Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam waktu dekat di tengah pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai jalur pelayaran yang aman. Namun, media pemerintah Iran meragukan penilaian tersebut.

Lembaga penyiaran pemerintah IRIB melaporkan pada Rabu, 5 Agustus, kesepakatan apa pun di masa depan antara Iran dan Oman—yang keduanya berbatasan dengan selat tersebut—tidak ada kaitannya dengan pembukaan kembali selat itu dalam waktu dekat.

"Jika Amerika Serikat terus melakukan pelanggaran, Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali meskipun Iran dan Oman mencapai kesepakatan," lapor IRIB dilansir CNN.

Dalam wawancara dengan Fox News sebelumnya, Trump mengatakan selat tersebut akan dibuka kembali "dalam waktu sangat dekat atau mereka (Iran) akan mendapat pukulan keras."

Sementara itu, Hassan Ghashghavi, juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran, mengatakan kepada media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, jalur perairan vital tersebut—yang biasanya menjadi jalur bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia—tidak akan kembali ke status pra-perang dalam keadaan apa pun.

"Kami tidak akan menerima koridor selatan yang coba dipaksakan oleh Amerika Serikat melalui tekanan dan ancaman," demikian pernyataan Ghashghavi yang dikutip oleh Kantor Berita Mizan.

Pembicaraan saat ini antara Teheran dan Muscat mengenai pelayaran melalui jalur tersebut bersifat bilateral dan "tidak ada kaitannya" dengan Amerika Serikat, kata Ghashghavi menegaskan.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+