Bagikan:

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto menegaskan kekuasaan harus dipakai untuk membela kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bukan membiarkan korupsi serta penyelewengan merusak negara.

Di hadapan para ulama, tokoh Islam, anggota Kabinet Merah Putih dan undangan pada peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah yang digelar di Istana Negara, Selasa, 10 Maret, Prabowo juga mengingatkan Indonesia tidak boleh kalah dari pihak-pihak yang mengambil kekayaan rakyat dan membawanya ke luar negeri.

Ia mengatakan kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah untuk membela kebenaran, kejujuran, dan kesejahteraan rakyat.

“Kekuasaan itu diberi sebagai penugasan untuk membela kebenaran, keadilan, dan kejujuran,” kata Prabowo.

Di tengah situasi global yang ia gambarkan penuh ketidakpastian dan bahaya, Prabowo menegaskan Indonesia akan tetap memilih jalan damai. Pemerintah bertekad menjaga hubungan baik dengan semua negara dan tidak mencampuri urusan dalam negeri bangsa lain.

Namun bagi Prabowo, perdamaian tidak cukup dijaga lewat doa semata. Perdamaian harus dibangun dengan kerja keras, kesejahteraan, dan keadilan yang nyata.

Presiden lalu menyorot persoalan di dalam negeri. Menurut Prabowo, Indonesia memiliki kekayaan besar, sehingga tidak boleh ada rakyat yang hidup dalam kemiskinan, kelaparan, atau terlantar. Karena itu, ia meminta para pemimpin bekerja serius dan bersih.

Prabowo juga menegaskan pemberantasan korupsi menjadi syarat dasar jika Indonesia ingin maju. “Tidak ada negara yang berhasil manakala pemerintahnya tidak mampu membersihkan diri dari korupsi,” ujarnya.

Presiden bahkan menyinggung pihak-pihak yang mengambil kekayaan rakyat dan membawanya ke luar negeri. Terhadap kelompok semacam itu, Prabowo menegaskan sikapnya tegas.

“Kita akan berantas mereka, kita akan hadapi mereka, dan kita akan tegakkan kebenaran dan keadilan,” kata Prabowo.