Bagikan:

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan hasil investigasi terkait insiden keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 16 April 2026.

Laporan akhir investigasi kasus tersebut menemukan tidak adanya cemaran bakteri pada sebagian besar menu makanan yang disajikan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna, namunditemukan cemaran zat kimia nitrit pada item tumis pakcoy di atas batas normal The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).

"Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," ujar Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, dilansir ANTARA, Senin, 11 Mei.

Namun demikian, dalam hasil investigasi tersebut disebutkan mayoritas sampel makanan dinyatakan aman dari kontaminasi bakteri.

Berdasarkan hasil tes dari Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat, menu tanggal 13, 14, 15, 17, dan 18 April 2026 terbukti negatif Salmonella sp, S. aureus, E.Coli, dan B.cereus.

Arie menjelaskan secara alamiah, sebagian buah dan sayuran memang dapat mengandung nitrit dengan kadar yang dapat meningkat akibat aktivitas bakteri yang mengubah nitrat menjadi nitrit.

"Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan, atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian," ujar dia.

Sebagai tindak lanjut, tim investigasi meminta Kedeputian Sistem dan Tata Kelola serta Pemantauan dan Pengawasan BGN untuk melakukan pertemuan serius dengan Kementerian Pertanian guna membahas kasus ini secara menyeluruh.

"Temuan nitrit dinilai sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan," ucap Arie.

Ia menegaskannitrit dapat memicu kondisimethaemoglobinemia, yakni kondisi ketika kemampuan hemoglobin dalam darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menurun.

"Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen," tuturnya.

Kasus ini sebelumnya menjadi sorotan setelah sejumlah siswa dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatansetelahmengonsumsi makanan dari program MBG.

Pemerintah daerah bersama instansi kesehatan kemudian melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan serta evaluasi proses distribusi dan pengolahan makanan.