JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengutuk tindakan tidak manusiawi Israel terhadap aktivis Global Sumud Flotilla ditahan dan mendapatkan perlakukan sewenang-wenang.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir membagikan video dalam unggahan di media sosial X yang menampilkan para aktivis kemanusiaan dalam Global Sumud Flotilla yang ditahan dengan posisi berlutut di tanah dengan kepala menyentuh tanah, sementara tangannya diborgol di belakang.
"Indonesia mengutuk tindakan yang tidak manusiawi terhadap relawan Global Sumud Flotilla 2.0 yang dilakukan oleh Israel. Tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan," tulis Kemlu RI dalam unggahan di media sosial X, Kamis (21/5).
"Indonesia kembali menekankan bahwa tindakan militer Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla dan relawan yang tergabung didalamnya adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional," tegas Kemlu RI.
ככה אנחנו מקבלים את תומכי הטרור
Welcome to Israel 🇮🇱 pic.twitter.com/7Hf8cAg7fC
— איתמר בן גביר (@itamarbengvir) May 20, 2026
Ulah menteri sayap kanan Israel itu juga menuai kecaman dari dunia internasional, seperti Italia, Prancis, Irlandia, Spanyol hingga sekutu dekatnya, Amerika Serikat.
Di dalam negeri, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar juga mengkritik ulah Ben-Gvir.
Diberitakan sebelumnya, pasukan komando Angkatan Laut Israel mencegat konvoi kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang bertolak dari Turki pekan lalu, dengan tujuan Jalur Gaza, Palestina guna menembus blokade laut Israel untuk memberikan bantuan kemanusiaan.
Pencegatan yang dilakukan di perairan Siprus tersebut diikuti dengan penangkapan 430 aktivis kemanusiaan dalam armada, yang kemudian dibawa ke Israel, seperti melansir Al Arabiya dari AFP.
Juru Bicara I Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam keterangan Hari Rabu mengatakan, berdasarkan informasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi tersebut, termasuk di antara aktivis yang ditangkap Israel.
GPCI sendiri dalam keterangan resminya pekan lalu mengatakan sembilan orang WNI yang tergabung dalam misi kemanusian ini yakni, Ust. Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu di Kapal Zapyro, Andi Angga Prasadewa di Kapal Josef, As’ad Aras Muhammad di Kapal Kasr-1, Hendro Prasetyo di Kapal Kasr-1, Bambang Noroyono di Kapal BoraLize, Thoudy Badai Rifan Billah di Kapal Ozgurluk, Andre Prasetyo Nugroho di Kapal RIM, serta Rahendro Herubowo di Kapal Ozgurluk.
"Pemerintah Indonesia terus fokus melakukan berbagai upaya untuk membebaskan seluruh WNI yang ditangkap," kata Kemlu RI.
"Sejak awal keberangkatan armada Global Sumud Flotilla, Kemlu RI dan juga Perwakilan RI terkait telah melakukan koordinasi erat dengan berbagai pihak guna memastikan keselamatan dan pelindungan WNI," lanjut Kemlu RI.
"Pelindungan WNI merupakan prioritas utama. Pemerintah Indonesia akan terus mengawal proses pembebasan hingga seluruh WNI dapat kembali dengan selamat ke Tanah Air secepatnya," tandas Kemlu RI.
BACA JUGA:
Sebelum pencegatan pekan ini, pasukan Israel mencegat armada kedua di perairan internasional di lepas pantai Yunani pada 30 April dan mengirim sebagian besar dari 175 aktivis ke Eropa, tetapi menangkap dua di antaranya, yang ditahan selama 10 hari sebelum dideportasi.
Tahun lalu, otoritas Israel memblokir upaya serupa yang melibatkan sekitar 50 kapal dan sekitar 500 aktivis, termasuk aktivis iklim Swedia Greta Thunberg, cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, dan beberapa anggota parlemen Eropa.