Beyoncé Wanita Kulit Hitam Pertama di <i>Coachella</i>: Serukan Kebebasan dari Penindasan dan Diskriminasi Rasial
Beyoncé (Instagram @beyonce)

Bagikan:

JAKARTA - Lima belas April menjadi tanggal penting dalam sejarah musik Beyoncé. Pada hari itu, dia membuat sejarah sebagai penyanyi wanita pertama yang menjadi headliner dalam Coachella Valley Music and Arts Festival 2018.

Sejak digelar pertama kali, Coachella hanya memiliki dua penyanyi wanita yang tampil sebagai headliner. Sebelum Beyoncé, ada Lady Gaga di tahun 2017 dan Bjork di tahun 2002.

Awalnya, istri Jay-Z ini dijadwalkan tampil dalam barisan utama di Coachella tahun 2017. Tetapi, dia batal tampil lantaran sedang mengandung.

Pada Juni 2017, dia melahirkan anak kembar, Rumi dan Sir. Tidak berhenti di situ, dia juga harus melakukan diet ketat karena berat badannya berlebihan.

Kembalinya Beyoncé tentu sangat dinanti para penggemar yang menghadiri festival ikonik di California itu. Sebutan Beychella mulai bermunculan mendekati hari penampilan.

Reuni dengan grup Destiny’s Child juga terjadi di panggung itu. Mereka menyanyikan lagu hits dan berjalan menyapa penonton. Penampilan mereka menghasilkan 458 ribu stream.

Budaya Kulit Hitam

Sebagai headliner pertama berkulit hitam, Beyoncé ingin menampilkan sesuatu yang berkaitan dengan budayanya. Beyoncé turut memboyong 100 penari dan sang suami serta saudara kandungnya, Solange untuk tampil bersama di atas panggung.

Dengan durasi dua jam, Beyoncé melantunkan berbagai hits mulai dari Sorry sampai Formation, begitu juga album terakhirnya Lemonade. Tidak kalah penting, kehadiran marching band dan paduan suara turut memeriahkan panggung spesial itu.

Sebelum memulai penampilannya, Beyoncé menyanyikan lagu Lift Every Voice and Sing yang juga dikenal sebagai anthem kaum kulit hitam. Narasi dan suara dari aktivis berkulit hitam seperti W.E.B. Du Bois.

Pakaian yang dikenakan Beyoncé juga berhubungan dengan kekuatan orang berkulit hitam di mana dia memakai kostum yang terinspirasi dari Ratu Nefertiti, salah satu wanita terkuat di Mesir.

Penampilannya disebut sebagai tribute untuk seluruh orang kulit hitam dari penari latar, pemain musik, kolaborator, sampai kostum yang dikenakan. Penampilan ini menjadi seruan akan kebebasan orang kulit hitam yang kerap ditindas, mengalami kekerasan, dan diskriminasi rasial.

Setelah mengakhiri penampilan, Beyoncé disebut memperpanjang biaya beasiswa untuk murid-murid di delapan perguruan tinggi berkulit hitam atau Historically Black Colleges and Universities (HBCU) melalui organisasinya, BeyGOOD Foundation.

Pengaruh

Setelah tampil dalam Coachella, album Lemonade kembali merajai tangga musik iTunes, begitu juga dengan diskografi Destiny’s Child.

Beberapa kostum yang dipakai Beyoncé adalah desain khusus oleh Balmain. Pakaian ini banyak dicari oleh pengguna internet.

Penampilan Beyoncé di Coachella menjadi salah satu penampilan yang paling banyak dicari di mesin pencarian Google sepanjang tahun 2020.

Kehadiran Beyoncé dalam festival ini menjadi pintu bagi musisi wanita lainnya untuk tampil di festival tersebut, sebut saja Ariana Grande, Nicki Minaj, Selena Gomez, BLACKPINK, dan Cardi B.

Cerita mengenai penampilan Beyoncé dapat disaksikan melalui film Beyoncé: Homecoming yang tayang di Netflix. Film ini menghadirkan sudut pandang Beyoncé di balik panggung Coachella dan kehidupan pribadinya.