JAKARTA - Pada akhir 1960-an, ada pemain sayap murni, atau disebut dalam posisi winger, yang sangat digandrungi, terkenal dan selebritas papan atas. Namanya, George Best, asal Irlandia Utara. Saat Best memperkuat Manchester United, ikut andil besar memboyong gelar Piala Champions, 1968. Dan, George Best dipilih FIFA, sebagai FIFA Player of the Century, abad 20, sekaligus pemain terbaik “benua biru” Eropa, tahun 1968.
Sebagai sayap murni, George Best, satu-satunya pemain yang hanya besar di klub. Tapi, tidak pernah membawa negeranya, Irlandia Utara, lolos ke putaran final World Cup, hingga gantung sepatu. Begitupula, Ryan Giggs, sayap asli Man-U, juga menjadi salah satu winger terbaik di dunia di zamannya. Nasibnya, sama dengan Best, tak pernah membawa Wales, lolos putaran final Piala Dunia.
Dahulu saya pernah melihat Jairzinho, sayap kanan Brasil 1970, full skill, determinasi kecepatan, umpan krosingnya aduhai. Juga nonton di televisi hitam-putih, left winger Rob Rensenbrink, Belanda 1974.
Ada pemain dijuluki “The Wizard of Dribble” dalam diri Stanley Matthews, di Piala Dunia 1954, saat memperkuat Inggris. Eder dari Brasil, di Piala Dunia 1982. Atau, beberapa winger terbaik selama ikut World Cup, seperti Pavel Nedved, dari Rep. Ceko, 2006. Luis Figo, Portugal, 1998. Arjen Robben, Belanda 2010.
Menilai pemain sebagai winger, bisa diartikan memposisikan dirinya sebagai pemain sayap kanan atau pun kiri. Sebagian dari pemain sayap, mampu menentukan prestasi negaranya meraih gelar terbaik di dunia.

Rata-rata pemain sayap dijamin memiliki keistimewaan ball skill tinggi, kecepatan dribble di atas rata-rata, gocek bola meliuk-liuk, sulit dihadang. Dan terakhir, punya krosing jitu. Kini, di zaman “now” ikutan nambah, mencetak gol, dan mungkin bisa topskor.
Di ajang kelas dunia, sekaliber World Cup, selalu lahir banyak talenta, atau pun, mujur sebagai bintang baru. Saya mencoba mengupas sekaligus memberi referensi kepada membaca di facebook. Bahwa, akan ada pemain paling moncer, khususnya sebagai pemain sayap murni – winger. Sepanjang digelar di 16 stadion, dari Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, 11 Juni- 19 Juli 2026 mendatang.
Nyaris yang saya pilih, semuanya saat ini merumput di liga-liga elit Eropa.
Ousmane Dembele
Faktanya, kaki kanan dan kirinya sudah teruji, mampu meraih Ballon d’Or 20025, setelah menjadi pahlawan Paris Saint-Germain memboyong Champions League 2024-25, dan kemudian musim ini, 2025 – 26, kembali jawara klub Eropa. Padahal, postur tubuhnya ceking. Namun, spint larinya, sulit dibendung bek kiri atau double center-back lawan.
Sebagai sayap kanan, Dembele, dalam usia emas di World Cup 2026. Prestasinya, ikut membela “Les Blues” juara Piala Dunia 2018, dan finalis World Cup 2022. Kayaknya, World Cup 2026, menjadi yang terakhir, dalam usia 28 tahun. Walaupun, Piala Dunia 2030 mendatang, usianya sekitar 32 tahun.
Prestasi puncaknya, memang belum berakhir, faktanya final Champions League 30 Mei 2026 lalu, Dembele sebagai penentu PSG, saat eksekusi penalti, hingga kedudukan 1 – 1. Setelah 120 menit, PSG membawa keberuntungan, juara, atas Arsenal, lewat tos-tosan.

