Bagikan:

JAKARTA - Menurut pujangga Amien Kamil, yang menulis artikelnya di Langit Ke-7, dari hasil perenungan membaca “Kitab Inting-Inting,” mau pun berbagai karya seni kuno hingga moderen. Mencoba bersabda, bahwa sosok malaikat hadir, sebagai utusan ilahi, pelindung manusia, serta membawa wahyu.

Dari berbagai versi, entah itu dari berbagai aliran kepercayaan, hingga aliran yang tak mengenal sang pencipta. Malaikat ditugaskan menjaga keseimbangan antara alam semesta, hingga menuju alam batin dan sukma.

Malaikat, adalah utusan maha benar, yang masih misteri di dunia nyata. Khususnya, di lapangan hijau, yang dimainkan 22 pemain, sepanjang 90 menit. Suka atau suka, benci atau rindu, menggugat atau kompromi. Intinya, sepak bola yang sudah mirip agama, ternyata menyerupai malaikat. Kalau dalam cerita-cerita kuno, Namanya “santo”.

“Sejak Pele menggunakan nomor punggung 10, dan membawa namanya menjadi pahlawan negara, saya mulai ikut-ikutan memperebutkan nomor 10. Baik itu di Tottenham, Barcelona atau tim nasional Inggris,” demikian tutur Gary Lineker, mantan striker tim nasional Inggris di World Cup 1986 dan 1990.

Di Piala Dunia, Meksiko’86, Lineker menjadi pencetak gol terbanyak, 6 gol, walaupun Inggris dipermalukan oleh kejahatan Maradona, juga bernomor 10, akibat “gol Tangan Tuhan.”

Gary Lineker, penyerang tersukses Timnas Inggris. (The FA)

Bagi Inggris Tidak Mudah

Ternyata untuk memilih nomor 10, tidak mudah, terutama di Inggris. Sebetulnya, entah itu ada unsur religius atau secara kebetulan. Nyatanya, Pele memang bernasib mujur menjadi legenda abadi abad 20, karena memakai nomor punggung 10.

Padahal, saat Jules Rimet - Piala Dunia 1970, pemain timnas Brasil sejatinya, banyak yang gunakan nomor punggung 10, saat bermain untuk klubnya masing-masing.

Misalkan Pele di klub Santos nomor 10, Rivelino di Corienthians nomer 10, Tostao di Cruseiro nomor 10, dan Gerson di Sao Paolo juga nomor 10. Tapi, saat di timnas Brasil, hanya Pele yang mendapat penghargaan nomor 10.

Bulan lalu, Toni Kross, salah satu skuad inti Jerman 2014, saat meraih gelar Piala Dunia di Brasil, menurut saya semakin matang dalam menilai filosofi permainan 90 menit tersebut. “Sepak bola itu tentang keseimbangan, chemistry, kepercayaan, dan timing. Bukan, karena gunakan nomor 7, 8, 9 atau 10.”

Dalam sepak bola permainan teamwork menjadi paling utama, ketimbang individual, apalagi soal nomor punggung. Namun, dalam perjalanan sejarah sepak bola, ternyata ada bagian penting, khususnya untuk mendapatkan nomor punggung 10.

Legenda sepak bola Prancis bernomor punggung 10, Michel Platini. (ESPN/Getty)

Pele mendapatkan nomor 10 sebetulnya bukan pilihannya sendiri, melainkan pilihan sang pelatihnya. Faktanya, ballskill-nya lebih menonjol ketimbang nomor yang dipakainya, dan sejarah telah mencatat Pele bernomor 10. Selain memiliki teknik dan taktik jenius, juga diberkati “sang malaikat.”

Di Brasil, sejarah pemain menggunakan nomor 10, setelah Pele tak pernah lagi membawa keberuntungan. Misalnya, Zico yang dijuluki “Pele Putih”, ternyata justru keberatan momor 10, ketimbang prestasi, walaupun di tim Samba Brasil saat itu, betul-betul luar biasa. Piala Dunia 2002, nama Juninho “Unyil” Paulista, justru diperdebatkan, karena dipilih Mario Zagalo untuk menggunakan nomor 10 di tim nasional Brasil. Sayangnya, hanya sebagatas pemain cadangan saat meraih gelar juara World Cup 2002 di Jepang-Korsel.

Maestro Perancis, Michael Platini dinilai juga mendapatkan keberuntungan, setelah menggunakan nomor 10. Tahun 1984, nama Platini begitu membubung tinggi. Sebagai punggawa lini tengah, memiliki teknik kelas satu, skill mau pun kewibawaannya. Setiap lawan respect dan gentar. Ketika Perancis juara EURO’84, aslinya gara-gara Platini, berjersey nomor 10. Entah, diberkati atau keberuntungan, yang pasti Platini memang kharismatik.

