Kampanye The Pact Buka Kedok Industri Musik
Menulis lirik (Soundtrap/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Sebuah akun anonim bernama The Pact muncul di Instagram dan membagikan beberapa konten terkait bagaimana seorang artis menghasilkan uang.

“Bagaimana seorang artis membuat uang? Tur, penampilan televisi, temu sapa, merchandise, partner brand/endorsement/sponsor, honor tampil, penampilan pribadi, PPL (hak penampilan), master… dan publishing.”

“Bagaimana penulis lirik menghasilkan uang? Publishing. Namun seringkali penulis lirik diminta untuk menyerahkan publishing kepada artis yang tidak berkontribusi di bagian komposisi. Ini waktunya untuk perubahan. #ThePact.”

Dua hari kemudian, akun The Pact mengunggah foto bagaimana penghasilan yang didapatkan seorang penulis lirik dengan musisi di Spotify. Untuk 10 juta total streaming, penulis lirik atau komposer hanya mendapatkan 2 ribu dolar AS atau 29 juta rupiah.

Sedangkan musisi yang menyanyikan lagu tersebut bisa mendapat 13 kali lipat dari lagu yang sama. Lagi-lagi, mereka menyorot fenomena di mana seringkali penulis lirik diminta menyerahkan kredit penulisan.

Banyaknya permintaan untuk menyerahkan lirik mereka karena lagu tersebut berpotensi menjadi hits jika dinyanyikan oleh penyanyi ternama. Namun tidak jarang hal ini hanya merugikan salah satu pihak saja, yakni penulis liriknya.

Diketahui, setelah akun The Pact bermunculan, sekelompok komposer ternama membuat surat terbuka agar artis berhenti meminta kredit untuk lagu yang tidak mereka tulis. Surat terbuka itu ditanda tangani sejumlah komposer ternama seperti Victoria Monet, Justin Tranter, Emily Warren, dan lainnya.

Komposer

Para komposer yang menandatangani surat terbuka ini bukan nama baru di industri musik. Mereka adalah kelompok komposer yang banyak menghasilkan lagu dengan perolehan Grammy. Victoria Monet, salah satunya, dikenal sebagai penyanyi yang banyak berkecimpung dengan penulisan lirik untuk Ariana Grande, Chloe x Halle, serta BLACKPINK.

Atau Justin Tranter yang mengerjakan lagu Dua Lipa, Taeyeon, The Chainsmokers dan lainnya. Tidak berhenti dari tiga nama itu, surat ini juga ditanda tangani oleh Savan Kotecha, Tayla Parx, Ian Kirkpatrick, Amy Allen, Scott Harris, Lennon Stella, Billy Mann, Shae Jacobs, Joel Little, Deza dan Jordan McGraw.

Mereka tidak menyebut siapa artis yang melakukan hal ini karena tidak ingin menghancurkan karier seseorang namun mereka ingin menyuarakan fenomena ini.

“Artis-artis ini akan mengumpulkan keuntungan dengan tur, merchandise, partnership, dan keuntungan streaming, sedangkan penulis lirik hanya memiliki keuntungan publishing yang menjadi pemasukan,” begitu bunyi paragraf surat terbuka.

“Permintaan publishing ini sering terjadi karena artis atau representasinya menggunakan taktik bully dan ancaman, dan memangsa penulis yang mungkin menyerah dengan memberikan aset dibandingkan kehilangan kesempatan.”

Organisasi non profit, The Songwriters of North America (SONA) mendukung kampanye yang dilakukan The Pact.

“Di tengah era digital, ketika artis dan labelnya sudah menerima keuntungan paling banyak, meminta sedikit dari pekerjaan semacam menendang kami ketika kami paling rendah (menerima keuntungan) dan (tindakan) rakus dan kejam,” kata perwakilan SONA.

Musisi

Bukan rahasia baru jika seringkali label rekaman meminta sebagian kredit diberikan kepada musisi yang menyanyikan lagu tersebut.

Beyoncé misalnya. Tahun 2008, dirinya mengaku menulis lirik lagu Irreplaceable, salah satu lagu yang melambungkan namanya. Tetapi beberapa tahun kemudian, penyanyi Ne-Yo mengatakan bahwa dia-lah yang menulis seluruh lirik Irreplaceable dan Beyonce mengisi bagian harmoninya saja.

Penyanyi Robin Thicke pernah mengklaim bahwa dia menulis dan merekam lagu Blurred Lines. Namun ketika tahun 2014 lagu itu digugat karena dugaan meniru lagu Marvin Gaye, Thicke mengaku lagu itu ditulis dan dibuat oleh Pharrell Williams.

Atau cerita lama Elvis Prasley juga tidak pernah luput dari ingatan pendengar. Manajernya, Colonel Tom Parker sering meminta kredit untuk lagu yang dinyanyikan Presley.

Surat terbuka yang dipublikasi para penulis serta The Pact mengharapkan ekosistem penulisan terjaga dengan baik. Mereka juga tidak ingin isu ini menjadi sebuah bahan gosip belaka melainkan aksi yang nyata.