Bagikan:

JAKARTA - Mengapa Gli Azzurri Italia, The Blues di zaman sepak bola modern, setelah namanya menjadi FIFA Piala Dunia (zaman Jules Rimet Cup, pernah gagal 1958), justru tidak lolos untuk untuk ketiga kalinya, alias hattrick: 2018, 2022 dan 2026? Bagi penggila timnas Italia, dipastikan sedih, frustrasi dan jengkel. Pasalnya, Italia itu, salah satu tim elite dunia, yang sudah empat kali juara dunia 1934, 1938, 1982 dan 2006.

Dalam perjalanan sejarah taktik sepak bola, Italia juga menjadi salah satu penemu taktik “Catenaccio”, dari sosok Helenio Hererra, pelatih Inter Milan 1960-68. Dan konsep taktik dari WM yang sangat menonjol saat itu.

Kemudian, diubah sebagai taktik yang paling dibenci oleh klub atau timnas mana pun. Karena konsep Catenaccio itu, adalah sepak bola negatif, dengan menggunakan libero, dan di depannya ada double centre-back. Benfica yang punya Eusebio di zamannya, sebagai striker paling super ganas pun, takluk oleh Inter Milan, di final European Cup 1965. Inter selalu cukup menang dengan skor 1-0.

Namun, memasuki zaman emas Italia, dimulai saat Serie A benar-benar sangat super glamour, sebagai wadah kompetisi paling mewah tahun 1983 – 1995. Di mana, tumplek-blek semua selebritas sepak bola, bermain di Liga Italia.

Sebut saja, Michael Platini, Zico, Falcao, Ian Rush, Enzo Scifo, Michael Laudrup, Diego Maradona, Careca, Alemao, Lotthar Matthaes, Juegen Klismann, Andreas Brehme, Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rikjaard, Gianluca Vialli, Giuseppe Gianinni, Franco Baresi, Maolo Maldini, Carlo Ancelotti, Roberto Donadoni, George Weah, Tomas Brolin, Glenn Hysen, dan Ramon Diaz.

Timnas Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006 Jerman. (AS Roma)

Dalam cerita film “Histoty of Football”, temanya “Head to Head” antara Marco Van Basten versus Juergen Klinsmann, ditambah empat panelis Lotthar Mattheus, Gary Lineker, Ryan Giggs dan Gianfranco Zola, menyebutkan secara serentak, yang poinnya – bahwa di zaman 80-an itu, kompetisi Serie A itu sangat glamour, sangat ketat persaingannya dan beda-beda tipis dengan Piala Dunia.

Maka, ketika memutuskan Marco van Basten, lebih hebat ketimbang Klinsmann, walaupun Klinsmann pernah meraih juara dunia bersama Jerman barat 1990. Justru semua panelis, memilih Basten sebagai pemenangnya.

Maradona dan Napoli

Begitu pula saat “head to head” antara Pele vs Maradona, keempat finalis di atas juga memilih dengan kriteria, skill, teamwork, assist serta nama besar dan legendanya. Maka, Maradona lebih hebat derajatnya, ketimbang Pele yang memenangkan tiga kali juara dunia, sedangkan Maradona hanya sekali meraih gelar juara dunia. Mengapa?

Karena, saat tahun 1986, perpindahan Maradona dari Barcelona ke Napoli dinilai menjadi salah satu kekuatannya meraih predikat sebagai pemain legenda abad 20. Bayangkan, saat itu, Napoli adalah satu dari sedikit klub gurem kasta rendah dari Italia Selatan, justru menjadi pilihan Maradona. Saat itu, Maradona sangat optimistis serta super percaya diri menyatakan, “Saya berjanji membawa Napoli juara,” tegasnya.

Saat itu, janji Maradona lebih manjur lebih jujur, ketimbang para politikus dan para gangster kota Napoli, yang kumuh, miskin dan terbiasa banyak kejahatan di semua sudut kota. Namun, saat janji Maradona tercapai, saat itu juga Maradona langsung didaulat sebagai “Santo” – penyelamat kota Napoli, sekaligus mengubur semua mimpi-mimpi klub sekaliber AC Milan, Juventus, dan Inter Milan yang saat itu, betebaran bintang dan terbiasa menjadi juara.

Diego Maradona saat memperkuat Napoli di Liga Serie A Italia. (Corriere)

Itu, yang membuat Matthaes, Lineker, Zola dan Giggs memilih Maradona ketimbang Pele, yang tidak pernah bermain di kompetisi kasta tertinggi di Eropa yang super ketat.

