan politik, setelah negara menjadi juara dunia. Dan, Zidane dijadikan simbol anti kemapanan, sebagai pahlawan Prancis.
Real Madrid
Cerita “The Three Musketeers” ini, punya jalan layar labarnya antiklimaks yang sungguh amat asyik banget.
Ketika cerita Ronaldo, Beckham dan Zidane sebagai maestro film pendek “The Kings of Planet Football”. Yaitu, ketika Ronaldo mengakhir jalan hidupnya, sebagai pahlawan, ketika menjadi penentu Brasil menggondol FIFA World Cup 2002, untuk kelima kalinya.

David Beckham, bahagia saat membalas dendam kesumatnya, setelah berhasilnya mencetak gol lewat penalti ke gawang Argentina, Pablo Cavallero, sebagai gol satu-satunya, di penyisihan grup F, di FIFA World Cup 2002, Korsel-Jepang, disaat masih diperkuat Diego Simeone. Sedangkan, Zidane mengakhir perjalanan karirnya, justru ditutup dengan “aib” yang sangat memalukan, ketika menanduk dada Marco Materazzi, menit 110. Padahal, saat itu skor 1 – 1, dicetak oleh kedua pemain tersebut. Zidane menit ke7, dan Materazzi menit 19.
Namun, ketiga maestro sepak bola dunia ini, yaitu Ronaldo, Zidane dan Beckham kembali reuni, yaitu ketiganya memperkuat Real Madrid dari 2003/04 sampai musim 2005/06. Adalah jejak sejarah fenomenal “The Three Musketeers” yang dijadikan simbol sepak bola modern awal abad 21 sebagai “The Kings o Planet Football” abad 21.
J. Erwiyantoro
(Kolumnis Sepak Bola)