Bagikan:

JAKARTA - Tidak ada event olahraga yang sedahsyat Jules Rimet (kini namanya berubah Piala Dunia FIFA). Setiap digelar, ajang pertandingan sepak bola ini selalu mencuri perhatian dari penggila bola seantero dunia.

Bahkan di hari-hari biasa bagi orang yang tak suka sepak bola, ujug-ujug saja menjadi penggila sepak bola. Umpanya, saat ini ada pilkada, yang berlangsung di banyak provinsi di Indonesia, bisa jadi, ada acara nonton bareng, sebagai bagian kampanye.

Nama-nama pemain tenar pun, bisa hapal di luar kepala mereka. Ronaldo Rozario, misalnya, diingat sebagai pemain Brasil. Atau Diego Maradona itu, berasal dari Argentina, bukan dari Napoli (Italia). Orang lebih mengenal Pele yang jagoan dari Brasil ketimbang Pele yang memperkuat klub Santos atau New York Cosmos.

Atau, Zinedine Zidane, orang tahunya dari Prancis dibandingkan Real Madrid atau Juventus. Bahkan, sejak awal Fernando Torres selalu hanya dikenal di Spanyol. Artinya, trofi Piala Dunia FIFA, memang lebih heboh ketimbang pemain-pemain di klub elit.

Timnas Uruguay, juara Piala Dunia 1930 yang saat itu masih bernama Jules Rimet Trophy. (Wikimedia Commons)

Sejak digelar 1930 di Uruguay, untuk memperebutan trofi Jules Rimet, begitu cepat tumbuh menjadi populer, dan dipandang sebagai kejuaraan paling prestisius. Walaupun tak banyak yang tahu, lantaran tarik menarik kepentingan, ide Piala Dunia itu sendiri sempat terpendam selama 26 tahun sebelum akhirnya menjadi kenyataan.

Berawal dari Olimpiade

Menengok ke belakang, saat FIFA dikukuhkan tahun 1904 disepakati organisasi yang baru terbentuk, sebagai pemegang hak tunggal, penyelenggaraan kejuaraan dunia sepak bola. Ketika itu, belum tergambar bentuknya seperti apa. Baru di tahun 20-an, ketika Jules Rimet menjadi Presiden FIFA, sepak bola kejuaraan dunia dirumuskan secara serius, setelah sepak bola dipertandingkan di Olimpiade (Inggris yang mewakili Great Britain juara dua kali, 1908 dan 1912).

Dalam Kongres FIFA di Antwerp, Belgia, tahun 1920, proposal kejuaraan Piala Dunia dibahas dan secara prinsip disetujui. Empat tahun kemudian, ketika Olimpiade Paris berlangsung, ada pembahasan yang lebih detail.

Tahun 1928, Uruguay juara sepak bola di Olimpiade Amsterdam, mengalahkan Argentina di partai final. Tonggak inilah, mengapa Uruguay terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia memperebutkan trofi Jules Rimet, pertama kalinya tahun 1930.

Untuk itu, Uruguay membangun sebuah stadion di Montevideo, dan mengeluarkan semua biaya perjalanan tim tamu. Ketika itu turnamen diikuti 13 negara (dari 41 negara anggota FIFA), tujuh di antaranya dari Amerika Selatan, yaitu Brasil, Bolivia, Argentina, Cile, Peru, Paraguay, dan Uruguay, dua dari Amerika Utara, Meksiko dan Amerika Serikat). Lainnya, dari negara Eropa, Yugoslavia (kini terpecah menjadi enam negara), Belgia, Prancis, dan Rumania.

Pada 13 Juli 1930, pertandingan pertama Piala Dunia berlangsung di Stadion Pacitos. Prancis mengalahkan Meksiko 4-1. Inilah, awal sejarah Panjang, dan luar biasa dari sebuah turnamen bernama Jules Rimet - Piala Dunia, tanpa ada babak kualifikasi. Berbeda dengan saat ini, perjalanan tim tamu ke Uruguay (terutama yang dari Eropa), bisa memakan waktu tiga pekan, karena harus melalui perjalanan laut.

