JAKARTA - Piala Dunia adalah harta pusaka yang besar dan sangat sederhana. Sama seperti permainan sepak bola itu sendiri, sederhana. Alkisah, pada Perang Dunia II, piala yang terbuat dari emas, dengan tinggi 14 inci dan berat 11 pound, pernah disembunyikan di balik kasur di suatu kota di Italia.
Tujuannya, agar tidak dirampas pasukan musuh. Beberapa tahun kemudian, piala yang tengah dipajang dalam suatu pameran di Inggis, dicuri. Kemudian ditemukan, di tumpukan sampah oleh seekor anjing, bernama Pickles.
Ini hanya sedikit cerita mengenai FIFA World Cup.
Yang paling penting, adalah betapa dungunya, jika dunia tak menyadari keajaiban, kemuliaan, dan keagungan, acara spektakuler yang selalu berlangsung empat tahun sekali ini. Buruntunglah negara yang mendapat kesempatan menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Tengok saja, kualifikasi babak penyisihannya yang sangat ketat. Diikuti 203 negara anggota FIFA, memainkan 600 pertandingan selama I8 bulan. Hanya untuk menentukan, siapa yang berhak masuk dalam ajang FIFA World Cup?

Event Piala Dunia, selalu menarik perhatian miliaran pasang mata. Diperkirakan, selama pertandingan, ada 31 miliar pemirsa yang menonton dari 460.00 stasiun televisi. Jumlah ini 31 kali lipat lebih banyak, dari saat orang menonton acara manusia pertama kali mendarat di bulan – satu tempat, yang tidak mungkin, menjadi penyelenggara Piala Dunia, untuk saat ini.
Masalahnya, jika membicarakan sepak bola, tidak akan ada muaranya. Tidak ada sudut pandang yang sama, semuanya selalu bersdasarkan presepsi. “The World Cup is the world”.
Bangkitkan Banyak Hal
Ajang Piala Dunia, mampu membangkitkan banyak hal. Dari nasionalisme, korupsi, politik, kebusukan, sosial, bisnis besar, pemisahan kelas, semangat olah raga, cinta, kerakusan, kekerasan, seks, bahkan perang.
Ada suporter yang memilih bunuh diri, sudah jadi hal biasa. Kebrutalan “hooligans” Inggris di Stadion Brussel 1995, yang menewaskan 39 orang, menjadi satu noda yang tak terlupakan dalam sejarah sepak bola dunia. Peristiwa “Hillsborough Disaster” 15 April 1989, menewaskan 97 suporter Liverpool, menjadi tragedi yang sulit terjawab. Di dalam negeri, Tragedi Kanjuruhan, 1 Oktober 2022, juga masih menjadi “abu-abu” proses hukumnya.
JB Priestley, penulis skenario, pernah membuat artikel, “Sepak bola menawarkan konflik dan seni.” Filsuf Albert Camus, juga mengungkapkan, “Dalam sepak bola, ia belajar bahwa bola tidak akan datang ke arah yang Anda inginkan. Ini membantu saya menghadapi hidup”.
Banyak negara dan agenda-agenda global, bergantung pada hasil cabang terpopuler sejagat itu. Honduras dan El Salvador, menyatakan perang, ketika tim mereka terlibat perkelahian di babak kualifikasi Jules Rimet Trophy (sebelum World Cup) 1970. Diktator militer Argentina, yang selama itu tidak dipercaya, dan tidak didukung rakyat, bertambah kredibilitasnya ketika tim tuan rumah menjuarai Piala Dunia 1978 di Buenos Aires.

Lain negara lain cerita. Setelah untuk pertama kalinya masuk dalam balak final 1994, kesebelasan Yunani berkumpul bersama pelatih mereka Alketas Panagoulias.
“Anda bukan hanya duta sepak bola Yunani, tapi juga duta negara ini sendiri. Semangat dan kebulatan tekad kalian, jauh lebih kuat ketimbang upaya diplomatik apa pun. Negara kita tidak bisa ditawar-tawar. Begitu juga dengan harga diri Yunani,” ucap sang pelatih dengan semangat.
Apa pedulinya? Panagoulias bukan orang Yunani, ia warga negara Austria. Tapi dalam sepak bola, semuanya sama.
BACA JUGA:
Hanya Satu yang Tetap
Bagi orang yang tidak tahu, dan dari mana asal tim-tim tersebut, tak usah bingung. Semua kesebelasan punya ciri khas masing-masing. Dulu sampai hari ini, timnas Italia mengenakan kostum rancangan Valentino.
Pemain Brasil diperintahkan hanya boleh melakukan hubungan seks, setelah pertandingan usai. Jungkir balik khas, tim Kolombia, setiap sukses cetak gol, disebut Fausto Asprilla, atau Salsita (ia suka musik salsa).

Jika semua ini kedengaran sebagai hal-hal biasa dalam sebuah event besar. Ya, tentu saja karena Piala Dunia, adalah pesta super raksasa, mewah, glamour. Malahan jauh lebih besar, ketimbang hajatan apa pun di muka bumi ini.
Hanya satu yang tak berubah, para pemain. Dalam satu penelitian, yang dilakukan psikolog Italia, tahun 1993, “Pemain sepak bola adalah individu yang sombong, egois atau mementingkan diri sendiri, kekanak - kanakan, pria goblok yang tak cocok jadi seorang ayah, dan yang hidup dalam dunia bualan. Yang dipikirkan para pemain hanyalah mobil sport, wanita, cari duit, dan popularitas.
J. Erwiyantoro
(Kolumnis Sepak Bola)