Mohamed Salah Hamed
Pemain kidal, di posisi sayak kanan Liverpool ini, adalah puncak prestasi membawa Mesir ke Piala Dunia 2026. Julukan “Egyptian King” masih pantas diperhitungkan, sabagai salah satu winger terbaik di abad 21 ini. Mohamed Salah, sudah meraih empat kali, peraih Golden Boots, Premier League.
Salah, punya satu kelebihannya, mampu menggiring bola selama mungkin, dan doyan banget menipu bek kiri semua klub-klub elit Liga Inggris dan klub legenda Eropa. Pantas, jika Salah, akan menjadi “jiwa” Mesir, sejak penyisihan grup G, bersama Belgia, Iran dan Selandia Baru.
Luis Diaz
Salah satu winger paling berbahaya di World Cup 2026 nanti, adalah pemain sayap kiri Kolombia. Duet maut bareng Michael Olise di Bayern Muenchen, menjadi saksi bisu. Luis Diaz, tidak merasa minder, jika berganti posisi sebagai winger kanan. Intinya, pemain yang dijuluki “Luchito” selalu tampil sangat tinggi tensinya, pekerja keras, ngotot dan konsisten fisiknya berlari sepanjang 90 menit.
Jika, Kolombia bisa lolos dari Grup K, bersama Portugal, untuk menggeser Uzbekistan dan Republik Demokrasi Kongo, menuju babak 32 Besar. Menurut mBah Coco, Kolombia bisa melangkah jauh ke babak berikutnya, hanya karena keistimewaan Luis Diaz. Sosoknya, selalu tampil enerjik, bernyali sebagai petarung winger abad 21.

Lamine Yamal
Siapa pun, tidak akan berdebat tentang pilihan Lamine Yamal? Saat berusia 16 tahun, sudah menjadi “selebritas” lapangan rumput Eropa. Bersama Barcelona, mau pun di skuad “La Roja” Spanyol. Kunci keberhasilan Spanyol meraih juara EURO 2024, karena kehebatan Yamal, di posisi winger kanan.
Banyak yang menilai, Yamal adalah titisan Maradona, Messi, yang pernah menikmati kota Barcelona. Kaki kirinya sangat tajam mengarahkan bola ke sudut tiang jauh kiper lawan, untuk setiap gol demi gol-nya. Dia salah satu “young guns” sayap murni, yang paling dinanti-nanti pirsawan televisi dunia. Khusunya, saat nonton tim nasional Spanyol berlaga sejak penyisihan Grup H, Bersama Cape Verde, Arab Saudi dan Uruguay.
Vinicius Junior
Bicara Lamine Yamal, berarti ngomongin Vini Jr, lawan abadinya di Real Madrid. Sebagai winger kanan, Penampilanannya sangat menakutkan. Dribbling tipunya membuat decak kagum penonton. Saat ini, selama di Real Madrid, Vinicius paling pantas dinobatkan sebagai jawara winger paling brilian.
Jika Brasil sukses melaju ke babak 32, dan kemudian 16, dan 8 Besar World Cup 2026, dipastikan gara-gara penampilan Vini Jr yang terbiasa meliuk-liuk menipu bek kanan Bukan, karena Neymar Jr. Maka, tim nasional Maroko, Haiti dan Skotlandia di Grup C, dibuat repot. Di fase 32 besar, kemungkinan Korsel atau Rep. Ceko, dibuat kelimpungan.

Bukayo Saka
Gol tunggal ke gawang Atletico Madrid, di leg 2 semifinal Champions League, adalah gol ikonik standart dari Bukayo Saka, sehingga meloloskan Arsenal, setelah 20 tahun menunggu naik tangga sebagai finalis. Winger kanan “Gudang Peluru” ini menjadi pembeda dari sekian banyak pemain sayap kanan.
Saka, adalah asset paling berharga bagi Arsenal, dan tentunya bagi “The Three Lions” di World Cup 2026 nanti. Pemain berdarah Nigeria ini minimal bisa mencetak 2 gol di penyisihan grup L, Bersama Kroasia, Ghana dan Panama.
Yang paling berbahaya dalam karakter Bukayo Saka, adalah sebagai pelanggan tendangan pojok untuk Arsenal mau pun Inggris. Tendangan kaki kirinya, suka melengkung tajam. Kadang-kadang, tendangannya tanpa bisa dihadang kiper pun, bisa jeblos ke gawang.
Jeremy Baffour Doku
Kalau sudah nekad bernyali untuk menjebol gawang lawan. Liuk-liuk kakinya, sangat mudah menipu lawan, dan tendangan terukur ke pojok gawang lawan, adalah spesialis Jeremy Doku, di Manchester City. Asal tidak egois, Belgia beruntung mendapakan winger kanan, berdarah Ghana. Dan, Doku sudah membuktikan kunci lolosnya Belgia di penyisihan grup Eropa.
Ada istilah selama bermain di Manchester City, kata seniornya di Man-City mau pun di Belgia - Kevin De Bruyne, “Jika Doku sebagai pemain pengganti di menit kapan pun. Maka, gaya dan karakter Manchester City, akan berubah total, mengikuti irama dribble-nya, sprint-nya, serta tricky-nya. Assit-nya sangat ditunggu semua teman-temannya.
Rafael Leao
Bicara Rafael Leao, harus bicara Sporting CP. Klub Portugal tersebut, pernah disinggahi para pemain legenda, seperti Pele, Zico, Ronaldinho, Cristiano Ronaldo, Bruno Fernandez. Banyak sekali pemain yang dibesarkan, dan memiliki ilmu sepakbola dari Sporting CP.
Rafael Leao, yang kini bermain di AC Milan, merupakan pemain sayap kiri Portugal di World Cup 2026 mendatang. Pemain berdarah Angola ini, sering dijuluki “The Portuguese Mbappe”. Di timnas Portugal, yang dibutuhkan dari Leao adalah umpan-umpannya, yang sangat presisi, bagi pemain sekaliber Cristian Ronaldo.

