JAKARTA - Wabah campak di Bangladesh telah menewaskan lebih dari 500 anak per Sabtu 23 Mei waktu setempat. Ini menandai meroketnya penyakit yang sebenarnya dapat dicegah di negara itu dalam beberapa dekade terakhir.
Mengutip AFP, Minggu 24 Mei, rumah sakit di ibu kota Dhaka kewalahan menangani kasus dan telah mendirikan bangsal khusus untuk merawat pasien, tetapi kesulitan karena kekurangan tempat tidur perawatan intensif.
Jumlah kematian akibat wabah campak masih terus meningkat, dengan 13 anak tercatat meninggal dalam 24 jam terakhir, sehingga jumlah korban jiwa akibat bencana ini mencapai 512, menurut data Departemen Kesehatan Bangladesh sejak 15 Maret.
Negara Asia Selatan ini telah meluncurkan program vaksinasi massal untuk memerangi wabah tersebut, dan kepala UNICEF di Bangladesh, Rana Flowers, mengatakan pekan ini kampanye tersebut telah menjangkau 18 juta anak.
Namun, Departemen Kesehatan Bangladesh mengatakan dampak penuh dari vaksinasi tersebut baru akan terasa setelah beberapa bulan.
BACA JUGA:
UNICEF menyatakan pada Rabu pekan ini bahwa proses imunisasi terganggu sejak pemberontakan terjadi pada 2024 yang menggulingkan pemerintahan otokratis negara itu.
Campak diketahui sangat menular, menyebar melalui batuk dan bersin, dan tidak ada pengobatan khusus setelah tertular.
Komplikasi dapat mencakup pembengkakan otak dan masalah pernapasan yang parah. Meskipun penyakit ini dapat menyerang siapa saja, penyakit ini paling umum terjadi pada anak-anak.
Petugas kesehatan mengatakan anak-anak yang paling terdampak seringkali kekurangan gizi dan berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
Termasuk anak-anak yang melewatkan vaksinasi rutin atau memiliki kekebalan yang lemah karena gizi buruk, atau keduanya.