JAKARTA - Stadion sepak bola identik dengan panggung sinema. Semisal, arena syuting film diibaratkan sebuah pertandingan sepak bola. Maka, semua kru dipastikan akan terlibat di dalamnya. Jabatan sutradara, pelakon utama, pemeran pembantu, pemeran pengganti, penulis naskah, pembuat setting dekorasi-nya, audience dan juga media masa yang menyiarkan kegiatan itu ke seluruh pelosok dunia.
Blockbuster tahun 2026 ini, adalah film bertajuk FIFA World Cup 2026, yang memproduksi 104 episode. Bedanya hanya satu, di dalam pertandingan sepak bola tidak ada re-take (pengambilan gambar berulang-ulang). Waktu 90 menit, untuk in-actions para ‘artis’ diberikan, cuma satu kesempatan. Hasilnya: kalah, menang atau seri dan kemudian bisa tos-tosan alias, adu penalti sebelum melenggang ke babak berikutnya.
Di bawah pengawasan wasit yang menjadi “sutradara”, pemain beraksi mengeluarkan kelebihan akting masing-masing di lapangan. Ada yang berakrobatik, ada yang diving, atau ada yang pura-pura menjerit kesakitan.
Dalam pertunjukan “anak wayang”, penulis naskah diperankan oleh sang pelatih. Kerap kali, dia sebagai arsitek di luar lapangan, hanya mampu bisa gregetan melihat kenyataan, bahwa apa yang terjadi di lapangan tak berjalan seperti yang ditulisnya.

Lalu siapa yang berperan sebagai produser? Jawabnya, dalam film World Cup 2026, jabatan ini tentu disandang oleh FIFA. Lembaga kasta tertinggi organisasi yang paling sangar se-jagat raya. Makanya, “selebritas” yang akan berada di Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat,, selama 39 hari, 11 Juni-19 Juli nanti, sangat glamour.
Seperti layaknya produser, FIFA itu kadang punya sikap diktator, yang hanya menomorsatukan perangkat dan personil terbaik yang digunakan dalam filmnya. Di benaknya cuma satu, meraih Oscar dan film harus sukses di pasar dan menjadi boxoffice. Apalagi saat ini sepak bola bisa diatur dan tunduk oleh kepentingan televisi dan sponsor.
Oleh sebab itu, FIFA menggelar casting yang bernama babak kualifikasi, di lima benua. Hasilnya, hanya 48 negara terbaik dari sekitar 202 negara yang boleh ikut main dalam filmnya. Suporter yang berduyun-duyun ke stadion, diidiomkan sebagai audience, yang tak hanya diberi tugas sebagai penonton belaka.
Mereka dua puluh dua (22) laki-laki saling menendang bola, dan Argentina di World Cup 2022 sebagai jawaranyta. Sepertinya, semua terlibat secara emosional di dalam pertunjukan tersebut.
BACA JUGA:
Begitu pula Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat, yang ditunjuk sebagai tuan rumah ingin mencoba. Khususnya Meksiko, yang pernah jadi tuan rumah Piala Dunia 1970 dan 1986 serta, Amerika Serikata di Piala Dunia 1994, ingin bernostalgia, dan mencetak hiburan spetakuler abad 21..
Sepak bola sudah menjadi “panggung theater kehidupan”. Jutaan manusia terlibat di dalamnya. Dari berbagai peran yang mereka mainkan, dari mulai berteriak gembira, histeris, atau sebaliknya marah, malu, cengeng, mengumpat, juga tidak tertutup ada konspirasi, yang siap dicetak oleh FIFA.
Fenomenal
Bagi saya, mengkaitkan Piala Dunia 2022 adalah, dengan Piala Dunia 2026. Sebagaimana pembuat film kolosal yang baik. Seolah-olah, manusia di kolong langit, tidak bisa memastikan akhir dari film kolosal ini?
Pasalnya, film yang akan diputar di ‘layar hijau’ itu, sedang siap-siap digelar, dan sedang menunggu peluit sang “pengadil” dan bernama wasit, dibantu VAR. Artinya, sebelum peluit berakhir, pada pertandingan pamungkas di Stadion Asteca, Meksiko,11 Juni 2026,. Kesimpulan, sang peraih ‘Oscar’ sepak bola, masih dinantikan miliaran pasang mata, hingga 19 Juli mendatang.
Perjalanan Jules Rimet Trophy (1930 – 1970) yang menjelma menjadi World Cup Trophy (1974 hingga saat ini). Sepak bola adalah ibarat dongeng, hikayat, foklor, atau mirip tahayul, yang lahir ribuan tahun, sebelum ada peradaban manusia.
Faktanya, di lapangan hijau sejak ribuan tahun, hingga melahirkan sepak bola modern. Dari permainan 22 pemain inilah, akhirnya justru secara tidak sengaja muncul embrio baru. Seolah-olah lahir “agama baru” atau “dewa”.