Sejak Jules Rimet atau kejuaraan Piala Dunia pertama, sudah 23 kali turnamen sepak bola terakbar di dunia digelar. Ada delapan tim berbeda yang menjadi juara. Yaitu Brasil pemegang rekor lima kali. Jerman dan Italia empat kali, Argentina tiga kali, Uruguay dan Prancis dua kali, serta Inggris, dan Spanyol, sekali.

Sejak Brasil menyimpan selamanya, karena tiga kali meraih juara dunia Jules Rimet Trophy 1958, 1962 dan 1970. Maka, piala dunia berganti jubah, bertajuk “Trofi Piala Dunia” sejak 1974 hingga hari ini, yang segera digelar, 11 Juni-19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Penuh Kejutan

Namun setiap kali digelar selalu dan dipastikan akan terjadi kejutan yang menjadikan catatan sejarah sepak bola “full color”. Misalnya, ketika AS mengalahkan Italia tahun 1950, Korea Utara mempecundangi Italia tahun 1966. Aljazair mempermalukan Jerman Barat di Piala Dunia 1982, serta Kamerun yang baru muncul tahun 80-an, mengejutkan kalahkan juara bertahan Argentina, partai pembuka di Stadion San Siro, Milan, di Piala Dunia 1990.

Tahun 1934, Jules Rimet diselenggarakan di Italia. Uruguay yang kecewa dengan Italia yang tak datang di Jules Rimet 1930, menolak mempertahankan gelar. Turnamen untuk pertama kalinya. digelar dalam format sistem gugur, dengan 16 tim, bukan yang pertama kali turnamen diliputi kontroversi. Pada Jules Rimet Trophy 1938.

Spanyol tengah dilanda perang saudara, sementara Austria dianeksasi Hitler, sehingga sejumlah pemain berbakat berpindah kewarga-negaraan, agar tetap bisa bermain di Jules Rimet.

Perebutan trofi yang kemudian diberi nama Jules Rimet Trophy, hanya digelar sampai tahun 1938. Selama 10 tahun, Piala Dunia 1942, 1946 dihentikan, akibat pecah Perang Dunia II.

Poster Piala Dunia 1950 Brasil. (Wikimedia Commons)

Baru era 1950, Piala Dunia digelar kembali. Tim Samba Brasil, sebagai tuan rumah, membangun stadion terbesar di dunia - Maracana. Untuk pertama kali, Inggris pencipta sepak bola modern, bisa ikutan Jules Rimet Trophy. Lantaran, sejumlah negara tak datang, hanya dua grup yang terdiri atas empat tim, sedangkan dua lainnya hanya berisi tiga dan dua tim.

Perubahan format pertandingan, sempat terjadi, saat Jules Rimet Cup berlangsung di Swiss tahun 1954, masing-masing grup babak pertama, terdiri dua tim unggulan dan dua tim bukan unggulan. Pola ini, berujung lahirnya, tim dengan point yang sama, sehingga harus melakukan babak play-off. Walaupun yang berlaga 16 tim, namun bisa menggelar 26 pertandingan, selama 19 hari turnamen. Sistem ini, kemudian tak pernah digunakan lagi.

Sepanjang sejarah Jules Rimet Cup, jumlah tim yang ikut kualifikasi juga semakin meningkat. Misalnya tahun 1954 ada 38 negara, tahun 1958 menjadi 53 negara dan 56 negara di tahun 1962. Tahun 1974 tim berlaga di Jerman Barat, memperebutkan trofi baru, setelah Brasil menyimpan selamanya Jules Rimet Trophy, lantaran tiga kali juara.

Kebijakan Joao Havelange

Perubahan yang sangat mendasar justru terjadi tahun 1982, ketika Presiden FIFA Joao Havelange, menambah jumlah tim yang berlaga di putaran final dari 16 menjadi 24 tim, karena alasan semakin banyak negara yang layak, ikut bertanding sejalan dengan kemajuan dan perkembangan sepak bola, di masing-masing zona benua.