Bandingkan, dengan gebyar kompetisi Serie A di abad 21 ini. Sejak kasus suap melanda sepak bola Italia 2002-2006. Dan, kemudian saat Italia juara FIFA Piala Dunia 2006, dinilai banyak pengamat sepak bola dunia, gara-gara “kecelakaan”. Jika Zidane tidak menanduk Materazzi, bisa jadi Italia pulang membawa kesedihan.

Di sekitar tahun segitu, para pemain Italia hanya menyisakan dua pemain yang benar-benar berkarakter jenius, yaitu Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso. Selebihnya, para pemain yang terpanggil masuk skuad tim nasional Italia, rata-rata hanya biasa-biasa saja. Dan, kini saat gagal ke Rusia 2018, Qatar 2022 dan AS/Kanada/Meksiko 2026, selain kompetisinya semakin terpuruk, juga tidak melahirkan bintang-bintang kelas dunia, kecuali Sandro Tonali, yang bermain di Newcastle United.

Talenta Muda

Saat saya meliput Euro 88 di Jerman Barat, saat itu – Italia, sudah heboh dengan nama “young guns” Gianluca Vialli, berusia 19 tahun.

Bandingkan, dengan tiga nama anak muda tim nasional Italia 2018. Saat itu, ada nama-nama seperti striker Patrick Cutrone (20/AC Milan), Federico Chiesa (20/Fiorentina), dan gelandang Lorenzo Pellegrini (21/AS Roma). Namun, sejak dipegang Roberto Mancini, seharusnya anak-anak muda itu diberi mandat sebagai starter.

Saat Tim Azzurri 2022 gagal ke Qatar, lagi-lagi Roberto Mancini tidak memberi jam terbang kepada anak-anak muda, seperti Sandro Tonali (21 tahun/AC Milan), Samuele Ricci (20 tahun/Torino FC), Salvatore Esposito (20 tahun/Spezia Calcio), Fabio Mirreti (19 tahun/Juventus), dan Matteo Cancellieri (19 tahun/Lazio Roma).

Dampaknya, ketika tim nasional Italia, gagal ketiga kalinya, musim 2026 ini. Nongol analisis Roberto Baggio. Yaitu, saat Baggio ditunjuk menjadi Direktur Teknik FIGC atau PSSI-nya Italia, tahun 2010.

Baggio, mengumpulkan 50 orang-orang terbaik di sektor pelatih, teknokrat, pakar olahraga, dan konsultan. Hasilnya, PSSI-nya Italia, wajib merombak, sistem pembinaan usia muda, dalam bentuk buku berisi 900 halaman, tahun 2011.

Roberto Baggio, legenda sepak bola Italia yang sempat menjadi Presiden FIGC. (AFP/Alejandro Pagnin)

Isi revolusi sepak bola Italia, gagasan Baggio mengubah cara pandang di level akademi, yang tidak memprioritaskan masalah fisik, namun juga aspek teknis, yaitu penguasaan bola, pengambilan keputusan, inteligensia permainan. Intinya, mendahulukan teknik ketimbang taktik strategi.

Roberto Baggio, yang pernah meraih Ballon d’Or 1993, juga memberi cacatan penting, soal para pelatih di level usia muda, dengan latar belakang pendidikan yang baik, tidak hanya di sepak bola. Intinya, Baggio memberi ketegasan, agar kolaborasi antara peneliti dari universitas dan tim kepelatihan.

Bahkan, Baggio mendobrak ke FIGC, bahwa PSSI-nya Italia wajib membangun pusat latihan di 100 distrik di Negeri Spaghetti ini. Agar, jumlah pertandingan di kelompok umur, semakin banyak. Dan, pemain berbakat, punya jam terbang yang sudah mumpuni sejak usia muda.

Sebagai pemain, yang pernah merasa kecewa berat, saat gagal mengambil tendangan penalti, di final Piala Dunia 1994, menghadapi Brasil, Baggio juga menekankan, agar semua pemain berbakat di usia muda, memiliki catatan statistik, dan perkembangannya bisa tercatat rapi. Agar, anak-anak mudah dipantau sejak sebagai bibit potensial.

Yang lebih penting lagi, Baggio berpesan dalam 900 halaman “Buku Putih” FIGC tersebut, Baggio menekanan pendidikan moral, selama ada di level usia muda, agar moral, etika dan tanggung jawab sosial. Baggio berambisi, sejak usia muda, anak-anak Italia dididik membentuk individu yang cerdas, bukan sekadar hanya sebagai atlet sepak bola.

Karena, gagasan “Buku Putih” Italia tidak digubris PSSI-nya Italia, akhirnya Baggio mundur tahun 2013. Buku setebal 900 halaman, hanya dijadikan pajangan di kantor FIGC, Dan, hasilnya, tahun 2026, lagi-lagi tim nasional Italia, gagal lolos melakoni “hattrick” gagal ke pesta paling terhebat di kolong langit ini, secara berturut-turut. Tragis!

