JAKARTA - Komandan tertinggi militer Amerika Serikat di Timur Tengah mengatakan progres serangan terhadap Iran lebih cepat dari jadwal, saat Israel dan AS menargetkan lokasi-lokasi di pedalaman negara itu, dan Iran melakukan serangan di sekitar Teluk.
Komandan Komando Pusat AS (US CENTCOM) yang memimpin pasukan AS di Timur Tengah Laksamana Brad Cooper mengatakan, 24 jam pertama pembombardiran Iran dalam 'Operation Epic Fury' "hampir dua kali lipat skalanya" dibandingkan 24 jam pertama kampanye "Shock and Awe" yang membuka Perang Irak pada tahun 2003.
"Kita melihat bahwa kemampuan Iran untuk menyerang kita, dan mitra kita, menurun, sementara kekuatan tempur kita, di sisi lain, meningkat," kata Laksamana Cooper, melansir Al Arabiya dari Reuters (4/3).
"Penilaian operasional saya secara keseluruhan adalah, kita berada di depan rencana permainan kita," tandasnya.
Lebih jauh Laksamana Cooper mengatakan, pertahanan udara Iran telah sangat terdegradasi, angkatan lautnya tidak memiliki kapal operasional di jalur perairan utama setelah 17 kapal tenggelam, dan lebih dari 2.000 target Iran telah dihantam.
Sekitar 50.000 pasukan AS ikut serta dalam operasi tersebut, dan "lebih banyak kemampuan" sedang dalam perjalanan, katanya.
Diketahui, AS dan Israel menggelar "Operation Epic Fury" versi Washington atau "Operation Roaring Lion" versi Tel Aviv pada Hari Sabtu, dikutip dari ABC.
Serangan itu menyebabkan ratusan korban tewas di Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat senior Tehran.
BACA JUGA:
Sebuah sumber yang mengetahui rencana perang Israel mengatakan kepada Reuters, kampanye tersebut direncanakan berlangsung selama dua minggu dan berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan, dengan keberhasilan awal dalam membunuh para pemimpin Iran - termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan pembuka pada Hari Sabtu.
Perang yang telah berlangsung selama lima hari ini terus mengguncang pasar global, karena industri penerbangan dan pariwisata berupaya mengatasi lebih dari 20.000 pembatalan penerbangan dan pemerintah bergegas memulangkan para pelancong yang terjebak di Timur Tengah.
Sedangkan Presiden Donald Trump mengatakan pada Hari Senin, proyeksi awal AS adalah operasi tersebut akan berlangsung selama empat hingga lima minggu.