Untuk turnamen yang terakhir sebagai presiden FIFA, Havelange, memperbanyak tim yang masuk putaran final menjadi 32 tim. Saat itu, putaran final dilakukan di Prancis tahun 1998 – awal muasal sepak bola super modern, di mana televisi dan sponsor menjadi penyeimbang.

Segala kemungkinan tampaknya memang bisa terjadi di Piala Dunia. Buktinya tahun 2002, untuk pertama kali Piala Dunia diselenggarakan di kawasan Asia, oleh dua negara, di Korea Selatan dan Jepang.

Artinya, untuk pertama kalinya, tuan rumah bersama. Jumlah penonton juga terus bertambah sejalan dengan perkembangan teknologi. Saat Piala Dunia berlangsung di Prancis 1998, ada 37 miliar pasang mata menyaksikan seluruh pertandingan, melalui layar televisi, termasuk 1,3 miliar khusus untuk partai final. Sedangkan yang menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion tercatat 2,7 juta orang, untuk 64 kali pertandingan.

Mantan Presiden FIFA 1974-1988 asal Brasil, Joao Havelange. (Silvia Izquierdo/AP)W

Kini, memapaki millenium ke-3, sepak bola sudah campur aduk, walaupun tetap dibungkus dengan fairplay dan respect. Hanya saja, masalah konspirasi, dan kontroversial, tak akan pernah selesai.

FIFA sebagai “raja dari semua negara”, memiliki keputusan absolut yang sulit digugat oleh anggotanya.

Contohnya, di Piala Dunia 2026, untuk pertama kalinya, tuan rumah ditunjuk tiga negara, yaitu Kanada, Meksiko dan Amerika Serikat. Bahkan, jumlah negara yang bisa lolos ke putaran final bertambah, dari 32 negara menjadi 48 negara.

Efek Perang Iran

Tiga bulan, sebelum event raksasa yang akan ditonton 4 miliar penduduk dunia, menjadi drama tersendiri. Khususnya, saat ada perang Iran vs Israel-Amerika Serikat. Presiden FIFA, Gianni Infantino, dibuat pusing tujuh keliling, oleh ulah Amerika Serikat, yang melarang wakil PSSI-nya Iran, untuk hadir dalam undian grup, karena tak dapat visa.

Bahkan, dua bulan lalu, FIFA masih pusing, Ketika Iran, akan mundur dari Piala Dunia 2026, jika pemain dan ofisialnya, tidak dapat jaminan keamanan dan keselamatan. Solusinya, macam-macam. Iran minta semua pertandingan di Grup G, Bersama Belgia, Mesir dan Selandia Baru, digelar di Meksiko.

Bahkan, ada gosip, jika Iran mundur, FIFA akan menunjuk Italia atau Indonesia. FIFA memiliki perhitungan bisnis yang super matang. Intinya, FIFA tidak mau Iran mundur. Akibatnya, FIFA merayu terus menerus, orang nomor satu di Amerika, Donald Trump, agar untuk Piala Dunia 2026 kali ini, harus ada “genjatan senjata”.

Damai dulu selama Piala Dunia 2026. Tapi, setelah Piala Dunia selesai 19 Juli 2026 mendatang. Silakan FIFA memberi kesempatan, Israel dan Amerika Serikat berperang kembali lawan Iran. Benar-benar “drapildun”, drama Piala Dunia!

Caption

Sejarah Jules Rimet ke Piala Dunia, yang paling sangar saat ada peristiwa jual beli tuan rumah. Yaitu, terpilihnya Afrika Selatan 2010, Rusia 2018 dan Qatar 2022, masih sebagai menjadi “tragedi” bagi negara yang kalah, khususnya Inggris.

Sepak bola sebagai cabang olahraga terpopuler sejagat raya ini, tak akan pernah keluar dari sebuah permainan yang asyik ditonton. Jangan lupa, menunggu melahirkan tragedi, kegembiraan, kesedihan, frustasi, konspirasi dan juga peperangan.

Itulah wajah sepak bola modern dari Jules Rimet Trohpy ke Piala Dunia FIFA!

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+