Sejak Brasil, meraih gelar juara dunia Jules Rimet 1958, Pele usianya masih 17 tahun. Dan, saat itu, ketua umum PSSI-nya Brasil, Joao Havellange (nantinya jadi presiden FIFA), sudah menolak mentah-mentah masuknya Pele, dalam skuad ‘Jogo Bonito’. Namun, ternyata di Swedia, saat final, nama Pele yang jadi pahlawan. Dan, berlanjut sampai Brasil merebut ketiga kalinya Piala Jules Rimet (cikal bakalnya embrio World Cup Trophy) tahun 1970.

Sejak menelorkan ‘The Dream Team’ sepanjang masa dalam tim Brasil 1970, masyarakat Brasil yang kini berjumlah 213 juta, sudah merasakan denyut darahnya, sebagai darah “Sepak Bola sebagai Agama Baru”. Warga Brasil menganggap “Sepak Bola” bukan hanya sebagai olah raga, namun mereka menganggap sebagai agama.
Preview film FIFA World Cup 2026, sudah dimulai, ketika Carlo Ancelotti, mengumumkan skuad 26 pemain, 18 Mei 2026 lalu. Lihat saja, penduduk Brasil yang sudah deklarasi, pemilik tunggal DNA sepakbola, menantikan Ancelotti untuk menyebut nama Neymar Jr, sebagai pemain nomor 10, dalam daftar skuad menuju Piala Dunia 2026
Suasana gemuruh, memadati di Museum do Amanha, Rio De Janeiro. Menurut pembuat skenario FIFA. Bahwa, pengumuman skuad Brasil, menandakan televisi dan sponsor, sangat terlibat langsung “membungkus” FIFA World Cup 2026, sebagai event paling saklar dan glamour tahun 2026 ini, menuju tangga “boxoffice”.
Ini menandakan, bahwa warga Brasil, punya jejak sejarah, sepakbola sudah mirip “Agama”, Lengkap, membangun strukturnya yang super mewah, memiliki “Dewa”, yang mereka panggil dengan sebutan 'Pele'. Makanya, saat menjelang berangkat ke Amerika Serikata, pesawat yang membawa timnas Brasil, dipabtis – diberkati, Semim, 2 Juni 2026 lalu, di Bandara Galeao, Rio de Janeiro.
Jika terkait ideologi. Ada seorang “Lucifer” bernama “Ademir” Si Fallen Angel. Warga Brasil juga sudah menciptakan “Dajjal”, dinamakan Moacir Barbossa, kiper tim nasional Brasil yang dijebol, striker Uruguay, Alcides Ghiggia. Untuk mengubur nasib Brasil, sebagai jawara di World Cup 1950, di depan publiknya, Stadion Maracana.
Agama Baru
Ada cerita, 12 tahun lalu di Argentina duet presenter BBC Knowlegde membuat feature film “The Road to Rio”, yaitu Mark Watson dan Henning Wehn, sebanyak episode. Isi ceritanya, mereka berdua menguber legenda Argentina, Dieago Maradona.
Mark dan Henning adalah komedian, didaulat jadi ‘host’. Mereka berdua, sangat kaget, melihat gedung tidak mewah, di pintu gerbangnya, terpampang tulisan besar, “Gereja Iglesia Maradoniana”. Di dalam gedung, suasana memang sama dengan gereja-gereja Katolik, ada yang masih berdoa, hening dan khusyuk.
Bagi pengikut Diego Armanda Maradona, Iglesia Maradoniana (bahasa Inggris: Church of Maradona, secara harafiah Gereja Maradonia), sebagai “agama”. Menurut laman Wikipedia, “Agama” tersebut diciptakan, oleh penggemar Maradona, setelah pensiun sebagai pemain sepak bola Argentina.
Ceritanya, sangat dipercaya dan diyakini, bahwa Maradona adalah pemain sepanjang masa, hingga kiamat, yang didaulat sebagai dewa – “Tuhan”. Kini, pengikutnya sudah mencapai 4 juta umat.
“The Iglesia”, didirikan, 30 Oktober 1998 (ulang tahun ke-38 Maradona) di kota Rosario, Argentina. Hal ini, dapat dilihat sebagai jenis “sinkretisme” atau sebagai “agama”. Hanya saja, tergantung bagaimana setiap orang, mau mendefinisikan dari “agama” saat untuk menggunakannya?

Dikatakan oleh Alejandro Verón, salah satu pendiri, "Saya memiliki agama yang rasional, yaitu Katolik, dan saya memiliki agama sesuai hati, gairah, dan itu ada di dalam sosok Diego Maradona."
Bagi mereka, para pendukung “Gereja Maradonian”, dianggap sudah berdiri, dihitung sejak kelahiran Maradona, 30 Oktober 1960.
