JAKARTA - Mayoritas publik Indonesia disebut tidak setuju dengan keputusna Presiden Prabowo Subianto yang membawa Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza yang dipimpin Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Hal itu terungkap dalam survei opini publik bertajuk “Legitimasi Publik atas Perang AS-Israel dengan Iran” yang dilakukan Indikator Politik Indonesia (IPI), Lembaga Survei Indonesia (LSI), dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).
Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menyebut dukungan publik terhadap kebijakan tersebut relatif rendah dibandingkan tingkat penolakannya.
Dalam presentasinya, Burhanuddin Muhtadi menunjukkan hanya 26 persen warga yang setuju atau sangat setuju dengan keputusan Indonesia bergabung dengan BoP tersebut, 17,2 persen menyatakan antara setuju dan tidak setuju, sementara 5,7 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
"Ada 17 persen yang betul-betul indifferent. tetapi mayoritas menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju Indonesia menjadi bagian dari BOP," kata Burhanudin dalam pemaparan survei yang dikutip pada Jumat, 3 April.
Sementara itu, terkait rencana pengiriman 8000 tentara Indonesia ke Gaza sebagai wujud dukungan terhadap Board of Peace, tren penolakan masih mendominasi meskipun angkanya sedikit lebih rendah dibandingkan isu pertama.
Sebanyak 44,9 persen warga menyatakan ketidaksetujuannya, dengan rincian 36,0 persen tidak setuju dan 8,9 persen sangat tidak setuju. Meskipun demikian, dukungan terhadap pengiriman pasukan ini meningkat menjadi 33,8 persen, yang berasal dari 28,1 persen warga yang setuju dan 5,7 persen yang sangat setuju.
BACA JUGA:
Responden yang menyatakan ragu-ragu atau berada di posisi tengah tercatat sebesar 16,2 persen, dan sebanyak 5,1 persen warga memilih untuk tidak bersikap.
"Ketika kita tanya kepada responden kita yang terpilih secara random, yang menyatakan setuju kebijakan pemerintah tersebut kurang lebih sekitar 33-34 persen. sebagian besar menyatakan tidak setuju. Meskipun ketidaksetujuannya tidak mencapai 50 persen plus, tapi masih lebih banyak yang menyatakan tidak setuju ketimbang setuju," urai Burhanuddin.
Sebagai informasi, survei dilakukan 12-31 Maret 2026. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 1.066. Jumlah ini cukup stabil dalam dua kali margin of error (6 pesen). Survei ini melibatkan 1.066 responden dan diklaim memiliki margin of error sekitar 6 persen.
Survei ini menyasar warga negara Indonesia dewasa berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah, yang memiliki telepon seluler, atau sekitar 80 persen dari populasi Indonesia.