Bagikan:

JAKARTA – Momentum silaturahmi Anies Baswedan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dinilai sebagai sinyal awal konsolidasi dan penjajakan menuju pemilihan presiden 2029 di tengah munculnya wacana Pramono Anung sebagai calon wakil presiden alternatif bagi Prabowo Subianto.

Direktur eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengungkapkan, pertemuan Anies, SBY dan AHY tidak bisa dilihat sebagai pertemuan biasa. Sebab, hubungan lama ketiga tokoh itu akan membuka ruang komunikasi politik yang sarat makna di antara elite.

“Pertemuan ini tidak bisa dilihat hanya sebagai silaturahmi biasa. Ada upaya memancing kemungkinan agar duet Anies–AHY tetap menjadi opsi yang hidup,” ujarnya, Minggu 5 April.

Menurut Arifki, kedekatan Anies dengan Partai Demokrat memiliki jejak panjang. Salah satunya terlihat saat Anies mengikuti Konvensi Capres Partai Demokrat 2014 yang digagas pada era kepemimpinan SBY. Selain itu, pada Pilpres 2024, pasangan Anies–AHY sempat menjadi skenario utama sebelum akhirnya batal pada tahap akhir.

“Fakta ini memperkuat bahwa keduanya memiliki basis komunikasi politik yang telah terbangun. Artinya, hubungan Anies dengan Demokrat bukan hal baru. Sudah ada irisan sejarah politik sejak 2014,” sambungnya.

Arifki mengatakan, peluang duet tersebut akan sangat bergantung pada dinamika politik ke depan, terutama terkait posisi AHY dalam pemerintahan Prabowo Subianto.

Apabila Partai Demokrat tidak mendapatkan ruang yang cukup di pemerintahan, maka kemungkinan membangun poros baru bersama Anies bisa kembali terbuka menjelang Pilpres 2029.

“Situasi ini juga bisa dibaca sebagai sinyal. Di tengah cairnya komunikasi politik Prabowo dengan berbagai tokoh seperti Megawati dan Jokowi, AHY tampaknya ingin menyiapkan opsi politik. Anies bisa menjadi salah satu ‘payung’, begitu pula AHY bagi Anies agar peluang politiknya tetap hidup menuju 2029,” terangnya.

Meski demikian, tantangan terbesar duet tersebut terletak pada ambisi politik masing-masing tokoh.

Baik Anies maupun AHY sama-sama memiliki posisi tawar sebagai calon presiden.

Hal ini yang harus dicarikan titik temu, meski dalam politik, kompromi selalu mungkin terjadi jika kepentingannya bertemu.

Arifki menambahkan, pertemuan yang berlangsung di kediaman SBY memiliki makna simbolik.

Pasalnya, Puri Cikeas kerap menjadi ruang penting dalam pengambilan arah politik Partai Demokrat.

“Jika pertemuan ini berlangsung hangat, artinya komunikasi politik tidak hanya terbuka, tetapi juga mendapat ruang yang serius. Memang belum merupakan keputusan politik, tapi cukup kuat untuk dibaca sebagai langkah awal dalam kemungkinan duet Anies–AHY kembali muncul pada Pilpres 2029,” imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif ABC Riset & Consulting, Erizal, menilai bila Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bisa menjadi calon wakil presiden (cawapres) alternatif bagi Prabowo Subianto di pemilihan presiden (pilpres) 2029.

Menurutnya, figur Pramono bisa dipertimbangkan Prabowo jika Ketua Umum Partai Gerindra tersebut tidak memilih berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka atau Agus Harimurti Yudhoyono di 2029.