JAKARTA - Acara Hari Raya Pendidikan 2026 sukses berlangsung pada awal bulan Mei di Ganara Art FX Sudirman, Jakarta. Mengangkat tema 'Gerakan Pendidikan Kembali ke Akar', acara ini dihadiri oleh lebih dari 350 peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, pendidik, pegiat komunitas, akademisi, kreator muda, hingga masyarakat umum.
Hari Raya Pendidikan 2026 menjadi wujud nyata kolaborasi lintas sektor yang digagas bersama oleh GEKRAFS, Sekolah Tanah Air, Bepro, Cemas co, dan Distrik Berisik, sebagai upaya menghadirkan ruang dialog, konsolidasi gagasan, dan aksi nyata bagi transformasi pendidikan nasional.
Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa perubahan pendidikan tidak dapat dibebankan pada satu institusi semata, melainkan membutuhkan kerja bersama antara komunitas kreatif, gerakan sosial, organisasi masyarakat, dan generasi muda. Bepro, sebagai gerakan profesional muda yang kini hadir di 20 provinsi dari Aceh hingga Papua Barat, mengambil peran sebagai konektor strategis yang menjembatani aspirasi anak muda lintas daerah ke dalam agenda pendidikan nasional.
Membaca Ulang Peta Pendidikan Indonesia Segmen pertama bertajuk 'Peta Pendidikan Indonesia' menjadi ruang refleksi bersama untuk memetakan berbagai persoalan mendasar pendidikan nasional. Diskusi mengangkat isu ketimpangan akses pendidikan, kualitas pembelajaran, kesenjangan fasilitas sekolah, hingga tantangan relevansi sistem pendidikan di tengah perubahan sosial dan teknologi. Partisipasi aktif peserta dalam sesi dialog menegaskan tingginya keresahan publik terhadap kondisi pendidikan saat ini, sekaligus memperlihatkan besarnya harapan untuk perubahan.
Ketua Umum Bepro, Luthfi Dipa, menilai tingginya antusiasme peserta menjadi sinyal kuat bahwa kesadaran publik terhadap isu pendidikan semakin besar.
"Hari ini kita membuktikan bahwa keresahan publik terhadap pendidikan bisa menjadi energi perubahan. Bepro lahir dengan semangat Muda, Aktif, dan Berdampak dan pendidikan adalah salah satu medan paling konkret untuk membuktikan bahwa anak muda bukan sekadar penonton, tapi penggerak. Ketika berbagai komunitas, institusi, dan elemen masyarakat bergerak dalam satu arah, perubahan bukan lagi sekadar harapan," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa, 12 Mei.
BACA JUGA:
Meneguhkan Kerja Sama untuk Generasi Selanjutnya
Pada segmen kedua bertema 'Kerja Sama untuk Generasi Selanjutnya,' forum menyoroti pentingnya membangun sinergi konkret antar pemangku kepentingan.Berbagai gagasan kolaboratif lahir dari sesi ini, mulai dari penguatan ekosistem belajar berbasis komunitas hingga inisiatif bersama untuk memperluas akses pendidikan yang relevan dan inklusif. Forum ini menegaskan bahwa masa depan pendidikan harus dibangun melalui semangat gotong royong lintas sektor.
Peluncuran Gerakan Benerin 1000 Sekolah
Puncak acara ditandai dengan peluncuran Segmen STA: Gerakan Benerin 1000 Sekolah, sebuah inisiatif aksi kolektif yang bertujuan mendorong perubahan nyata di lingkungan sekolah melalui penguatan fasilitas belajar, literasi, kapasitas pendidik, serta budaya belajar yang lebih sehat. Founder
Sekolah Tanah Air, Rian Fahardhi, menyampaikan bahwa gerakan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk membawa perubahan langsung ke lapangan.
"Kita terlalu sering berhenti di ruang diskusi. Pendidikan butuh keberanian untuk turun langsung ke sekolah-sekolah dan membangun perubahan dari akar. Gerakan Benerin 1000 Sekolah adalah ikhtiar kolektif untuk memastikan perubahan itu benar-benar terasa dari kota-kota sampai pelosok desa," ungkapnya.
"Hari ini kita membuktikan bahwa keresahan publik terhadap pendidikan bisa menjadi energi perubahan. Bepro lahir dengan semangat Muda, Aktif, dan Berdampak — dan pendidikan adalah salah satu medan paling konkret untuk membuktikan bahwa anak muda bukan sekadar penonton, tapi penggerak. Ketika berbagai komunitas, institusi, dan elemen masyarakat bergerak dalam satu arah, perubahan bukan lagi sekadar harapan," tambah dia.
Melalui program sosial dan kemanusiaannya, BeCare, Bepro berkomitmen mengaktifkan jaringan relawannya di 20 provinsi untuk turut mengawal Gerakan Benerin 1000 Sekolah hingga ke tingkat akar rumput. Kontribusi ini menjadi bagian dari peran strategis Bepro dalam mendorong agenda Indonesia Emas 2045 — bahwa pendidikan yang merata adalah fondasi paling fundamental dari cita-cita itu.