JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (y-on-y) DKI Jakarta pada April 2026 sebesar 2,12 persen. Kemudian, dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,12 persen.
Angka ini menunjukkan laju kenaikan harga masih relatif terkendali, bahkan sedikit lebih rendah dibanding April 2025. Pada April 2025 tercatat tingkat inflasi y-on-y sebesar 2,21 persen dan tingkat inflasi y-to-d sebesar 1,62 persen.
Kepala BPS Provinsi DKI Jakarta Kadarmanto mengatakan, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK).
"Pada April 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,12 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 107,40 pada April 2025 menjadi 109,68 pada April 2026," kata Kadarmanto dalam keterangannya, Selasa, 5 Mei.
Secara bulanan, inflasi Jakarta juga melandai. BPS mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,21 persen, jauh lebih rendah dibanding April tahun lalu.
"Ditinjau secara m-to-m, pada April 2026 DKI Jakarta mengalami inflasi sebesar 0,21 persen, lebih rendah dibandingkan April 2025 yang mencatat inflasi sebesar 1,44 persen," ujar dia.
Tekanan inflasi tahunan datang dari kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat kenaikan paling tinggi, diikuti makanan, minuman, dan tembakau, serta pendidikan.
BACA JUGA:
Sejumlah komoditas tercatat menjadi penyumbang utama inflasi, di antaranya emas perhiasan, daging ayam ras, angkutan udara, beras, minyak goreng, hingga tarif ojek online dan biaya pendidikan.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Bawang merah, bawang putih, cabai merah, hingga cabai rawit mengalami penurunan harga secara tahunan.
Untuk inflasi bulanan, kenaikan harga dipicu oleh tarif angkutan udara, beras, minyak goreng, dan bensin. Selain itu, komoditas seperti makanan jadi, laptop, hingga perlengkapan rumah tangga juga ikut menyumbang inflasi.
"Sementara secara m-to-m, terjadi inflasi sebesar 0,21 persen dengan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain angkutan udara, beras, dan minyak goreng," jelas Kadarmanto.
Namun, tekanan tersebut tertahan oleh turunnya harga sejumlah bahan pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai, hingga sayuran.
BPS juga mencatat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 0,82 persen, disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,45 persen serta transportasi 0,22 persen.