Johan Cruyff dan Ruud Gullit

Di Belanda, nama-nama maestro-nya sejak Johan Cruyff tak pernah menggunakan nomor punggung 10. Johan Cruyff lebih hobi memakai nomor 14, Neeskens memakai nomor 13. Mungkin karena tak ada yang memakai nomor 10, Belanda di era Cruyff tidak bersinar. Buktinya, ketika Ruud Gullit menggunakan nomor 10, tim Oranye juara EURO 1988.

Johan Cruyff bisa disebut sebagai “santo.” Pasalnya, sifat Cruyff melindungi dan menganyomi. Cruyff, adalah satu-satunya pemain yang sampai meninggal, dianggap sebagai penyelemat sepak bola dunia alias “santo.”. Keindahan, kecerdikan, kejeniusan, serta sebagai mercusuar warisan abadinya.

“Total Football” yang diterjemahkan dalam disiplin taktik “tiki-taka” tak ada duanya, dalam sepak bola, berbasis keindahan, santun dan beradab, Ketika diturunkan ilmunya di Barcelona pun, menjadi pembicaraan sepak bola modern.

Bintang Belanda, Ruud Gullit ditempel pemain Jerman, Thomas Berthold saat Belanda dan Jerman bertemu di Piala Dunia 1990. (Wikimedia Commons)

Bahwa, sepak bola paling fenomenal, di abad 20 lalu. Ternyata, ada sosok karakter “anak ajaib” bernama Diego Armando Maradona. Nomornya 10, pangkatnya kapten, dan gelarnya World Cup 1986. Pangkatnya, sebagai pemain paling sakral di abad 20.

Dia, adalah pribadi yang di luar nalar dari setiap pemain di zamannya. Ballskill Maradona yang sangat “palagan.” Delapan tahun sebelumnya, Mario Kempes sudah mewarisi “titisan malaikat” yang diberikan kepada Maradona, juga dengan nomor 10. Ada julukan baru, saat Maradona meraih gelar juara dunia FIFA World Cup 1986, yaitu sebagai dewa sekaligus sebagai penjahat. Gara-gara gunakan tangan saat mencetak gol.

Roberto Baggio yang Apes

Sedangkan pemain yang paling sial, menggunakan nomor punggung 10, namun, prestasi timnya ikutan “jeblok” walaupun karakternya hebat, mungkin hanya milik Roberto Baggio.

Dia betul-betul tidak diberkati oleh dewi fortuna atau pun malaikat. Padahal, Baggio adalah salah satu pemain Italia yang paling menonjol dekade ini. Bahkan, peran Baggio di Fiorentina, Juventus atau pun AC Milan saat itu, sangat kuat sebagai “maestro.”

Sehingga, mampu membius semua pemain, untuk terfokus pada Baggio. Sayang sekali, Baggio betul-betul apes dan sial. Walaupun nomor 10 bukan miliknya di Milan (Baggio bernomor 18) tetap konsisten.

Mungkin Anda para penggemar Serie-A Italia di tahun 90-an sangat mengenal istilah ‘trequartista’ atau ‘classic number 10’. Bagi yang belum tahu ‘trequartista’, itu adalah sebutan untuk para pemain-pemain yang sangat brilian mengontrol permainan di belakang dua striker atau striker tunggal. Artinya, pemain nomor punggung 10, mempunyai skill di atas rata-rata, dengan kontrol sempurna, dribble-nya mumpuni. Insting mencetak gol yang tinggi, sekaligus haus gol jika sudah di area penalti.

Mereka, rata-rata menggunakan nomor 10, seperti Roberto Baggio, Rui Costa, Ruud Gullit, Zinedine Zidane, Allesandro Del Piero, Francesco Totti. Di La-Liga Spanyol, nomor punggung 10, bukan sebagai tradisi, walaupun ada nama Lionel Messi, yang selalu menggunakan nomer tersebut, peninggalan dari Ronaldinho.

Roberto Baggio, pemain hebat yang gagal membawa Italia menjadi juara dunia meskipun dia memakai nomor punggung 10. (ESPN/AP/Luca Bruno)

Tetapi, di Real Madrid, Atletico Madrid, Valencia atau Sevilla, tradisi nomor punggung 10 tidak penting. Begitu pula, di Premier Inggris, malahan nomor 7 sangat legenda.

Entah kini, apakah ada pemain yang hebat bernomor 10, mampu membius kota-kota di FIFA World Cup yang ke-23, saat digelar, mulai 11 Juni – 19 Juli 2026?