Salah satu yang asyik, saat Mark dan Henning mengikuti kebaktian di Gereja Iglesia Maradoniana, mirip dengan agama Katolik, di mana ada “10 Perintah Allah’. Sementara, di gereja “The Iglesia”, juga punya pedoman “10 Perintah Maradona”.
Dari daratan Amerika Latin, karnaval, musik, dan bola sudah melebihi “agama’. Beda, dengan cara pandang di daratan Eropa. Dari kawasan ini, sepak bola, menjadi ajang “menjual pemain sepak bola,” bagian dari alat bisnis yang sangat dahsyat.
Selebritas
Anda sekalian, pasti mengenal David Beckham. Dari sosok pemain nasional Inggris inilah, dunia sepak bola menjadi gemerlap.
David Beckham, tidak pernah menjadi pemain hebat di World Cup. Bahkan di tim nasional Inggris sejak meraih gelar World Cup 1966, sampai hari ini, belum mampu lolos ke final. Hanya saja, di zaman Beckham, justru mampu ‘dimasak’ sebagai sosok yang sangat fenomenal.
Seolah-olah fantastik, bagaikan negeri “dongeng”. Perkawinannya, dengan Victoria “Posh” Adams, salah satu vokalis Space Girls, menjadi “ikon” yang tak ada duanya, sampai hari ini.
Keduanya pun didaulat sebagai pasangan yang sempurna, seolah-olah abadi. Penampilan keren, kaya, ganteng dan cantik. Dianggap spetakuler. Keduanya, sama-sama memiliki karier gemilang.
Pasangan pesepakbola dan penyanyi, serta desainer ini, jadi cerita-cerita dongeng di abad millennium ke-3. Sampai menjelang World Cup 2026, pasangan Beckham-Victoria, didaulat sebagai “pesohor” sepanjang masa’.
Dari semua legenda-legenda hidup, memang tidak sehebat atau sekaliber Pele, Maradona, Messi, dan Beckham. Namun, bukan berarti, para pemain yang pernah dibesarkan dalam event raksasa World Cup Trophy, tidak punya cerita-cerita bombastis?
Lihat saja, mereka-mereka setelah gantung sepatu, seperti Carlos Alberto - Brasil 1970, Franz Beckenbauer - Jerman Barat 1974, Mario Kempes - Argentina 1978, Paolo Rossi - Italia 1982, Rudi Voeller - Jerman Barat 1990, Romario & Bebeto - Brasil 1994, Zinedine Zidane - Prancis 1998, Ronaldo - Brasil 2002, Allesandro Del Piero - Italia 2006, Fernando Torres - Spanyol 2010, Miroslav Klose – Jerman 2014, Mbappe – Prancis 2018, dan yang terakhir Lionel Messi – Argentina 2022. Mereka justru menjadi inspirasi bagai anak-anak miskin di kolong jagat ini.

Mereka-mereka adalah pahlawan-pahlawan bangsanya, di luar peperangan antar negara seperti yang kemarin dialami Iran vs Israel dibantu Amerika Serikat, .yang sesungguhnya.
Mereka, meletakan dasar-dasar, seorang anak manusia yang awalnya anak-anak miskin, punya mimpi-mimpi, dan kemudian mampu membuktikan di lapangan hijau, lewat, skill, talenta dan intelegensianya.
Theater kehidupan itu, justru dilalui setelah mereka gantung sepatu, dan dijadikan “dewa-dewa kecil” di negaranya, dilingkungannya, dan di komunitasnya.
Sejak Piala Dunia digulirkan 1930, hingga sampai 2022 yang digelar di Qatar, untuk yang ke-22 kalinya, sudah segepok maestro bintang kelas satu. Namun, juga banyak pemain hebat, justru tak merasakan gelar Piala Dunia seperti Ferenc Puskas - Hongaria 1954, Johan Cruyff - Belanda 1974, Zico - Brasil 1982, Roger Milla - Kamerun 1990, Hristo Stoichkov – Bulgaria 1994, David Beckham – Inggris 1998, Ahn Jung Hwan – Korea Selatan 2002, Diego Forlan – Uruguay 2010, Neymar Jr – Brasil 2014, Cristiano Ronaldo – Portugal 2018, serta Luka Modric – Kroasia 2022.
Kini, di ajang World Cup Trophy 2026 di Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat. Mampukah, anak-anak muda bermimpi seperti Pele, Maradona, Messi dan David Beckham?
Kita lihat saja, 11 Juni-19 Juli 2026 mendatang, nama-nama seperti Lamine Yamal (Spanyol), Bukayo Saka (Inggris),Michael Olise dan Desire Doue (Perancis), Jamal Musiala (Jerman), Endrick (Brasil), Ibrahim Mbaye (Senegal), Giberto Mora (Meksiko), Arda Guller dan Kenal Yildiz (Turki), Erling Haaland (Norwegia) atau Nico Paz (Argentina) akan mengikuti jejak seniornya, menjadi “Dewa” atau mencetak “Agama Baru”?