Bagikan:

JAKARTA - Antrean panjang terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Filipina pada Senin 9 Maret menjelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di negara itu imbas perang AS-Israel melawan Iran.

Pantauan AFP di sebuah SPBU di Metro Manila, warga berlomba mengisi tanki kendaraan mulai dari sepeda motor, taksi, dan mobil pribadi mengantre di bawah terik matahari.

Petugas SPBU, Enrico Guda, 31 tahun, mengatakan jumlah kendaraan yang biasanya dilayani SPBU tersebut dalam sehari telah berlipat ganda menjadi sekitar 1.000 kendaraan karena pelanggan ingin mengisi bahan bakar sebelum harga naik.

“Antrean sudah dimulai 24 jam yang lalu. Pagi, siang, bahkan saat subuh,” katanya.

Menteri Energi Filipina Sharon Garin telah mengumumkan kepada komite kongres pada Senin, bahwa harga BBM akan naik antara 17 dan 24 peso (29 hingga 40 sen AS) per liter pekan ini.

Kenaikan BBM di Filipina, kata dia, karena harga minyak melonjak akibat kekhawatiran tentang pasokan dari Timur Tengah. Namun, kenaikan terkait produk BBM apa saja tidak dirinci lebih jauh.

“Beberapa perusahaan telah menawarkan untuk tidak memberlakukan kenaikan dalam satu hari. Kenaikan tersebut bertahap selama tiga atau lima hari, tergantung pada perusahaan,” jelas Garin dalam sebuah wawancara televisi.

“Kita harus ingat bahwa ini bukan harga yang diatur. Mereka hanya perlu memberi tahu kita berapa kenaikannya dan membenarkannya,” sambungnya.