Bagikan:

JAKARTA - Pecahan batu sebesar telapak tangan itu akhirnya menemukan tempatnya. Saat dicocokkan ke dinding Gua Tengah Binyang di Kompleks Gua Longmen, China, data menunjukkan tingkat kecocokan 93,3 persen.

Menurut laporan China Daily dikutip Jumat, 22 Mei, pecahan itu diyakini bagian dari wajah Kaisar Xiaowen, penguasa Dinasti Wei Utara. Temuan ini menjadi bagian penting dari dokumenter How I Miss “Her” karya Chen Yi, yang ditayangkan di kanal dokumenter China Central Television. Penelitian itu melibatkan Institut Penelitian Gua Longmen atau Longmen Grottoes Research Institute.

“Itu momen yang paling tak terlupakan,” kata Chen, yang menyaksikan proses tersebut. “Benar-benar tidak terduga. Kami menemukan wajah Kaisar Xiaowen.”

Relief itu berasal dari panel batu Emperor and Empress Paying Homage to the Buddha, karya seni gua Buddha China dari Dinasti Wei Utara, sekitar tahun 386-534.

Jejaknya tidak bersih. Pada 1930-an, pedagang barang antik Beijing bernama Yue Bin membongkar panel tersebut atas pesanan pembeli luar negeri. Dua panel itu dipahat menjadi lebih dari 6.000 pecahan.

Sekitar 4.000 pecahan dibawa ke Amerika Serikat dan tersebar di Metropolitan Museum of Art di New York serta Nelson-Atkins Museum of Art di Kansas City. Sekitar 2.300 pecahan lainnya tersimpan di gudang Longmen.

Tugas peneliti menjadi rumit karena pecahan asli dan palsu bercampur. Menurut catatan pengakuan Yue Bin yang dikutip dalam film, penjarah mencampur pecahan palsu untuk menaikkan harga.

Di luar negeri, proses restorasi juga menyisakan pertanyaan. Di Nelson-Atkins Museum of Art, kurator Laurence Sickman pernah menyatukan pecahan dengan plester selama dua hingga tiga tahun. Para akademisi menilai panel itu tidak hanya memuat jejak kuno, tetapi juga jejak rekonstruksi modern.

“Hasil akhirnya menjadi misteri besar dalam sejarah seni China,” kata Chen.

Salah satu tokoh penting dalam dokumenter itu adalah Wen Yucheng, Direktur Kehormatan Institut Penelitian Gua Longmen yang kini berusia 87 tahun. Ia mulai memilah pecahan Longmen pada 1965, tak lama setelah lulus dari arkeologi Peking University.

Enam dekade kemudian, Wen menjadi saksi hidup dari penjarahan lama dan upaya panjang memperbaiki kerusakannya.

Pengajar studi dokumenter Xiao Guangyi dari Chengdu College of Arts and Sciences mengatakan momen paling kuat dalam film itu terjadi saat peneliti menguji pecahan ke dinding gua.

“Sedikit demi sedikit, sentimeter demi sentimeter, sampai akhirnya pas,” kata Xiao.

Proyek ini mulai terbuka bagi Chen pada 2022. Saat itu, ia sedang membuat serial dokumenter Hello AI tentang kecerdasan buatan dan warisan budaya di Gua Yungang, Shanxi. Ia lalu bertemu Huang Xianfeng, ahli penginderaan jauh dari Wuhan University.

Dari pertemuan itu, Chen mengetahui proyek relief Longmen. Ia kemudian menelusuri arsip dari New York hingga Cambridge, Massachusetts.

Salah satu petunjuk penting ditemukan di arsip Harvard University. Ada surat dari Sickman kepada Alan Priest dari Metropolitan Museum of Art, disertai sketsa kepala pria. Sketsa itu memperkuat dugaan bahwa kurator Amerika pernah mencari pecahan yang sama dengan yang kemudian ditemukan di gudang Longmen.

China Daily melaporkan, proyek restorasi digital skala penuh di Institut Penelitian Gua Longmen baru dimulai pada 2024. Proyek ini dipimpin peneliti senior Gao Junping.

Peneliti Tian Hengci dari Chinese Academy of Sciences, yang biasa meneliti sampel bulan, memakai teknologi pengujian nondestruktif. Teknologi ini bisa memeriksa benda tanpa merusaknya. Alat itu mendeteksi unsur jejak hingga satu per sejuta, semacam sidik jari geologi untuk mengetahui asal batu.

Dari lima kandidat pecahan, hanya satu yang cocok dengan komposisi kimia dinding gua asli. Pecahan itu diberi kode H05. Empat lainnya palsu.

Namun, menemukan H05 baru separuh jalan. Dinding gua berukuran sekitar dua meter kali empat meter. H05 hanya sebesar telapak tangan.

Peneliti lalu memakai pemindaian 3D presisi tinggi, pencocokan permukaan berbantuan AI, dan metode yang disebut “reuni digital”. Maksudnya, pecahan di berbagai koleksi dipindai dan disusun ulang secara virtual tanpa harus memindahkan benda fisiknya.

“Secara akademis, istilah ‘reuni digital’ memang tidak sepenuhnya tepat, tapi itu membantu orang memahami apa yang sedang kami lakukan,” kata Chen.

Chen lebih suka menyebutnya “cadangan peradaban”.

“Bagi manusia 200 tahun mendatang, model digital ini akan menjadi warisan tersendiri, catatan tentang bagaimana kami di masa ini mencoba menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan,” ujarnya.