JAKARTA - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menyerukan tindakan mendesak dari negara-negara di kawasan untuk mencegah AS dan Israel menggunakan wilayah dan fasilitas mereka untuk melakukan serangan militer terhadap Iran.
Baghaei menyebut pernyataan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, pada pertemuan konsultatif darurat di Riyadh sebagai "tidak adil, sepihak, dan tidak konsisten dengan pendekatan yang bertanggung jawab terhadap perkembangan regional."
Dia mengatakan "tidak ada pihak yang dapat mengabaikan fakta yang jelas akar penyebab krisis saat ini di kawasan ini adalah perang yang dipaksakan oleh AS dan rezim Israel."
Dilansir ANTARA dari Anadolu, Baghaei menyebut kedua negara tersebut "menggunakan pangkalan dan fasilitas militer di negara-negara regional untuk merencanakan, melaksanakan, dan mendukung tindakan agresif mereka terhadap Iran."
Baghaei menekankan "hak yang melekat pada Iran untuk membela diri terhadap agresi militer AS dan Israel," mencatat berdasarkan hukum internasional dan Piagam PBB, "tidak ada negara yang diizinkan untuk membiarkan wilayah atau fasilitasnya digunakan oleh pihak ketiga untuk melakukan agresi militer terhadap negara lain."
Merujuk pada "bukti kredibel" tentang penggunaan berkelanjutan pangkalan regional untuk serangan, dia mengatakan negara-negara yang menampung fasilitas militer AS memikul tanggung jawab internasional.
Baghaei memperingatkan "mereka yang membantu atau berpartisipasi dalam agresi militer AS dan Israel terhadap Iran akan dianggap sebagai kaki tangan dalam kejahatan yang dilakukan."
BACA JUGA:
Dia juga menegaskan kembali komitmen Iran terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip "hubungan bertetangga yang baik dan penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah."
Baghaei menyatakan harapan negara-negara regional akan bertindak "secara rasional dan bertanggung jawab" untuk mencegah penggunaan wilayah mereka dan menghindari perpecahan regional lebih lanjut.
Eskalasi di kawasan terus berkobar sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menewaskan sekitar 1.300 orang hingga saat ini, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran telah membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.