JAKARTA - Temuan baru dari kompleks pemakaman kuno di Korea Selatan membuka dugaan adanya kelompok sosial yang disiapkan untuk dikorbankan dalam ritual kematian pada era Kerajaan Silla. Dugaan itu muncul setelah para ilmuwan menganalisis puluhan kerangka manusia dari situs Imdang-Joyeong di Gyeongsan.
Disadur dari The Independent, Minggu, 12 April, studi yang terbit di jurnal Science Advances itu meneliti data genom dari 78 jasad manusia yang ditemukan di 44 makam. Dari jumlah itu, sedikitnya 20 makam menunjukkan jejak sunjang, yakni praktik ketika seseorang dikorbankan lalu dikuburkan bersama orang yang meninggal.
Para peneliti menemukan setidaknya tiga kasus ketika orang-orang yang punya hubungan keluarga dekat dimakamkan dalam makam yang sama, termasuk pasangan orang tua dan anak. Dalam satu makam, peneliti bahkan menemukan kedua orang tua dan anak mereka dikuburkan bersama.
“Temuan genetik kami adalah yang pertama mengonfirmasi praktik sunjang terhadap satu rumah tangga utuh,” tulis para peneliti dalam studi tersebut.
BACA JUGA:
Temuan itu memunculkan pertanyaan baru soal perbudakan, mobilitas sosial, dan kekerasan yang dilembagakan dalam kerajaan kuno di Korea. Jack Davey, Direktur Early Korean Studies Center di Cambridge, mengatakan temuan ini bisa mengubah cara memahami masyarakat Silla.
“Jika benar, keberadaan kelompok yang tampaknya merupakan kasta kurban di wilayah ini, di luar pusat Silla, punya implikasi besar terhadap cara kita memahami masyarakat Silla,” kata Davey kepada Live Science seperti dikutip dari laporan The Independent.
Kompleks pemakaman itu pertama kali ditemukan pada 1982. Situs tersebut diperkirakan dibangun antara abad ke-4 hingga ke-6 dan diduga menjadi area pemakaman keluarga penguasa lokal. Di lokasi itu terdapat lebih dari 1.600 makam dan sisa-sisa hampir 260 individu.
Selama ini, hubungan kekerabatan antarmereka, cara pemakaman dijalankan, dan susunan sosial pada masa itu belum benar-benar jelas. Studi terbaru ini memberi gambaran baru.
Peneliti menilai orang-orang yang dipilih untuk ritual sunjang kemungkinan mewarisi peran itu dari generasi ke generasi. Dugaan tersebut muncul karena ada hubungan genetik di antara individu-individu yang dikorbankan dalam lintas generasi.
Lima individu yang dimakamkan, baik dari kalangan elite maupun non-elite, juga diketahui memiliki orang tua yang berkerabat dekat. Temuan ini menunjukkan bahwa perkawinan antarkerabat dekat terjadi di kalangan elite Silla, dan juga pada orang-orang yang diduga dijadikan kurban.
Berdasarkan bukti yang ada, peneliti menduga mungkin ada “kasta kurban” di wilayah itu, di luar lingkar politik inti Silla, yang perannya diwariskan untuk dikuburkan bersama bangsawan yang meninggal.
Para ilmuwan memperkirakan mereka yang dikorbankan itu adalah pelayan, pengikut, atau orang-orang yang bergantung pada bangsawan. Hal ini mencerminkan keyakinan bahwa orang mati masih membutuhkan pendamping di alam baka.
Secara keseluruhan, studi ini memberi bukti ilmiah berskala besar pertama tentang struktur sosial dan adat pada masa Kerajaan Silla, yang berlangsung dari 57 SM hingga 935 M. Temuan itu juga menunjukkan bahwa struktur kekerabatan di wilayah tersebut berbeda dari pola yang selama ini banyak ditemukan di Eropa kuno.