Selama Piala Dunia 2026, ada 16 kota yang disiapkan FIFA, untuk menggelar 48 negara. Yaitu, Vancouver dan Toronto (Kanada), Monterrey, Guadalaraja dan Meksiko City (Meksiko), serta 11 di Amerika, Seattle, San Francisco, Los Angeles, Kansas City, Philadelphia, Boston, New York, Atalanta, Dallas, Houston dan Miami.

Menjelang turnamen terakbar di jagat raya ini, nama-nama pemain yang bernomor punggung 10 sudah terdaftar di Piala Dunia 2026, yang segera digelar 11 Juni – 19 Juli 2026.

Alexis Vega (Meksiko, 10), Lee Jae-sung (Korsel, 10), Jamal Musiala (Jerman, 10), Granit Xhaka (Swiss, 10), Neymar Jr (Brasil, 10), Christian Pulisic (Amerika Serikat, 19), Ritsu Doan (Jepang, 10), Benjamin Nygren (Swedia, 10), Kyllian Mbappe (Perancis, 10), Martin Odegaard (Norwegia, 10), Lionel Messi (Argentina, 10), Brahim Diaz (Maroko, 10), Memphis Depay (Belanda, 10), Leandro Trossard (Belgia, 10), Mohamed Salah (Mesir, 10), Dani Olmo (Spanyol, 10), Sadio Mane (Senegal, 10), Bernado Silva (Portugal, 10), Luka Modric (Kroasia, 10), Jude Bellingham (Inggris, 10).

Salah satu arena pergelaran Piala Dunia 2026 di Kanada, BMO Fields Stadium di kota Toronto. (The New York Times/Chris Helgren/Reuters)

Mampukah mereka-mereka mengikuti jejak, nomor 10 di FIFA World Cup, sebagai pahlawan, topskror, monster, haus gol seperti zaman Pele, Maradona, Gary Lineker, Davor Suker, Hristo Stoichkov, Wesley Sneijder, dan Jamez Rodriguez?

Padahal, Just Fontaine, momor punggung 17, striker asal Perancis, di Piala Dunia 1958, pernah mencetak 13 gol dalam satu turnamen, yang belum dipecahkan rekornya. Atau, ada nomor 8 seperti Sándor Kocsis, playmaker Hongaria, di Piala dunia 1954, dengan 11 gol?

Di zaman “now”, ada satu pemain, yang mengikuti 4 kali putaran final World Cup, sudah mengumpulkan 16 gol. Namun, nomor punggungnya 11, namanya Moroslav Klose, asal Jerman, sudah mengemas 16 gol, selama memperkuat Jerman,2002, 2006, 2010 dan 2014.

FIFA World Cup selalu punya cerita baru, dramatis, entah itu kegembiraan atau kesedihan, sekaligus tragedi dan keberuntungan. Mungkin, belum ada yang mampu lahir lagi, sebagai “santo” seperti Johan Cruyff?

Daftar Top Skor Piala Dunia

Miroslav Klose (Jerman, nomor punggung 11), 16 gol, 24 pertandingan, 2002, 2006, 2010, 2014.

Ronaldo (Brasil, nomor punggung 9), 15 gol, 19 pertandingan, 1994, 1998, 2002, 2005.

Gerd Muller (Jerman Barat, nomor punggung 13), 14 gol, 13 pertandingan, 1970, 1974.

Just Fontaine (Perancis, nomor punggung 17), 13 gol, 6 pertandingan, 1958).

Lionel Messi (Argentina, nomor punggung 10), 13 gol, 26 pertandingan, 2006, 2010, 2014, 2018, 2022.

Pele (Brasil, nomor punggung 10), 12 gol, 14 pertandingan, 1958, 1962, 1966, 1970.

Kylian Mbappe (Perancis, nomor punggung 10), 12 gol, 14 pertandingan, 2018, 2022.

Sandors Kocsis (Hongaria, nomor punggung 8), 11 gol, 5 pertandingan, 1954.

Jurgen Klinsmann (Jerman Barat/Jerman, nomor punggung 18), 11 gol, 17 pertandingan, 1990, 1994, 1998.

Helmut Rahn (Jerman Barat, nomor punggung 12), 10 gol, 10 pertandingan, 1954, 1958.

Gary Lineker (Inggris, nomor punggung 10), 10 gol, 12 pertandingan, 1986, 1990.

Gabriel Batistuta (Argentina, nomor punggung 9), 10 gol, 12 pertandingan, 1994, 1998, 2002.

Teofilo Cubilas (Peru, nomor punggung 10), 10 gol, 13 pertandingan, 1970, 1974, 1982.

Thomas Muller (Jerman, nomor punggung 13), 10 gol, 19 pertandingan, 2010, 2014, 2018, 2022.

Grzegorz Lato (Polandia, nomor punggung 16), 10 gol, 20 pertandingan, 1974, 1978, 1982.

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+