Bagikan:

YOGYAKARTA - Nama Lodewyk Pusung mendadak ramai diperbincangkan masyarakat setelah Kejaksaan Agung menetapkannya sebagai tersangka kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Profil Lodewyk Pusung pun langsung menjadi salah satu topik paling banyak dicari di mesin pencari. Lantas, siapa sebenarnya sosok jenderal bintang tiga ini?

Lodewyk bukan nama asing di lingkaran militer Indonesia. Ia merupakan purnawirawan TNI AD berpangkat Letnan Jenderal dengan karier panjang dan rekam jejak yang terbilang gemilang sebelum akhirnya terseret pusaran kasus hukum.

Profil Lodewyk Pusung

  • Biodata dan Latar Belakang Lodewyk Pusung

Dilansir dari laman Wikipedia, Lodewyk Pusung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 27 September 1960. Ia berasal dari Paslaten, Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara dan dikenal sebagai putra daerah Sulawesi Utara yang menapaki karier dari bawah hingga mencapai posisi paling bergengsi di tubuh TNI.

Lodewyk menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah sebelum akhirnya masuk ke Akademi Militer. Perjalanan pendidikan militernya terbilang panjang dan konsisten.

  • Pendidikan Militer

Lodewyk merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1985 dari kecabangan infanteri. Ia kemudian memperdalam ilmu lewat serangkaian pendidikan lanjutan: Seskoad (1998), Sesko TNI (2008), hingga Lemhannas (2013).

Baca juga: Profil Dadan Hindayana, Kepala BGN yang Dicopot Presiden Prabowo

Tidak berhenti di situ, Lodewyk juga menyelesaikan berbagai pendidikan teknis militer seperti Suscarcab Inf, Sussar PARA, hingga Susdanyonif. Kemampuan berbahasa Inggris dan Prancis turut memperkuat sosoknya sebagai perwira dengan wawasan luas.

  • Perjalanan Karier Lodewyk Pusung di TNI

Karier militer Lodewyk dimulai sejak 1985 sebagai Danton Yonif 507/Sikatan. Ia kemudian menapaki berbagai jabatan strategis dari level batalyon hingga tingkat Mabes TNI.

Rekam jejak Lodewyk di lapangan juga menarik. Ia pernah bertugas di wilayah operasi krusial seperti Timor Timur, Papua, dan Aceh, serta menjalankan penugasan di sejumlah negara.

  • Jabatan-Jabatan Puncak di TNI

Pada 2014, Lodewyk menjabat Kasdam VI/Mulawarman, lalu Pangdivif 1/Kostrad pada awal 2015.

Puncaknya, Lodewyk dipercaya menjadi Pangdam I/Bukit Barisan pada Agustus 2015 hingga Februari 2017. Setelah itu, ia ditunjuk sebagai Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI sebelum akhirnya purna tugas pada 2018.

  • Lodewyk Pusung di Badan Gizi Nasional (BGN)

Selepas pensiun dari militer, nama Lodewyk kembali muncul di panggung nasional. Pada 22 Oktober 2024, ia dilantik sebagai Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Jabatan itu tidak bertahan lama. Pada 2 Juni 2026, Presiden Prabowo mencopot Lodewyk beserta Kepala BGN Dadan Hindayana dan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya dari posisinya. Pergantian dilakukan sehari sebelum Kejagung bergerak.

  • Harta Kekayaan Lodewyk Pusung

Bersamaan dengan penetapan tersangka, publik turut menyoroti kekayaan Lodewyk. Berdasarkan LHKPN yang disampaikan ke KPK pada 11 Februari 2025, total harta kekayaannya tercatat sebesar Rp60,54 miliar.

Sebagian besar kekayaan Lodewyk berasal dari aset tanah dan bangunan senilai Rp58,725 miliar yang tersebar di Minahasa Utara, Manado, Bogor, Tangerang, dan Jakarta Timur dengan total mencapai 28 bidang.

Lodewyk juga mencatatkan kepemilikan tiga unit mobil (Toyota Kijang Innova, Honda HRV, dan Toyota Fortuner) serta satu motor Kawasaki, dengan nilai kendaraan sekitar Rp796 juta. Lodewyk dilaporkan tidak memiliki utang sama sekali.

  • Kasus Korupsi MBG yang Menjerat Lodewyk Pusung

Kejaksaan Agung menetapkan Lodewyk Pusung sebagai tersangka bersama Dadan Hindayana dan Sony Sonjaya pada Rabu, 3 Juni 2026. Ketiganya diduga terlibat dalam korupsi tata kelola program MBG tahun 2025 hingga 2026.

Menurut Direktur Penyidikan Jampidsus Kejagung, Syarief Sulaeman Nahdi, yayasan mitra SPPG yang ditunjuk ternyata terafiliasi dengan para pejabat BGN dan tidak memenuhi syarat sebagai mitra resmi. Namun tetap diloloskan melalui pengaturan verifikasi di portal mitra BGN. Dugaan intervensi inilah yang kini menjadi pokok penyidikan.

Perlu diketahui, program MBG sendiri memiliki anggaran yang sangat besar yaitu Rp85,27 triliun pada 2025 dan Rp268 triliun pada 2026. Adapun seluruh anggaran tersebut bersumber dari APBN. Angka itu membuat kasus ini menjadi salah satu yang paling disorot publik sepanjang tahun ini.

Tanggapan Publik dan Perkembangan Kasus

Penangkapan Lodewyk, Dadan, dan Sony memicu reaksi keras dari masyarakat. Banyak pihak menyayangkan program yang seharusnya menyentuh kebutuhan gizi anak-anak Indonesia justru menjadi ladang korupsi.

Sementara itu, Kepala Staf Presiden Dudung Abdurachman menegaskan bahwa Presiden Prabowo menghendaki tata kelola BGN berjalan transparan dan akuntabel. Kasus ini masih dalam tahap penyidikan aktif oleh Kejagung.

Setelah memahami profil Lodewyk Pusung, publik tentu berharap proses hukum berjalan tuntas dan berkeadilan. Pantau terus perkembangan berita terkini seputar kasus korupsi MBG dan isu-isu nasional penting lainnya hanya di VOI.

Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+