Mirip, Erick Thohir, yang nggak paham sejarah sepak bola nasional. Nggak paham seluk beluk membentuk timnas Indonesia. Dan, nggak pernah tahu, bahwa, PSSI sudah 30 tahun, tidak menggelar wadah kompetisi pembinaan. Ujug-ujug Erick Thohir menyulap timnas Indonesia, menjadi seolah-olah barang mewah, dengan mencuri pembinaan negara lain, mengambil jalan pintas naturalisasi.

Tiga Alasan

Jadi ada tiga alasan Italia gagal ke Rusia 2018, Qatar 2022, dan AS/Kanada/Meksiko 2026? Dua alasan dari dalam negeri, satu dari luar Italia.

Pertama dan kedua, para pelatih tim nasional Italia, tidak mengalami tekanan yang sangat depresif, seperti yang dialami Enzo Bearzot saat pegang Italia 1982 dan Azeglio Vicini saat pegang Italia 1990. Nyaris di zaman itu, selain pers dan televisi, serta semua warga penggila bola Italia, tidak ada yang setuju dan binggung ketika Enzo Bearzot memilih Paolo Rossi, akibat terkena kasus suap. Sedangkan, Vicini merekrut Salvatore Schillaci sebagai “anak ingusan”.

Masalah ketiga dari luar Italia, yang jarang dianalisis, yaitu banyak sekali negara kasta ketiga dari 55 negara anggota UEFA – federasi sepak bola Eropa, di Piala Dunia 2022, seperti Serbia, Irlandia Utara, Slovenia, Islandia, Wales, Slovenia, Ukraina, Montenegro, Georgia, sudah masuk dalam radar kasta ke-2, dan siap-siap kapan saja, masuk kasta pertama.

Sementara itu, negara-negara kasta ke-2, sering gugur di penyisihan grup zona Eropa, seperti Bulgaria, Rumania, Hongaria, Rusia, Ukraina, Rep. Irlandia. Denmark, Polandia, Irlandia Utara, di sekitar 90-an selalu hadir, kini hanya menjadi penonton.

Paolo Rossi, pahlawan Italia di Piala Dunia 1982. (Wikimedia Commons)

Kini, di Piala Dunia 2026, nama negara Eropa dari kasta ke-2 dan ke-3, selalu ada yang tampil mengejutkan, seperti Bosnia and Herzegovina, Norwegia, Austria, Swiss, Rep. Ceko, Skotlandia, dan Swedia, akan menjadi momok bagi negara kasta tertinggi, yang pernah meraih gelar juara Piala Dunia dan Piala Eropa, seperti Jerman, Perancis, Spanyol, Inggris, Portugal dan Belanda.

Ada tradisi dan kehebatan tim yang kini diasuh Luciano Spalletti dan Gennaro Gattuso, sebagai jejak sejarah. Atau, nantinya ada pengganti Gattuso berikutnya. Jika ingin membentuk tim nasional Italia. Harus, ada jejak “kacau-balau”, misalkan suap menyuap, atau ada skandal besar.

Menurut saya, jangan ragu-ragu, pelatih Italia nanti, yang cenderung suka pembangkang, dan jangan pedulikan pers, televise, atau tifosi. Mending cari pemain yang jenius walaupun suka bermasalah.

Jangan ragu cari pemain yang tiba-tiba bisa dicetak sebagai pahlawan. Contohlah, saat merekrut Paolo Rossi (1982) dan Toto Schillaci (1990). Serta saat skandal suap menyuap menjelang Piala Dunia 2006.

Gennaro Gattuso, pelatih terakhir timnas Italia yang gagal menembus putaran final Piala Dunia 2026. (ANTARA/Anadolu/aa)

Mampukah timnas Italia, melahirkan libero-libero “penjaga marwah” taktik Italia yang masyur seperti “Catenaccio” yang dianugerahi predikat taktik hebat sepanjang masa, yang pernah diperankan dalam diri Claudio Gentile (Piala Dunia 1982 dan 1986) dan Franco Baresi (Piala Dunia 1990 dan 1994), serta Fabio Cannavaro (2006)?

Memalukan, adalah kata yang paling hina bagi tim nasional Italia saat ini. Hanya saja, sepak bola tidak pernah musnah, melahirkan hal-hal yang mendekati dan mencetak keberuntungan dan keajaiban.

Italia, pernah punya banyak keajaiban. Kita tunggu saja di Piala Dunia 2030, minimal di Euro 2028 nanti, ada pesta bola se-Eropa – dan mudah-mudahan Italia tidak tersandung lagi. Malu ah sama Bosnia and Herzegovina.

J. Erwiyantoro

(Kolumnis Sepak Bola)

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+