Michael Olise
Michael Olise, bisa dikatakan sebagai “newcomer” di gelandang internasional, bertajuk FIFA World Cup. Walaupun usianya sudah 24 tahun, pemain berdarah Inggris, Nigeria, Alzajair ini, dinilai sangat unik. Lahir di Inggris, tapi saat di usia muda, sudah memilih Perancis U-15 dan U-21.
Saat usia belia, Olise dianggap cemen, oleh Arsenal, Chelsea, Manchester City, Reading dan Crystal Palace. Namun, di usia ABG, Olise yang suka bermain di winger kanan, menemukan jalan terbaiknya, menuju Bayern Muenchen. Hasilnya, mampu meloloskan Bayern ke semifinal Champions League 2025 – 26. Dan, baru saja juara Bundesliga 2025-26.
Olise punya ketrampilan menggoreng dan mengoper bola. Doyan berlincah-lincah di belakang pertahanan lawan yang agak jauh. Namun, kedua kakinya, sama baiknya, mencetak gol indah. Walaupun aslinya, kidal.
“Idola saya sejak kecil Neymar. Dia selalu memainkan sepakbola yang rumit. Dan, saya suka banget main dengan karakter yang rumit,” tegasnya.
Christian Pulisic
Sejak lahir, pemain berdarah Kroasia ini, sudah dinaturalisasi timnas Amerika Serikat, dan sejak usia muda, sudah memperkuat Amerika U-15, U-17 dan tim nasional senior. Setelah matang di USA, Christian Pulisic hijrah ke Borussia Dortmund, Chelsea dan menclok AC Milan.
Bagi mBah Coco, Pulisic satu-satunya winger yang lengkap. Terbiasa nyaman di kiri dan kanan, pamornya lumayan sebagai playmaker. Sekali-kali terpaksa, sebagai mesin gol. Khususnya untuk tim nasional Amerika Serikat.
Siapa tahu, Pulisic menjadi bintang baru di ranah negaranya sendiri?

Sebetulnya punya banyak pilihan pemain, yang berposisi sebagai winger, yang siap berlaga di Piala Dunia ke-23, di Kanada, Meksiko, Amerika Serikat, 11 Juli-19 Juli 2026 mendatang.
Dari timnas Perancis, bisa mencuat nama Desire Doue dan Bradley Barcola (Paris SG) serta Rayan Cherki (Manchester City). Dari Brasil, masih pantas ada Raphinha (Barcelona), dan Endrick (Lyon). Inggris, punya spesialis winger sejak 2018 dalam diri Marcus Rasford Semifinalis Piala Dunia 2002 – Turki, memiliki Kenal Yildik (Juventus). Dari tim “Panzer” Jerman, masih punya Karim Adeyami (Borussia Dortmund), Belanda punya bek sayap, Jeremie Frimpong (Liverpool).
Hanya saja, jika boleh memilih, ada beberapa pemain sayap murni, namun tidak bisa memperkuat negaranya, akibat tidak lolos ke putaran final World Cup 2026 kali ini.
BACA JUGA:
Maka, pilihannya, jatuh pada Khvicha Kvaratskhelia, sayap kiri asal Georgia, yang bermain untuk Paris Saint-Germain, serta Bryan Mbeumo, pemain asal Kamerun, yang gemilang berjersey Manchester United. Khusus, Khvicha Kvaratskhelia, jika tidak ada event Piala Dunia 2026, sejatinya adalah pemain paling pantas peraih Ballon d’Or 2006.
Pertanyaannya, Kvaratskhelia dan Mbeumo, sebaiknya memperkuat negara mana sebagai pemain “tarkam” selama di World Cup 2026?
J. Erwiyantoro
(Kolumnis Sepak Bola)